
Berbeda dengan Lolita dan Novan yang saat ini dirundung masalah, Cassandra dan Yunan dilimpahi kebahagiaan. Hadirnya Khalisa mampu mengeratkan hubungan mereka berdua. Mengikat tali yang hampir menguar. Menyatukan dua hati yang terpisahkan.
Gagal ke Jepang, bukan berarti mereka haus akan hiburan. Hampir sepekan Yunan mengajak Cassandra dan putri kecilnya berkeliling ke luar kota menjajaki setiap tempat wisata.
Seperti hari ini, mereka mendatangi sebuah baby zoo atas permintaan Khalisa. Memperkenalkan seluk beluk dan ciri-ciri hewan-hewan pada sang putri serta kehidupanya.
''Yang lehernya panjang itu apa, Bunda?'' Dari dalam mobil Khalisa menunjuk hewan yang tingginya melebihi sebuah pohon di tepi jalan.
''Itu namanya jerapah, Nak.'' Cassandra tidak hanya menyebutkan nama, namun juga memberikan sedikit pelajaran tentang hewan tersebut.
Leher jerapah saja panjangnya hampir mencapai dua meter. Sementara itu, tinggi keseluruhan jerapah sekitar 4,5 hingga 5,7 meter. Jerapah lebih menyukai makanan seperti daun dari pohon akasia, buah-buahan, aprikot liar, bunga, sayuran dan rumput segar. Begitu kira-kira Cassandra menjelaskan.
Yunan tersenyum. Ia juga suka menjadi pendengar setia sang istri yang sangat telaten menjawab semua pertanyaan Khalisa. Bangga mempunyai pendamping hidup yang serba bisa, bahkan sekarang tidak membutuhkan baby sitter lagi. Lila dipindah tugaskan untuk mengurus kucing peliharaan di rumah.
Puas berkeliling ke area taman, Yunan menghentikan mobilnya di sebuah restoran ternama di tempat itu. Menu makanan yang disajikan tidak hanya lokal, namun juga dari manca negara. Bahkan, ada makanan khas beberapa negara yang menjadi menu andalan.
Banyak pengunjung yang memadati restoran itu. Kebanyakan mereka juga satu keluarga seperti Yunan dan Cassandra. Mungkin juga habis dari kebun binatang.
Yunan mendapatkan tempat duduk paling ujung dekat jendela. Ia dan Cassandra langsung duduk tanpa menghiraukan tempat yang sangat ramai dan panas. Bisa saja meminta ruangan privat, namun tak dilakukan karena Khalisa tidak suka tempat yang sepi.
''Mau pesan apa, Sayang?'' tanya Yunan sambil menyebut beberapa makanan khas Indonesia.
''Aku ayam yang ada kepalanya, Ayah. Jangan dipotong-potong,'' pinta Khalisa berseru.
''Aku juga sama seperti Khalisa,'' imbuh Cassandra sambil mengacungkan tangan.
Entah kenapa, istri dan anaknya selalu kompak. Tidak hanya dari segi penampilan namun juga makanan, bahkan hampir semuanya mereka selalu sama.
Mengangkat tangannya memanggil waitress yang melintas. Tak lama, seorang wanita cantik yang berseragam khusus menghampiri Yunan dan mencatat pesanannya. Kemudian kembali ke belakang dengan sedikit curiga.
''Seperti Tuan Yunan, apa aku salah lihat?" Menoleh sejenak untuk memastikan.
Membuka ponsel di saku bajunya dan menyamakan antara gambar yang ada di layar dengan orang yang beberapa detik lalu memesan makanan.
Seketika kedua mata wanita itu melebar sempurna melihat kesamaan antara foto dan orang itu.
Ternyata dia tuan Yunan.
Bergegas ke belakang. Memberitahu teman-temannya yang sibuk bekerja. Juga mendekati manajer dan berbisik tentang keberadaan Yunan di tempat itu.
''Kamu yakin tuan Yunan datang ke sini?'' tanya sang manajer tak percaya.
''Benar, Pak. Beliau duduk di sebelah kiri dekat jendela,'' papar waitress itu serius.
Demi memperjelas semuanya, manajer keluar. Mengedarkan pandangannya, mengabsen setiap tamu yang datang. Matanya berhenti pada sosok pria familiar yang tampak bercanda dengan wanita cantik yang duduk di sampingnya.
Bibir manager itu mengulas senyum. Memerintahkan seluruh pegawainya untuk menyiapkan tempat yang paling nyaman dan juga makanan yang enak-enak. Merapikan penampilannya lalu menghampiri sang tamu.
