
''Anda dibebaskan, saudara Novan.'' Begitu polisi memberitahu narapidana yang sudah bebas dari hukumannya.
5 hari dalam tahanan, kini Novan bisa menghirup udara segar karena kata maaf dari Lolita. Pria itu mengembangkan senyum ketika polisi melepas borgol yang ada di tangannya. Mengantarkannya ke arah ruangan dan mempertemukan dengan ayahnya secara langsung.
Tentu pertemuan ini membuat pria yang berusia 37 tahun itu sangat bahagia bahkan lebih bahagia dari apa pun.
''Terima kasih, Ayah. Terima kasih,'' ucapnya sembari memeluk sang ayah. Menumpahkan air matanya. Entah tanda apa, yang pasti ada sedikit penyesalan karena sebuah kesalahan yang pernah dilakukan.
Tidak ada ucapan apa pun dari pria tua itu, ia melepas pelukan anaknya. Menatap dalam-dalam matanya yang begitu redup dan tertutup oleh genangan air.
''Jangan berterima kasih kepadaku, tapi terima kasihlah pada istrimu,'' ucap sang ayah membuat Novan terkejut.
''Maksud, Ayah?'' Novan bertanya lagi memastikan, apa yang dimaksud dengan ucapan ayahnya tadi.
''Bukan Ayah yang membebaskanmu, tapi Lolita. Dia sudah memaafkan kamu dan menarik tuntutannya.'' Pria tua itu membalikkan tubuh. Meninggalkan Novan yang masih tampak terpaku dengan apa yang ia dengar beberapa detik lalu.
''Berubahlah Novan, ayah malu memiliki anak sepertimu. Minta maaf lah pada Lolita. Dia itu tulus mencintaimu,'' ucapnya lalu pergi keluar dari kantor polisi.
Novan pun ikut keluar, pikirannya semrawut, bingung apa yang harus dilakukan saat ini. Meminta maaf, tentu saja malu. Gengsinya terlalu besar untuk meminta maaf kepada seorang wanita yang akhir-akhir ini diejek dan direndahkan karena penampilannya yang buruk.
''Cepat naik!'' teriak pria tua itu, menyuruh Novan naik mobil.
Bergegas Novan naik dan duduk di jok belakang bersama sang ayah. Sopir melajukan mobilnya membelah jalanan yang begitu ramai. Mereka langsung menuju rumah.
Dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan apa pun. Keduanya bergulat dengan pikiran masing-masing.
''Kalau bukan karena Lolita, kamu pasti akan mendekam di penjara, Novan. Jadi Ingatlah! Kamu dan dia sudah mempunyai anak. Aldo sudah besar, sebentar lagi dia akan melanjutkan sekolahnya dan butuh biaya banyak. Jangan pernah main-main dengan pernikahan. Ayah tegaskan sekali lagi, kalau kamu memang tidak ingin Lolita berada di sisimu, ceraikan dia secara terhormat. Tapi setelah itu, renungi apakah pilihan kamu itu benar. Apakah kamu akan mendapatkan wanita sebaik dia?''
Novan diam seribu bahasa. Ia tidak mampu menjawab apa-apa. Baginya ini terlalu sulit dijabarkan. Cinta baginya itu memang sangat basi, bahkan selama ini tidak pernah merasakan cinta. Ia menikah dengan Lolita hanya untuk memperkuat bisnis. Namun nyatanya fakta berkata lain, perusahaannya bangkrut karena kelalaian dirinya sendiri yang suka menghambur-hamburkan uang dengan beberapa wanita.
Entah Lolita tahu ataupun tidak, yang pasti Ia pun menyesal karena itu.
Di sisi lain
Lolita sibuk membuka sosmed dan juga beberapa majalah. Ia berniat mencari pekerjaan untuk bisa membiayai Aldo, tidak mungkin numpang terus-menerus kepada Yunan dan Cassandra.
''Lagi cari apa, Kak?'' tanya Cassandra mendekati Lolita yang sibuk buka-buka majalah.
''Ini, barangkali ada lowongan pekerjaan yang pas untuk aku," jawab Lolita tanpa menoleh.
''Kakak pengen kerjaan apa?'' tanya Cassandra.
