
Lampu mulai menyala terang membuat Novan semakin bersemangat. Setelah tadi mendapatkan ciuman dari sang istri sekarang ia mencoba mengambil hati Aldo. Tahu keluarganya ada di Singapura, ia segera menyusul ke sana dengan alasan bisnis.
''Tumben banget kamu antusias kerja.'' Lolita curiga. Namun ia tetap memasukkan baju-baju Novan ke dalam tas.
Novan tersenyum. Ia berdiri dari duduknya mendekati sang istri. ''Aku melakukan ini untuk kamu dan Aldo. Kalian sudah banyak berkorban untukku, sekarang gantian aku,'' ucapnya serius.
''Ya sudah, kalau begitu sekarang aku juga mau pergi kerja.'' Meletakkan tas yang sudah dipenuhi baju di atas ranjang lalu merapikan bajunya. Namun, pergerakannya tercekat oleh tangan kekar Novan. Pria itu memeluk erat Lolita dari samping.
''Jangan. Aku bisa memenuhi semua kebutuhan kamu.'' Melepas pelukannya dan mengambil dompet yang ada di meja. Kemudian kembali mendekati Lolita dan memberikannya tiga buah kartu.
''Ini semua untukmu. Kamu bisa memakainya untuk apa saja,'' ucap Novan, kemudian memberi tahu nomor pinnya.
''Jangan!'' Lolita mengembalikan benda tipis itu.
Ia tidak ingin merepotkan Novan. Sudah terlalu mandiri dan bisa membiayai hidupnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Novan dengan nada tinggi. Setiap kali Lolita menolak pemberiannya, ia merasa geram dan kesal. Kesal dengan diri sendiri yang memang sudah cacat di mata wanita tersebut.
''Aku sudah bisa kerja, lebih baik kamu simpan saja uangmu. Lagipula aku gak mau sepenuhnya bergantung pada orang lain."
Bisa-bisanya menganggap aku orang lain.
Novan memejamkan matanya. Hatinya sakit bak ditusuk-tusuk seribu jarum. Seolah Lolita memang sengaja memasang bendera perang padanya.
''Baiklah. Aku gak akan memaksa.'' Mengambil benda itu lalu menenteng tas dan keluarga dari kamar tanpa pamit.
''Begitu saja marah,'' cecarnya setelah Novan menghilang dari pintu yang tertutup rapat.
Ia bergegas mengambil tas dan juga ikut keluar. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar melihat Novan yang ternyata belum pergi. Pria itu terlihat sibuk berbicara dengan benda pipihnya.
''Siapa dia? Kenapa dia memanggilnya Fan?" Teringat Fany, selingkuhan suaminya.
''Awas saja kalau dia masih berani selingkuh, aku akan menggugat cerai dia.'' Meremas kertas yang ada di tangannya. Lalu melempar dengan asal. Tak sengaja kertas itu mengenai punggung sang suami.
''Aduh,'' keluh Novan terkejut. Mengusap punggungnya lalu menoleh, sedangkan Lolita bergegas bersembunyi di balik pintu. Membungkam bibirnya rapat-rapat, takut Novan melihatnya dan marah-marah.
''Jangan sampai mas Novan tahu.'' Memejamkan matanya.
Senyum mengembang di sudut bibir Novan melihat tangan Lolita. Ia pun hanya mengambil gambarnya tanpa mendekat. Dalam fotonya menyertakan waktu untuk menjadi bukti jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Oh ya, Fan. Kita langsung ketemu di hotel saja, ya. Aku sudah siapin sweet room untuk kamu," ucap Novan dengan suara lantang.
Dada Lolita semakin sesak mendengar percakapan suaminya. Sekali kedip pipinya sudah dibanjiri kristal bening. Tak disangka, orang yang hampir dipercaya justru menghianatinya untuk yang kedua kali.
Kali ini aku tidak akan diam. Aku akan buktikan bahwa kamu benar-benar jahat padaku, dengan begitu aku akan membuatnya menyesal seumur hidup.
Mengepalkan kedua tangannya.
Tidak hanya menguping pembicaraan Novan dengan seseorang yang dipanggil Fan, Lolita juga mengikuti mobil pria tersebut menuju bandara. Beruntung ia sudah siap siaga mengantongi tiket pergi ke Singapura.
Perjalanan yang begitu menegangkan mengantarkan Lolita ke negara yang memberinya banyak kenangan indah, juga sekilas kenangan pahit.
Sekarang tujuannya bukan untuk mengenang masa lalu. Melainkan untuk menentukan masa depan. Memasang matanya dengan tajam. Terus mengikuti mobil yang ditumpangi suaminya.
Ternyata benar, Novan langsung mendarat di sebuah hotel mewah. Pria itu tersenyum pada seorang pria yang menyambut kedatangannya. Kemudian masuk ke dalam.
Sementara Lolita, memasang kaca mata hitam dan memakai topi yang senada lalu mengikuti suaminya. Sekarang juga akan membuktikan apa yang yang dilakukan suaminya.