Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 70. Meminta Sesuatu



Bab. 70


Sementara itu, di dalam kamar Dilla sedang melepas semua aoa yang melekat pada tubuhnya begitu saja di samping ranjang. Tidak ada sikap kewaspadaan yang sangat tinggi atau takut kalau seseorang masuk ke dalam kamarnya.


Yang ada di dalam pikiran Dilla saat ini segera membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih longgar dan bahannya lebih adem. Agar bisa segera istirahat. Berharap setelah bangun nanti kepalanya yang terasa pusing tersebut pun berangsur membaik.


Meninggalkan gaun yang sekarang ini tergeletak begitu tak berharga sama sekali di atas lantai, Dilla berjalan telanjaang kaki menuju ke kamar mandinya. Mengisi bak mandi dengan air hangat, karena itu mampu membuat tubuhnya merasa rileks.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Dilla dengan segera naik lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Baru setelah itu berjalan ke ruang ganti, Dilla memilih baju yang menurutnya sangat nyaman.


Tanpa mengenakan kacamata dalamnya, Dilla memakai daster tanpa lengan dari bahan yang sangat adem dan juga panjangnya hanya sebatas lutut. Sangat nyaman sekali untuk digunakan tidur malam ini.


"Bodo amat sama acara di luar. Yang penting aku mau tidur dulu. Kasihan Dedek, pasti capek di ajak duduk terus dari tadi," ujar Dilla sembari mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.


Di pernikahannya tadi, tidak jarang yang bertanya apakah Dilla sudah hamil? Karena perutnya memang terlihat sedikit menonjol.


Tentu saja wanita itu menjawabnya dengan sangat jujur. Dia tidak mau menutupi keberadaan anaknya. Tanpa tahu jawaban Dilla malah membuat Kendra memutar otak untuk menjelaskan kepada mereka agar tidak berpikir yang aneh-aneh.


Kendra mengatakan kepada para tamu yang hadir, kalau dirinya dan Dilla sudah menikah di luar negeri. Karena di sana hanya dihadiri para saksi dan papanya Dilla saja, maka mereka memutuskan untuk mengadakan ulang acara tersebut secara resmi. Begitulah elak dari pria yang sebentar lagi menjadi seorang ayah.


"Sayang ... apa kamu ada di dalam?" tanya Kendra sembari mengetuk pintu kamar Dilla sebelum membukanya.


Walaupun tidak masalah dirinya membuka langsung, namun Kendra ingin memberi kenyamanan kepada sang istri. Cukup tadi dirinya mengejutkan wanita itu yang hampir saja pingsan dibuatnya.


Tidak mendapat sahutan, Kendra memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ternyata, wanita yang menjadi istrinya itu tengah duduk di tangah ranjang sambil bermain ponsel.


Kendra menghela napas. Pantas saja tidak menyahuti dirinya.


"Sayang ... aku cariin dari tadi loh. Kamu kok nggak bilang kalau masuk ke kamar duluan?" tanya Kendra dengan nada lembut. Sebisa mungkin menekan rasa kesalnya.


Lagi dan lagi, hidup Kendra sepertinya memang tercipta sebagai orang yang harus sangat sabar.


"Iya, tapi kan aku cariin kam—"


"Nggak usah lebai. Sana mandi!" usir Dilla yang masih sibuk dengan ponselnya.


Pria itu menghela napas pasrah. Dari pada mendapat amukan yang lebih dari ini, karena Kendra sendiri sadar kesalahan yang sudah ia buat, pun pria itu tidak protes lagi. Langsung masuk ke kamar mandi dan melakukan ritualnya.


Beberapa menit kemudian Kendra keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi. Karena lupa tidak membawa baju ganti yang masih tertinggal di mobil.


Melihat penampilan Dilla yang begitu menggoda, apalagi dua benda kembar yang menjadi kegemarannya tersebut seolah memanggil dirinya meminta untuk segera di remas, dihisap, dan dipelintir. Ah, kenapa otaknya selalu mengarah ke sana. Padahal ada masalah yang harus segera ia luruskan terlebih dulu dengan sang istri.


"Kamu marah sama aku? Karena langsung ajak nikah tanpa bertanya lebih dulu?" tanya Kendra sembari duduk di pinggir ranjang.


Sedangkan Dilla diam membisu.


"Sayang ...." panggil Kendra seraya meraih tangan Dilla, namun segera di tepis.


Kendra pikir, Dilla akan menolak dan mendiamkan dirinya beberapa hari ke depan. Namun ternyata pikirannya salah. Wanita itu justru sekarang menatap ke arahnya sembari menengadahkan kedua telapak tangannya ke arahnya.


"Mana?" pinta Dilla menatap intens ke arah Kendra.


Kendra pikir, Dilla meminta dirinya untuk segera melepas handuknya dan meminta untuk segera di enak enakin. Tentu saja, dengan senang hati Kendra akan melakukannya.


Namun, yang terjadi padahal sebenarnya sungguh akan membuat pria itu merutuki keteledorannya.