
Setelah punggung Novan menghilang di balik pintu lift, Lolita masuk menghampiri resepsionis yang bertugas. Ia membuka topi dan kacamatanya dan tersenyum. Awalnya ragu untuk bertanya, namun ia sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan suaminya di hotel itu.
"Saya mau bertemu dengan tamu yang baru saja masuk." Menunjuk pintu lift.
Wanita cantik itu mengerutkan kedua aslinya seperti mengingat-ingat sesuatu. Tentu saja, sebab ada beberapa orang yang masuk bersama Novan tadi.
"Namanya Novan." Lolita menjelaskan sebelum resepsionis itu bertanya lagi.
"O, pak Novan. Beliau ada temu janji di sweet room nomor sepuluh, Bu," jawab resepsionis tanpa melihat buku daftar ia sudah yakin dengan ucapannya.
Ternyata benar dia memang memesan sweet room untuk perempuan simpanannya yang bernama Fany.
Berjalan meninggalkan resepsionis. Menekan tombol lift lalu masuk setelah terbuka. Pikirannya melayang ke mana-mana membayangkan jika ia kembali menyaksikan kemesraan Novan dan wanita lain. Pastinya akan lebih hancur berkeping-keping.
"Aku tidak boleh lemah. Apa pun yang terjadi. Aku harus lebih tegar." Menguatkan dirinya sendiri.
Pintu lift terbuka. Lolita melangkah lenggang menyusuri koridor hotel. Seolah baik-baik saja. Mengusir gejolak yang bersemayam di dada. Berusaha untuk bisa menerima dan melepas Novan tanpa beban.
"Sweet room nomor sepuluh. Berarti ini."
Melihat nomor yang tertera di pintu menghentikan langkahnya. Yakin tempat yang dimaksud resepsionis tadi adalah ruangan di depannya. Menarik napas dalam-dalam. Siap menghadapi apa pun yang ada di hadapannya nanti.
Tanpa menunggu waktu, Lolita mengetuk pintu dengan pelan. Menoleh ke arah kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun di sana kecuali satu cleaning service yang kini sudah turun.
Tiga kali ketukan, pintu dibuka dari dalam. Seperti dugaan Lolita, Novanlah yang ada di sana. Entah baru berapa menit pria itu masuk, sekarang ia sudah telanjang dada. Wajahnya mendadak panik, melihat kedatangan sang istri.
"Ka-kamu ngapain di sini?" ucapnya gagap.
Lolita tersenyum miring. Kini, ia tak perlu lagi menangis ataupun merasa disakiti seperti dulu.
Juga tidak akan mempertahankan pernikahannya. Baginya, Novan bukanlah pria spesial di hatinya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Ngapain kamu di kamar ini, dan dengan siapa?" pekik Lolita penuh amarah. Jika memang Novan tidak rela meninggalkan selingkuhannya, seharusnya tidak memintanya untuk kembali, begitu pikirnya.
"Aku kerja, Sayang." Keluar dan menutup pintu. Menggiring Lolita agak menjauh seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu.
"Kerja apa? Apa di ruangan sweet room sangat panas sampai kamu buka baju seperti ini?" Memindai tubuh kurus Novan. Menatap sinis pria tersebut. Hatinya tersayat melihat sang suami.
Kepala Novan tertunduk menghindari tatapan tajam Lolita. Ia tak bisa menjawab pertanyaan sang istri. Lebih baik diam daripada salah langkah dan berujung perdebatan.
"Aku akan buktikan siapa yang ada di dalam." Membalikkan tubuh dan kembali ke kamar yang ditempati Novan.
Membukanya dengan kasar. Mengedarkan pandangannya, menyusuri ruangan yang begitu indah dan menakjubkan. Tidak ada wanita di tempat itu. Pandangannya teralihkan pada dekorasi yang persis seperti kamar pengantin baru.
Suara orang mengunci pintu terdengar di telinga Lolita. Ia segera menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya melihat Novan tersenyum nyengir sambil melipat kedua tangannya.
"Di mana perempuan itu? Cepat katakan! Aku ingin bertemu dengannya," tanya Lolita dengan suara tinggi.
