
Dua hari Yunan memerintahkan orang untuk datang ke rumah Lolita, namun ia belum mendapatkan kabar apa pun dan itu membuatnya semakin kesal dan Ingin turun tangan sendiri. Pun dengan Cassandra, dari kemarin ia mencoba menghubungi nomor Lolita, tapi tidak aktif seolah ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk bicara.
''Apa nggak sebaiknya kita datang sendiri saja, Kak?'' ucap Cassandra memberi saran.
''Boleh juga, aku akan menitipkan Khalisa di rumah ibu, kita akan pergi ke sana berdua.'' Yunan setuju dengan pendapat Cassandra.
Mereka akan meninggalkan Khalisa demi menemukan titik terang dengan apa yang terjadi kepada Lolita. Sebelum mengantarkan Khalisa, Yunan menghubungi Erlan. Mengatakan tujuannya pergi ke Singapura. Ia juga meminta sang ayah untuk menjaga putrinya dengan baik.
Tentu kepergiannya ini mendapat persetujuan dari seluruh keluarga, demi apa pun mereka ingin yang terbaik untuk semua keluarga Margareth.
''Apa kata ayah?'' Cassandra penasaran pendapat dari ayah Erlan.
''Ayah mengizinkan, dia tidak pernah mempermasalahkan apa yang ingin aku lakukan asalkan di jalan benar.''
''Makasih, Kak.'' Cassandra memeluknya dengan erat.
Ternyata pria itu tidak hanya melindungi dirinya, namun pelindung bagi seluruh keluarga termasuk saat ini yang memang sangat membutuhkan bantuan.
''Kapan kita pergi?'' tanya Cassandra lagi, memastikan.
''Besok kita baru akan pergi, karena hari ini aku ada kerjaan penting yang harus diselesaikan,'' ucap Yunan.
Meski masalah Lolita sangat penting, ia pun tidak bisa mengabaikan tugasnya. Apalagi akhir-akhir ini sering menghabiskan waktunya berdua dengan Cassandra dan sesekali terlambat jika ke kantor, takut semua karyawan akan protes dengan perbuatannya.
Semua persiapan sudah selesai. Cassandra berada di rumah Layin. Ia tidak memberitahu Margareth tentang kepergiannya ke Singapura. Hanya mengatakan pada sang ibu untuk pergi berbisnis dengan suaminya. Ia juga membatalkan pertemuan dengan beberapa klien. Baginya, nasib Lolita lebih penting daripada pekerjaannya, ia bisa mendapatkan pekerjaan di lain waktu. Akan tetapi, tidak akan bisa mendapatkan Lolita untuk yang kedua kali.
''Apa harus bayar penalti?'' tanya Yunan melihat istrinya tampak cemberut setelah menerima telepon.
Cassandra mengangguk pelan, tentu saja ia sudah tahu ini akan terjadi, tapi bagaimana lagi, semua tidak sesuai rencana. Ia pikir kontraknya berjalan mulus dan ia bisa menepati janji kepada perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Namun nyatanya, semua itu gagal karena pertemuan dengan Yunan, tapi ia tidak menyesal karena dengan itu, bisa berkumpul dengan keluarga tercinta dan menata rumah tangganya yang sempat terpecah belah.
''Nggak pa-pa, nanti biar aku yang ngurus. Aku lebih suka kamu membayar penalti daripada bekerja dengan mereka.'' Yunan sangat cemburu melihat Cassandra senyum-senyum di depan pria lain baginya senyuman itu hanya untuk dirinya seorang, tidak ada yang boleh melihat ataupun memilikinya.
Tidak hanya Yunan yang turun tangan, Erlan dan Sastro pun ikut campur dalam masalah ini. Mereka berdua penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakak kandung dari menantunya. Selain orang suruhan Yunan, orang suruhan Erlan pun ikut bertindak dan pergi ke Singapura.
Ponsel berdering mengejutkan Cassandra yang hampir memejamkan mata. Ia bergegas membukanya lagi dan mengambil ponsel yang ada di nakas. Melihat nama yang berkelip.
Betapa terkejutnya, nama Lolita yang muncul di layar kaca. Ia segera menggeser lencana hijau itu tanda menerima, kemudian menempelkan benda pipih itu di telinganya.