''Seadanya, Ndra. Yang penting aku kerja, sebentar lagi Aldo masuk sekolah, dapat duit dari mana? Aku nggak mau ngerepotin Yunan terus-menerus, malu sama dia. Uang kemarin saja sudah kepakai, masa aku minta lagi?''
''Kakak mau nggak jadi model produk pelangsing, tubuh kakak kan ramping tuh, cocok banget jadi bintang iklan produk pelangsing di perusahaan ayah,'' ucap Cassandra menawarkan.
Sepertinya ayahnya memang belum mendapatkan model yang pas untuk bintang iklan, dan ia menyarankan Lolita yang menempati.
''Dicoba dulu, Kak. Pelangsing nggak perlu jalan lenggak-lenggok, cukup bergaya. Lagipula kak Yunan melarangku untuk memakai baju yang pas, dia sukanya yang longgar seperti ini.'' Menjewer gamis yang dipakainya saat ini.
''Selera dia memang rendah banget.''
''Bukan rendah, terlalu tinggi.''
Cassandra membantah, mana mungkin tampilan seperti itu terlalu rendah, justru pria seperti Yunan memiliki selera tingkat atas. Terbukti, pria itu tidak mudah jatuh cinta dengan banyak wanita.
''Ya sudah deh, nggak apa-apa. Kamu tanyakan dulu sama ayahmu sudah ada orang yang masuk apa belum?'' Akhirnya Lolita menerima. Tidak apa mencoba yang penting mendapatkan pekerjaan dan uang.
''Kontraknya 5 tahun, Kak. Nggak boleh hamil,'' ucap Cassandra sebelum menekan lencana panggilan.
''Nggak pa-pa, lagi pula aku nggak akan hamil kok,'' Lolita menjawab dengan santai.
Cassandra menghubungi Erlan dan membicarakan tentang produk iklan pelangsing kemarin. Ternyata benar, belum ada yang mendaftar.
''Bagaimana kalau Kak Lolita, Yah. apa Ayah setuju?'' tanya Cassandra memastikan.
''Kalau Ayah sih setuju-setuju saja, yang penting dia bisa.''
''Iya, Yah. Biar nanti aku yang ajarin, kak Lolita cerdas kok, pasti dia bisa.'' Menoleh ke arah Lolita tampak berkeringat, ia masih terlihat gugup ketika berada di depan mertuanya. Maklum, ini pertama kalinya akan menjejai dunia model.
''Iya Iya, Ayah percaya. Semua anak Margareth memang serdas sepertinya ibunya, selain cantik juga pintar.'' Merasa tak terima suaminya menyebut wanita lain cantik, Layin segera mendekat dan menjewer telinga Erlan hingga meringis.
Cassandra yang ada di seberang sana hanya tertawa terbahak-bahak mendengar kemarahan Ibu mertuanya yang dilayangkan untuk ayah mertuanya.
''Ayah ingat umur ya, sudah tua. Lain kali jangan memuji-muji wanita lain, apalagi ibu sekarang janda, Kasihan Ibu Layin,'' goda Cassandra dari balik telepon, membayangkan wajah kedua mertuanya pasti mereka sangat lucu saat bertengkar. Padahal selama ini mereka rukun-rukun saja.
Telepon terputus
Cassandra kembali fokus berbincang dengan Lolita. Menemani sang kakak untuk menghabiskan harinya yang mungkin menjenuhkan akibat masalah yang dihadapi.
''Sore ini aku akan berangkat ke Jepang, barangkali Kakak mau ikut untuk liburan juga. Kita pakai jet pribadi kok.''
''Nggak ah, untuk beberapa hari ini aku pengen di kamar. Sebelum bekerja lagi, Aku ingin menenangkan diri.''
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah menghentikan percakapan Lolita dan Cassandra. mereka menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Tak lama penjaga masuk dan menghampiri mereka.
''Ada pak Novan, Bu,'' ucap satpam itu.
''Usir dia, Pak! Aku tidak mau bertemu dengan dia,'' ucap Lolita tegas.
Lolita bergegas beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar, menyusul Aldo. Untuk saat ini ia memang belum siap bertatap muka dengan laki-laki yang sudah melukai hati dan juga fisiknya.
Satpam kembali keluar diikuti Cassandra. Ia ingin melihat seseorang yang sudah berani menyakiti kakaknya, apakah masih punya nyali untuk menghadapinya atau justru ingin menantang.