
Bab. 71
Mendapati Dilla yang meminta duluan kepada dirinya, tentu saja membuat Kendra merasa sangat senang bukan main lagi. Pria itu bergegas merangkak ke atas ranjang dan dengan senang hati akan memberikan apapun yang diminta oleh sang istri.
"Ternyata kamu nggak sabaran sama sekali ya, Honey?" ucap Kendra seraya tersenyum malu-malu.
Dari awal Kendra memang mengetahui kalau Dilla merupakan perempuan yang langsung sat set. Apapun yang ada di kepalanya, pasti langsung di lontarkan tanpa pilih-pilih kata. Sama halnya dengan sekarang ini yang meminta untuk segera di ahemin.
"Hah? Apanya, Mas?" tanya Dilla menatap takut ke arah suaminya. Wanita itu pun bergerak mundur di saat Kendra merangkak maju ke arahnya.
Kendra tersenyum penuh arti. Lalu pria itu memegang tali yang ada di jubah mandinya. Dalam satu tarikan saja, tali itu sudah pasti lepas dan memperlihatkan apa yang ada di dalam sana. Sudah siap siaga kapanpun di gunakan dan di manapun.
"Kamu mau ngapain megang-megang itu, Mas! Ih, jorok ah!" teriak Dilla yang dengan sengaja langsung menendang Kendra hingga pria itu terjerembab ke belakang. Karena merasa takut dengan senyuman dan tatapan Kendra yang begitu mesum. Lebih lagi tangan pria itu yang seolah akan membuka jubah mandinya.
Beruntung ranjang tidur milik Dilla lebar dan panjang, di tambah lagi posisinya yang sudah berada hampir di pinggiran head board. Sehingga tidak sampai membuat Kendra jatuh ke lantai.
"Arghh ...! Sayang ... ini masa depan kamu, loh. Kenapa malah ditendang sih?" rengek Kendra sembari menahan ngilu yang teramat sangat di bagian intinya. Kenapa Dilla memiliki tenaga yang sangat kuat seperti ini.
Sedangkan Dilla sama sekali tidak merasa bersalah. Wanita itu malah menunjuk anunya Kendra seraya melotot ke arah suaminya.
"Di tutupin nggak itunya!" tunjuk Dilla pada pangkal Kendra yang terlihat mengintip di sana. "Aku tambahin nih!" ancam wanita itu.
Lagi dan lagi Kendra memang harus sabar. Membenarkan duduknya sembari mengusap pelan miliknya sendiri dari balik jubah.
"Sabar dulu ya. Jatah kamu sepertinya bukan malam ini," ucap Kendra pada miliknya sendiri. Membuat Dilla menatap geli dengan tingkah absurd suaminya tersebut.
Kendra menatap melas ke arah sang istri.
"Katanya tadi minta, giliran dikabulin malah ditendang. Kamu tega banget sih, Honey," ucap Kendra dengan wajah melasnya. Berpura-pura nasibnya sangat menyedihkan di hadapan Dilla.
Mendengar hal tersebut, sontak Dilla langsung memukul Kendra dengan guling yang ada di dekatnya.
"Ih, mesum banget sih kamu, Mas! Siapa juga yang minta itumu?" balas Dilla dengan nada sedikit kesal dan juga malu.
Kendra membenarkan duduknya. Merangkak naik lagi ke atas ranjang. Namun kali ini bukan untuk menerkam istrinya, melainkan duduk bersila di dekat sang istri.
"Tadi kan kamu bilang 'mana' pas Mas keluar dari kamar mandi sambil tangannya gini," ucap Kendra sembari memperagakan posisi Dilla tadi. "Terus apa coba kalau nggak minta ditidurin? Hmm?" imbuh Kendra dengan sangat jelas. Bahkan tanpa difilter sedikit pun. Begitu terang-terangan. Membuat pipi Dilla memerah seketika.
"Kamu tuh bisa nggak sih, Mas? Kalau bicara itu di filter dikit?" tanya Dilla menatap kesal ke arah Kendra.
Dengan cepat, Kendra menggelengkan kepala.
"Kalau sama kamu, Mas nggak bisa filter-filteran. Maunya langsung sat set jengukin Dedek," ucap Kendra yang lagi-lagi begitu frontal.
Karena kondisinya saat ini sangat sadar dan tanpa terpengaruh apapun, serta ingin berbicara serius dengan suaminya, jujur, baru kali ini Dilla merasa sangat malu sekali.
Maaf, Yuta baru bisa up malam. Soalnya tadi nulis yang judul lain dulu. Oya, Ayang nggak mau baca novel Yuta yang lain, a? Yang di bawah ini juga sama kocaknya kok. Coba baca deh kalau nggak percaya^^