
Malam ini Khalisa benar-benar berbeda. Lebih manja dan suka merengek, meminta apa pun yang ia lihat di rumah Erlan. Tak sedikit pun menunjukkan sikap mandiri seperti ketika hidup bersamanya saja.
Mungkinkah bocah itu memang masih haus akan kasih sayang, dan kini mencurahkannya kepada seluruh keluarga?
Tidak ada yang tahu apa isi hatinya, namun begitulah pandangan Cassandra sebagai seorang ibu. Yakin, putrinya itu memang ingin diperhatikan semua orang yang ada di sekitarnya.
''Aku minta disuapi oma.''
Seketika Cassandra menghentikan makannya. Mendekati Khalisa yang dari tadi banyak keinginan. Bukan hanya permintaannya, namun juga perlakuan.
''Khalisa gak boleh gitu, Nak? Biasanya makan sendiri,'' tutur Cassandra dengan lembut.
Layin segera datang dan mengambil piring milik Khalisa yang sudah penuh dengan makanan.
''Sudah, Ndra. Gak pa-pa. Kamu makan saja, biar ibu yang nyuapin Khalisa. Lagipula ini sudah menjadi pekerjaan ibu sejak Yunan lahir.'' Layin duduk di samping Khalisa.
Ia lebih suka Khalisa yang manja daripada ngambek seperti tadi. Dengan begitu, mereka akan lebih dekat seperti layaknya pada Akram.
Terpaksa Cassandra kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makannya. Sebenarnya ia merasa sungkan dengan keluarga Yunan, namun Khalisa hanyalah anak kecil yang belum sepenuhnya paham tentang orang dewasa.
''Malam ini Khalisa mau tidur di mana?'' Erlan mencoba membuka suara. Dan itu membuat Cassandra terkejut.
Bagaimana bisa itu dipertanyakan, sedangkan sudah tentu, ia akan mengajak anaknya pulang ke rumah.
''Tidur dengan Opa dan Oma.'' Menundukkan kepala. Takut dengan tatapan Cassandra yang tampak mengintimidasi.
Yunan hanya menahan tawa, takut kena marah istrinya yang terlihat kebingungan.
''Gak bisa gitu, Khalisa. Kita harus pulang, Nak. Tidur dengan opa dan oma kapan-kapan saja ya," ucap Cassandra pelan namun menekan.
Khalisa mengeleng cepat. Beralih duduk di pangkuan Layin dan mencengkeram baju wanita itu. Membenamkan wajahnya di dada sang oma. Semakin menggemaskan.
''Tapi, Yah. Malam ini aku sudah janji dengan ibu akan pulang, pasti sudah ditungguin,'' terang Cassandra.
Yunan terdiam, seolah mendukung putrinya yang ingin menginap di rumah itu. Terbukti dari tadi ia sedikit pun tak membelanya ataupun membujuk Khalisa. Menjengkelkan, bukan?
''Biarkan Khalisa tinggal di sini, Ndra. Kalau kamu dan Yunan mau pulang, pulang saja. Nanti ayah yang akan izin sama bu Margareth,'' jawab Erlan tak mau kalah.
Semua terdiam. Tidak mungkin Cassandra membantah ucapan mertuanya. Itu hanya akan menimbulkan percekcokan yang tidak ada ujungnya, pasti mereka pun tak mau mengalah.
Ini gak boleh dibiarkan. Aku gak mau tidur sekamar dengan kak Yunan.
Entah kenapa, Cassandra masih enggan berada di dalam satu ruangan dengan Yunan. Masih takut pria itu akan berbuat macam-macam padanya. Terlebih mereka belum akur sepenuhnya.
Tidak ada alasan yang meyakinkan untuk membujuk Khalisa. Bocah itu malah sibuk bermain dengan Akram. Apalagi tadi Erlan membelikan banyak mainan yang membuatnya betah.
'''Khalisa yakin gak mau pulang sama bunda dan ayah?'' tanya Cassandra memastikan. Berharap bocah itu menjawab dengan anggukan kepala.
Ternyata ia salah, Khalisa menggeleng dan melambaikan tangannya ke arah Cassandra yang sudah pamit pulang.
''Hati-hati Bunda, Ayah,'' ucapnya mengiringi.
