
Bab. 88
Bukan Kendra namanya jika menurut begitu saja. Terlebih lagi Dilla tidak akan bisa tidur jika perutnya tidak ia elus-elus.
Pria itu duduk di depan pintu kamar mereka. Karena jika sewaktu dirinya di panggil dan tidak mendengarnya, sudah jelas akan di salahkan lagi oleh Dilla.
Belum juga ada pukul sembilan malam, terdengar Dilla memanggil namanya.
"Maasss ...!" teriak Dilla dengan suara yang tidak terlalu keras.
Andai saja Kendra berada di ruang tengah, dia tidak akan mendengar suara istrinya itu.
Dengan sigap Kendra berdiri dan langsung membuka pintu kamar mereka.
"Ya, Yaang? Ada apa?" tanya Kendra sembari melangkah mendekat ke arah ranjang.
Di sana Kendra melihat Dilla yang tampak begitu gusar di atas ranjang.
"Ini Dedek mulai lagi, Mas ..." adu Dilla dengan suara yang begitu manja. Tangannya sembari mengusap tidak beraturan perutnya yang terlihat. Sebab bajunya tersingkap ke atas karena pergerakan tanpa dia sadari.
Melihat itu, tentu Kendra tidak tega. Melupakan kekesalan karena diusir dari kamarnya sendiri, lalu segera mendekat ke arah sang istri. Berbaring di sampingnya dengan nyaman lalu menaruh tangannya di atas perut Dilla. Mulai mengusapnya lembut setelah memindahkan kepala Dilla di atas lengannya. Hingga kini berbantalan tangannya.
"Gimana? Apa masih terasa kurang nyaman? Hmm?" tanya Kendra dengan suara yang begitu lembut.
Dilla menoleh ke arah suaminya dengan tatapan begitu kesal. Membuat Kendra mengerutkan keningnya. Salah apa lagi dirinya.
"Ini semua gara-gara kamu, Mas!" sentak Dilla dengan nada tertahan. Karena tidak mau kalau sampai dirinya berteriak, yang ada perutnya akan terasa kram lagi.
Padahal usia kandungannya masih muda. Akan tetapi sepertinya calon anak mereka sangat paham dan mungkin tidak mau kalau Dilla marah-marah sama papinya.
Dilla mendelik. "Kamu yang bikin aku kayak gini, Mas. Marah-marah terus sama kamu. Lagian, ya! Kenapa juga kamu make pacaran segala macam sama si Ella? Kayak nggak ada cewek lain aja!"
Kendra menelan Saliva nya dengan susah. Rupanya, topik dari pembahasan mereka yang menjadi masalah masihlah sama.
"Ya itu dulu, Yaang. Mana kutahu. Lagian, kenapa kamu nggak beli aku aja dari dulu, sih. Kan enak, biar aku nggak punya mantan. Jadi hanya kamu seorang wanita yang ada dalam hidupku. Palingan juga anak kita udah besar, kalau kita ketemunya dari dulu," ujar Kendra sembari mengusap perut sang istri.
Dilla melengos seraya mendengkus pelan.
"Nggak mau!" tolaknya dengan tegas. Membuat Kendra menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah Dilla.
"Kenapa, Yaang? Kan enak. Kita bisa gini terus setiap saat," sahut Kendra.
"Nggak mau. Ya kali aku masih muda udah jadi ibu-ibu sih, Mas. Pagi pula kamu juga nggak akan biarin aku melahirkan satu kali aja, kan?" tebak Dilla yang sudah jelas benar adanya. Sebab, suaminya pernah berkata ingin mempunyai anak banyak dengannya.
Kendra terkekeh. Gemas sekali melihat ekspresi sang istri yang cemberut seperti ini, namun wajahnya merona merah.
"Kamu bener banget, Yaang," jawab Kendra tanpa mengelak. "Aku bakalan hamilin kamu setiap tahun. Biar tiap tahun kita selalu launching anggota baru," imbuhnya tertawa saat mendapat delikan dari Dilla. "Gimana? Papi udah boleh jengukin Dedek, kan?"
"Nggak!"
"Mau nanya sama Dedek, Yaang," pinta Kendra dengan tatapan yang sudah berubah sendu. Bahkan bibir pria itu sudah mulai melancarkan aksinya.
"Tanya apa?" sebisa mungkin Dilla menepis sentuhan dari Kendra.
"Mau nanya, Dedek pingin punya adik berapa? Papi mulai cicil dari sekarang," jawab Kendra yang sudah menaruh wajahnya di leher Dilla. Membuat wanita itu merasakan geli yang teramat sangat.