''Selamat siang, Tuan,'' sapa manager membungkuk sopan.
Dahi Cassandra mengernyit melihat sikap berlebihan manager restoran itu. Menyenggol tangan sang suami meminta penjelasan.
''Kebetulan kami saling kenal, Sayang. Dia memang berlebihan. Sudah sana nanti kamu dimarahin sama bos. Aku dan keluargaku akan makan di sini saja,'' terang Yunan dengan tegas.
Manager itu hanya mengangguk tanpa suara. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Yunan. Kembali ke belakang dan mengambil makanan yang sudah siap lalu menyuguhkan sendiri.
Tentu aksinya ini menjadi pusat perhatian para pengunjung. Pasalnya, tidak mungkin manager turun tangan jika tidak dengan tamu penting. Mereka juga sangat hormat saat menatap Yunan dan keluarganya.
''Setelah ini kita bertemu di ruangan,'' ucap Yunan berbisik.
''Baik, Tuan,'' jawab manager lalu kembali menunggu Yunan di ruangannya.
''Katakan sesuatu, Kak? Apa hubungan Kakak dengan orang tadi, aku yakin ada yang kalian sembunyikan dariku.'' Cassandra bukan orang bodoh yang bisa dikelabui dengan mudah. Ia sangat cerdas dan mampu membaca dari wajah keduanya yang sedikit aneh.
''Kamu makan saja dulu, nanti aku ceritakan.'' Yunan menyuapi istri dan anaknya bergantian. Sebenarnya pertanyaan Cassandra mudah saja ia jawab, namun enggan untuk membahasnya. Lagipula menurut Yunan itu tak begitu penting.
Sekecil apa pun yang Yunan lakukan, itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Cassandra dan Khalisa. Mereka merasa menjadi ratu yang selalu diistimewakan. Tidak lagi kekurangan kasih sayang dari pria itu.
Setelah selesai makan, Yunan menggiring Cassandra menuju sebuah ruangan tertutup. Di sana tidak hanya ada manager, tapi juga beberapa orang yang menyambut dengan sopan.
Menyuruh Yunan dan Cassandra duduk di tempat yang disediakan.
''Maaf, Tuan. Waitress kami tidak sepenuhnya mengenal, Anda. Dia anak baru,'' papar salah satu di antara empat orang yang berdiri.
''Gak pa-pa. Saya lebih suka seperti itu. Istri saya juga tidak terlalu nyaman jika diperlakukan berbeda. Lagipula itu tidak terlalu penting bagi saya,'' ujar Yunan serius.
''Ini laporan perkembangan restoran sebulan terakhir ini.'' Salah satu dari mereka menyerahkan map pada Yunan.
Dari arah pembicaraan itu, Cassandra mulai paham, ternyata tempat itu adalah milik Yunan. Ia kembali mengingat nama restoran yang terpampang di di depan.
Restoran Abi Sasa. Mungkinkah itu nama dari aku dia dan juga Khalisa, so sweet banget.
Jika seandainya benar dugaannya, Cassandra sangat terharu sekaligus bahagia. Sebab, tidak hanya tempat ini bahkan beberapa tempat usaha milik Yunan di beri nama mereka bertiga.
''Kerja kalian sangat bagus, bulan ini saya akan memberikan bonus. Ditunggu saja. Baiklah kalau begitu saya pergi dulu.'' Menyerahkan map itu lagi lalu pergi meninggalkan tempat itu setelah membayar semua makanannya.
Sebenarnya restoran ini milik siapa? Jika milik kak Yunan, kenapa dia harus bayar?
Cassandra menggaruk kepalanya yang tertutup hijab berwarna abu-abu. Bingung dengan sikap Yunan. Setibanya di mobil, ia langsung menanyakan yang menjanggal dalam hati tentang tempat itu.
''Jawab yang jujur! Sebenarnya apa hubungan Kakak dengan tempat ini?'' tanya Cassandra serius.
Bibir Yunan melengkung berbentuk senyum. Mengusap lembut pipi Cassandra yang sangat menggemaskan. Menutup mata Khalisa lalu mencium bibir sang istri dengan lembut.
''Awalnya restoran ini memang milikku, tapi sekarang menjadi milikmu dan Khalisa. Kalian yang berhak atas tempat itu.'' Menyungutkan kepalanya ke arah bangunan kokoh di depannya.
Belum sempat berbicara lagi, tiba-tiba Yunan dikejutkan Cassandra yang tampak membekap bibirnya.