Anak pintar, dia memang the best dan memberikan kesempatan ayahnya supaya bisa merayu bundanya.
Yunan tertawa girang, namun itu hanya sebatas dirasakan dalam hati, takut Cassandra marah-marah.
''Jangan sedih, Khalisa pasti akan baik-baik saja.'' Mengusap punggung Cassandra dengan pelan. Menggiringnya menuju mobil.
Dalam perjalanan menuju rumah keduanya saling diam. Yunan terlihat sibuk dengan setirnya, namun siapa sangka pria itu menyiapkan trik untuk membuka Cassandra luluh.
Memutar otaknya, mencari cara yang tepat membuat istrinya itu mau menerimanya kembali.
''Mau pulang ke rumah ibu atau ke rumah kita?" tanya Yunan mencairkan keheningan.
''Ke rumah ibu,'' jawab Cassandra singkat.
Memikirkan cara untuk menghindari Yunan. Bukan apa-apa, tidak ingin terjebak dan berada satu ruangan dengan pria tersebut seperti tadi pagi.
''Nanti kamu tidur di kamar atas saja, biar aku di bawah,'' ucap Cassandra melanjutkan percakapan.
Namun, ucapan itu seolah hanya hembusan angin di telinga Yunan. Ia tak menghiraukan, bagaimanapun juga mereka harus tidur sekamar dan satu ranjang, saling berpelukan.
''Gak bisa gitu dong, aku gak mau tidur sendirian. Ranjang di kamar kan luas, sayang kalau hanya untuk satu orang.'' Yunan masih mencoba membujuk.
''Terserah kakak saja deh, aku manut, tapi jangan ganggu tidurku ya. Pokoknya aku gak mau ada adegan apa pun selain tidur bersama.'' Cassandra mengucapkan apa yang ditakutkan.
Sungguh, ia belum siap menyerahkan tubuhnya pada pria itu. Terlebih sampai saat ini belum memasang kb, sedangkan pekerjaan menuntutnya untuk tetap langsing.
''Ya, aku tidak akan melakukan lebih. Kita hanya akan tidur bersama,'' jawab Yunan pasrah. Tidak mungkin ia memaksakan kehendak, sedangkan Cassandra terlihat begitu tidak menginginkannya.
Mobil diparkir di bagian samping di dekat mobil milik Cassandra. Mereka turun dan masuk bersamaan. Menyapa Margareth yang duduk santai dengan asisten rumah tangganya.
''Baru pulang, Kalian? Khalisa di mana?'' Margareth celingukan mencari sosok cucunya.
''Dia nginap d rumah ibu, Bu. Gak mau pulang, katanya mau tidur dengan oma dan opanya,'' jawab Cassandra jujur.
Tidak masalah, Margareth tersenyum kecil seolah memang tidak mempermasalahkan tentang itu. Atau, mungkin Erlan memang sudah menelponnya.
''Ya sudah, ini sudah malam, kalian tidur sana,'' suruh Margareth. Kemudian kembali fokus dengan ponsel di tangannya.
Semua orang ini kenapa sih, gak ibu gak ayah mertua, gak ibu mertua mendukung aku tidur dengan kak Yunan, gerutu Cassandra dalam hati.
Sesampainya di kamar, Cassandra membuka lemari dan membantu Yunan meletakkan baju-bajunya yang dibawa tadi. Kebanyakan yang dibawa pria itu adalah jas dan kemeja putih. Serta dua stel piyama. Tidak ada baju santai satu pun.
Apa setiap hari Yunan memang berada di kantor hingga tak memerlukan baju ganti?
Lalu, sesibuk apa pria itu?
''Biasanya Kakak berangkat kerja jam berapa dan pulang jam berapa?" Cassandra mencoba memancing. Ingin tahu tentang pekerjaan suaminya.
''Berangkat jam delapan. Pulangnya jam lima, kalau lembur bisa jam sembilan malam. Kadang juga tidur di kantor,'' jawab Yunan jujur. Belum sadar maksud dari pertanyaan sang istri.
''Memangnya apa kerjaan, Kakak?' Cassandra mulai menyelidik.
''Aku bertugas mengambil berbagai keputusan untuk pembangunan berkelanjutan perusahaan, juga mengelola bisnis perusahaan.''
"CEO?"