
Kebahagiaan terus datang bertubi-tubi. Setelah beberapa hari yang lalu merayakan pesta ulang tahun Khalisa yang kelima, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Yunan dan Cassandra yang ke-8. Sejak menikah mereka memang tak pernah merayakan hari ulang tahun pernikahan karena hubungan yang memang sangat rumit, namun hari ini mereka menganggap itu adalah hari yang paling penting. Hari yang harus diabadikan seumur hidup.
Awal pernikahan, Cassandra memang sangat membenci Yunan dan menganggapnya menjadikan kesempatan untuk memilikinya, namun sekarang ia merasa sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti pria itu.
Di atas gedung dengan atap langit yang menghitam pekat di hiasi bintang kecil-kecil, Cassandra mengucapkan syukur atas nikmat yang ia terima. Tak henti-hentinya memandang rembulan yang seolah juga menatapnya.
Di tengah-tengah disediakan meja bulat dengan dua kursi yang dihiasi dengan lilin serta makanan spesial. Seperti yang ada di film-film romantis. Ya, malam ini mereka sengaja dinner, seharusnya sih bersama Khalisa. Sayang sekali bocah itu sudah ngantuk dan meminta untuk pulang.
Alhasil, Cassandra dan Yunan harus pergi sendiri layaknya pengantin baru. Meski sudah 8 tahun pernikahan, mereka baru menikmati masa-masa indahnya pengantin baru. Tak ayal jika banyak yang menganggap mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu.
Tidak seperti ulang tahun Khalisa yang mengundang banyak orang, kali ini mereka akan merayakannya seorang diri. Hanya meminta doa kepada seluruh keluarga agar pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan.
Malam ini Cassandra tampak cantik dengan balutan gaun berwarna peach, sedangkan Yunan juga memakai kemeja yang senada. Meski bukan jas, namun pria itu sangat tampan. Mereka menikmati indahnya bintang dan bulan dari atas gedung tertinggi.
Ungkapan kata-kata cinta mungkin sudah basi didengar oleh setiap wanita, namun setiap perbuatan sebagai ungkapan cinta seorang laki-laki pasti dinantikan. Seperti halnya Yunan, Ia memang bukan pria yang romantis, bahkan setiap pembicaraannya selalu saja kaku dan tak pintar membuat syair cinta, akan tetapi ia selalu menunjukkan rasa cintanya itu dengan perbuatan.
Mungkin dari dulu memang seperti itu, hanya saja Cassandra enggan menerima. Ia lebih memilih mandiri dan tidak membutuhkan Yunan sama sekali. Padahal setiap hari Yunan memenuhi semua keinginannya. Memasak makanan yang akan dimakan, pun Yunan yang menyediakan.
''Dulu kamu yang selalu masak untukku.'' Cassandra mengingatkan pada masa lalu, di mana Yunan sering memasak untuknya
''Tapi mulai besok, aku yang akan masak untukmu,'' papar Cassandra serius.
Setelah berpikir berulang-ulang kali, akhirnya Cassandra memutuskan akan berhenti bekerja sepenuhnya, dan akan menjadi istri seperti yang diinginkan Yunan.
''Aku nggak pernah memaksa kamu untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, Sayang. Kamu mau kerja pun, aku akan tetap mengizinkan. Tugas seorang istri tidak hanya melayani suaminya, jika memang dia tidak bahagia dengan itu, maka suami tidak berhak melarang. Aku membebaskanmu, kamu boleh memilih jalan hidupmu asal tidak keluar dari Syariat agama,'' tutur Yunan.
Setiap mendengar kalimat yang diucapkan Yunan, mata Cassandra mengembun. Seandainya saja dari awal Ia mau menerima pria itu ,pasti hidupnya tidak akan terlunta-lunta hingga ke Kanada. Namun sayang, semua itu sudah lanjut, menyesal pun percuma, kini ia akan menata masa depan tanpa menoleh ke belakang.
''Kamu mau makan atau kita pulang?'' Entah apa maksud Yunan, namun Cassandra bisa membaca bahwa pria itu mempunyai maksud tertentu dari kata-katanya.
''Jangan bilang kalau __" ucapan Cassandra berhenti saat Yunan menyatukan bibirnya.
''Aku akan selalu menginginkannya lagi dan lagi, aku tidak akan pernah bosan untuk mencumbumu. Kita bisa melakukannya di mana saja, termasuk di hotel ini.''
''Bagaimana dengan Khalisa, aku takut dia mencari kita.'' Merengek dengan bibir maju.
''Ucapan itu bukan alasan yang tepat, Sayang. Khalisa sudah besar, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan dan tidak, aku yakin sekarang dia sudah tidur.'' Meraih tangan Cassandra lalu menggandengnya.
Mereka menuruni anak tangga. Saling bersejajar menyusuri lorong, kemudian menghentikan langkah kakinya di depan sebuah pintu kamar.
Yunan membuka pintunya lalu masuk, diikuti Cassandra dari belakang. Ini bukan malam pertama seperti pengantin baru pada umumnya, namun sudah yang ke sekian kali, akan tetapi kamar itu sangat mewah layaknya yang disajikan untuk pengantin baru.
''Bukan aku yang mendesainnya.'' Yunan mengatakan sebelum Cassandra bertanya.
Tidak terlalu percaya, jika bukan Yunan, Lalu siapa lagi? Begitu pikirnya.
''Hotel ini milikku, Sayang. Bisa saja para pelayan di sini yang membuat ini semua,'' terangnya.
Cassandra tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia sudah terjebak dalam permainan Yunan. Saat ini bahkan seolah ia terperangkap dalam penjara cinta laki-laki yang bernama Yunan Abimanyu.
Pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Mereka berdiri saling bertatap muka dari jarak yang begitu dekat bahkan saling merasakan embusan nafas satu sama lain. Menikmati alunan cinta di tengah dinginnya malam yang menusuk.
Perlahan Yunan menarik hijab yang dikenakan Cassandra. Mencium ubun-ubun wanita itu dengan lembut dan lama, kemudian turun ke kening, hidung, kedua mata lalu beralih ke pipi. Berhenti pada bibir sang istri. Manis, bahkan rasa manis itu mengalahkan gula satu kuintal.
Tanpa disadari, Cassandra sudah berada di atas ranjang. Ia berbaring lemas seolah tak berdaya. Sentuhan demi sentuhan begitu menyiksa dirinya.
Sungguh ini bukan sifat asli Cassandra, namun karena Yunan, ia seperti seorang wanita yang rindu akan belaian. Berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam ini terasa sangat istimewa, bukan hanya tempat yang indah dipenuhi dengan kelopak mawar, akan tetapi cara Yunan memperlakukannya yang lebih lembut dari kemarin. Mungkin pria itu baru mendapatkan inspirasi baru cara bercinta yang memabukkan. Hingga sangat berbeda.
''Belajar dari mana?'' tanya Cassandra di tengah permainannya.
''Dari Mbah Google,'' jawab Yunan jujur.