"Perempuan yang mana? Di sini hanya ada kamu," ucap Novan merendah.
Tak ingin percaya begitu saja, Lolita memeriksa kamar mandi dan berbagai ruang privasi di tempat itu. Setelah tak mendapatkan hasil, ia kembali menghampiri Novan.
"Gak ada, Sayang. Di sini hanya ada kamu dan aku." Novan masih mode bercanda. Suka sekali menggoda sang istri yang tersulut emosi.
"Gak percaya. Aku yakin kamu menyembunyikan perempuan lain di kamar ini." Menepis tangan Novan yang hampir menyentuhnya.
Jujur atau bohong sama saja, pasti dia gak percaya.
Sebenarnya Novan sudah kehabisan cara membujuk Lolita, namun ia terus berusaha meyakinkan wanita tersebut. Berharap perjuangannya membuahkan hasil. Pernikahannya bisa diselamatkan.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya padaku?" ucap Novan serius.
"Terserah, itu tugas kamu." Memalingkan pandangannya ke arah lain. Enggan menatap wajah Novan yang tampak menggodanya.
Dalam sekali kedip, Novan sudah memeluk Lolita. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya saat sang istri mencoba memberontak.
"Aku tahu kamu mendengar semua percakapanki dengan Fan. Tadi kamu menguping, kan?" tanyanya bercanda.
"Enggak. Aku gak peduli dengan siapa yang kamu telepon dan dengan siapa kamu bertemu. Itu hak kamu. Asalkan jangan ikut campur urusanku," ucap Lolita ketus.
Tidak peduli, tapi mengikutiku sampai Singapura, dasar perempuan, maunya benar sendiri. Novan hanya mengucap dalam hati. Jika itu dikatakan pasti akan membuatnya serba salah.
"Iya, aku tahu. Istri memang maha benar." Melepas pelukannya.
"Percayalah, aku tidak akan mengulangi kesalahanku." Untuk yang kesekian kali Novan meyakinkan hati Lolita.
Melihat keseriusan terus menerus membuat hari Lolita luluh, ia mendongak. Menatap dalam manik mata Novan yang tampak sendu. Hanya ada kejujuran di sana.
"Baiklah, aku menerimamu lagi. Tapi ingat, sekali lagi kamu melakukan kesalahan. Kita akan bercerai.'' Mengeluarkan sebuah kertas dan juga pulpen memberikannya pada Novan. Meminta pria itu membaca dan memaksa tangannya.
''Jangan banyak tanya. Kalau kamu setuju tanda tangan. Kalau tidak langsung kembalikan.'' Lolita memberi peringatan dengan tegas.
Tanpa membaca, Novan langsung menandatanganinya dan memberikannya lagi pada sang pemilik.
Yakin surat itu memang yang terbaik bagi hubungan mereka. Tidak mungkin Lolita menyulitkannya.
"Aku sudah menuruti permintaanku, sekarang gantian." Mengedipkan satu matanya. Kemudian duduk di tepi ranjang. Menepuk tempat kosong di sampingnya. Memberi kode pada sang istri untuk segera menyusul.
Dengan wajah malu-malu, Lolita menyusul dan duduk di samping Novan sedikit menjauh, memberi jarak antara keduanya. Takut Novan melakukan sesuatu yang tak diinginkan.
"Aku ingin tidur denganmu, anggap saja ini sebagai imbalan karena aku sudah tanda tangan surat itu." Menyungutkan kepalanya ke arah kertas yang ada di tangan Lolita.
"Ta-tapi __"
Jari Novan mendarat di bibir Lolita menghentikan ucapan wanita itu. Ia menggeser duduknya dan semakin mendekat. Kemudian mencium pipi sang istri dengan lembut dan lama. berharap wanita itu tahu isi hatinya saat ini.
Tidak ada penolakan yang membuat Novan terus melanjutkan aksinya. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Menghanyutkan keduanya dalam alunan cinta yang bergelora. Gelombang kerinduan terus memenuhi dada. Mereka benar-benar tenggelam dan suasana hening yang menjerumuskan.
Lima belas menit setelahnya, hanya mereka berdua yang tahu.