Bibirnya kalu, ia tak sanggup untuk menyapa mendengar suara isakan dari seberang sana. ''Tolong aku, Ndra.'' Itu adalah suara Lolita.
Terdengar jelas wanita itu sangat ketakutan. Entah apa yang terjadi, Cassandra pun belum tahu, bahkan saat ini suaranya seperti tercekat di tenggorokan dan tak bisa dikeluarkan.
Akhirnya Cassandra menjawab dengan ucapan, ''Iya, aku dengar suara Kakak. Kakak sedang ada di mana sekarang?'' tanya Cassandra lirih. Ia mencoba mencari seseorang di sekitarnya. Namun nihil, tidak ada siapa pun, Yunan ke kantor. Sementara Erlan dan Layin jalan-jalan dengan khalisa. Kakek ke rumah sakit.
''Aku berada di rumah lama, Ndra. Bukan rumah yang baru tempat kamu datangi.''
Maksud Kakak apa?'' tanya Cassandra lebih memperjelas.
Sebab, selama ini ia tak begitu tahu tentang kehidupan wanita itu saat di Singapura. Menyebut nama jalan rumah yang ia tempati saat ini, sedangkan Cassandra mencatatnya dengan benar-benar. Mereka memutus sambungan. Cassandra bergegas menghubungi Yunan yang sekarang ada di kantor. Berbicara seperti apa yang dikatakan Lolita tadi.
Begitu pun dengan Yunan, ia langsung menghubungi orang suruhannya dan meminta untuk datang ke tempat yang dikatakan oleh Cassandra. Berharap kali ini ada kabar baik yang diterima, namun ia akan tetap pergi ke sana dengan Cassandra dan memastikan sendiri.
Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Kak Lolita, Kasihan dia. Apa kak Malena tahu tentang ini?'' Cassandra pun mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Malena.
Tersambung, berbeda saat dengan Lolita, Malena langsung menjawab.
Meski suaranya masih terlihat ketus, namun mereka bertutur sapa dengan baik layaknya seorang saudara.
''Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Kak Lolita, Kak? Apa Kak Malena tidak tahu masalah yang dihadapi kak Lolita?'' tanya Cassandra ke inti. Tidak ingin berbasa-basi dengan kakaknya yang memang tidak menyukai dirinya.
''Aku nggak tahu, memangnya kenapa?'' tanya Malena ketus.
''Lho, bukannya uang yang dikasih Kak Yunan kemarin buat Kak Malena juga? Apa Kak Malena belum menerimanya dari Kak Lolita?'' tanya Cassandra membahas tentang uang yang diminta oleh saudaranya itu.
''Dia gak datang ke sini. Sudah hampir 2 tahun kami tidak saling menelpon. Memangnya berapa uang yang dikasih suamimu?" tanya Malena mencibir.
''Cuma 20 juta.'' Cassandra mengucap asal.
Terdengar suara tawa mengejek dari seberang sana saat Cassandra mengatakan nominal uang itu. Sudah dipastikan Malena merendahkan uang pemberian Yunan yang terbilang sangat kecil, menurutnya.
''20 juta menurut kamu itu cukup bagi kami berdua? Sudah, jangan ganggu aku. Aku mau shopping.'' telepon ditutup secara sepihak membuat Cassandra kecewa tentu saja ia sudah tidak ingin berhubungan lebih dengan begitu yang terpenting saat ini adalah keluarga barunya keluarga Yunan serta orang-orang baik yang mendukung hubungan mereka berdua tidak untuk bagi Malena yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah mendukungnya.
Di seberang sana, seorang pria tengah membuka kunci pintu sebuah ruangan. Ia tersenyum sinis melihat seorang wanita ketakutan dan memeluk lututnya.
''Sekarang hanya ada dua pilihan, kamu tetap berada di sini, atau meminta uang lagi pada Yunan,'' ucap pria itu dengan tegas.
''Aku nggak akan minta uang pada Yunan. Kalau Mas memang ingin mendapatkan uang yang lebih banyak, minta sendiri. Mulai sekarang aku nggak akan menjadi budakmu lagi,'' ucap seorang wanita tanpa rasa takut.
Mungkin ini saatnya ia bangkit dan tidak akan mengalah lagi dari orang yang sudah menindasnya.