
Ekstra part. 1.
"Sayang! Jangan naik-naik ke situ! Bahaya!" teriak seorang wanita dengan perut yang tampak besar.
Wanita itu segera berlari menuju ke arah seorang anak kecil yang tengah naik ke sandaran kursi stainless yang ada di taman. Meskipun tidak bisa cepat, namun wanita itu berusaha untuk segera menjangkau putranya. Beruntung, ada seorang pria yang dengan cepat meraih anak kecil itu. Membuat hati wanita hamil tadi merasa lega.
"Jangan naik-naik ke sini, Rio. Papi sudah bilang, kan? Kalau nggak ada Papi, nggak boleh manjat-manjat terlalu tinggi," ucap pria itu sembari mengangkat anaknya.
Sedangkan wanita hamil dengan perut besar tadi tampak terengah ketika sampai di dekat mereka.
"Kamu ke mana saja sih, Mas? Aku agak susah ngikutin anak kamu ini!" keluh wanita itu sambil mengusap perutnya yang besar karena merasa kram.
Pria yang tengah menggendong anak laki-laki yang sangat tampan pun dengan sigap langsung mengusap perut sang istri.
"Maaf, Yaang. Aku barusan ada telepon dari klient. Nggak bisa kuabaikan gitu saja," jawab pria itu. "Kram?" tanya Kendra menatap lembut sang istri.
Dilla mengangguk sembari menyipitkan matanya. Merasakan sakit yang lumayan di bagian perutnya. Cepat-cepat ia mendudukkan dirinya di kursi yang tadi di naiki oleh Rio, Rio Aldinas Rayyansyah, putra pertama mereka.
"Biasalah, Mas. Kalau dibuat lari kan emang gini," ujar Dilla lalu dengan cepat menatap sinis ke arah Kendra ketika pria itu sudah beralih duduk berjongkok di depannya dan mengusap perutnya yang lebih besar dari kehamilan pertamanya. Sedangkan Rio duduk di sampingnya.
Kendra yang sadar akan tatapan sang istri, tampak meringis dan mengecupi punggung tangan Dilla berkali kali. Meluapkan rasa sayang dan cintanya kepada wanita itu.
"Iya, iya ... Yaang. Aku tahu. Ini salahku, kan? Aku yang nggak kasih jeda dulu. Tapi ya mau gimana lagi ya, Yaang? Rasanya selalu bikin nagih, sih!" ucap Kendra sembari mengedipkan mata nakal ke arah Dilla. Senyuman mesum pria itu memang tidak berubah dari tiga tahun yang lalu.
Dilla yang kesal pun langsung melayangkan pukulannya di bahu sang suami.
"Kamu sih, Mas. Aku make KB nggak boleh. Bilangnya aja mau dikeluarin di luar. Tapi nyatanya?" balas Dilla sembari menatap sinis ke arah Kendra.
"Khilaf, Yaang ... khilaf," sahut Kendra cepat sembari terkekeh. Sedangkan tangannya masih setia mengusap lembut di perut Dilla.
"Khilaf kok keterusan!"
"Kalo yang itu namanya keenakan, Yaang." Kendra semakin terkekeh di saat melihat wajah istrinya merona jika membahas kegiatan mereka di atas ranjang seperti ini. Padahal dia duluan yang memulai.
Kendra selalu merasa gemas dengan sikap Dilla yang satu ini. Semenjak menjadi seorang ibu, sikap barbarnya tetap tidak berubah dan semakin manja kepada dirinya.
Ya. Bocah dua tahun itu terpaksa tidur sendiri di kamarnya. Selain melatih keberanian Rio, juga agar Dilla bisa istirahat dengan tenang. Di tambah lagi usia kandungannya yang sekarang ini akan sering mengalami kontraksi palsu. Takut kalau Rio akan terganggu dengan rintihan Dilla di tengah malam.
"Ya udah, Mas. Kita pulang aja. Kasihan Rio udah capek dari tadi main terus," ucap Dilla.
Kendra mengangguk lalu berdiri dan menggendong Rio.
"Tadi ketemu sama cewek cantik nggak, Rio?" tanya Kendra di kala Rio sudah berada di gendongannya.
Mendengar pertanyaan suaminya pada sang putra, membuat Dilla menggelengkan kepala. Bisa-bisanya suaminya itu bertanya hal yang belum Rio pahami. Batinnya.
Namun di luar dugaan. Rio justru mengangguk.
"Temu, Pi. Olangnya antik," jawab Rio.
"Antik?" ulang Kendra yang mendapat gelengan dari Rio.
"Bukan antik, Pi! Tapi antik!" temannya lagi dengan nada marah. Membuat Kendra bingung. Karena perasaannya ia mengucapkan kata yang benar.
Dilla yang berjalan di sampingnya pun tertawa. Menertawakan suaminya yang tidak paham dengan bahasa Rio.
"Maksudnya itu cantik, Mas," ralat Dilla dan mendapat anggukan dari Rio. "Masa kamu nggak ngerti sih, Mas.
"Ya ni, Api. Odoh!" timpal Rio dengan wajah seriusnya.
Seketika membuat Dilla tertawa keras. Sampai-sampai memegang perutnya.ak
Kendra menatap gemas ke arah anak dan istrinya.
"Luarannya aja kayak aku persis sis. Tapi ********** emaknya banget," gumam Kendra.
Gimana gimana Yaang? Lagi nggak ekstranya? Ck! pasti jawabnya ya jelas lagi😒 Oya, Yuta nak nanya nih, enaknya gimana ya? eh, maksudnya ituloh. iya, ituloh Yaang! masa nggak ngerti sih!😌