
Bab. 42
Dilla mengeluarkan isi yang ada di dalam perutnya hingga benar-benar terasa kosong. Sampai-sampai peluh mengalir di pelipisnya.
"Aahhh ... kenapa tiba-tiba kayak gini sih," gerutunya.
Akibat muntah terlalu banyak dan sedikit lama, membuat mulut Dilla terasa pahit. Pun begitu dengan tenggorokannya.
Wanita itu membersihkan mulutnya lalu menatap ke cermin yang ada di depannya. Wajahnya terlihat sedikit pucat sekarang.
"Perasaan tadi nggak salah makan, deh. Orang bibi juga masak makanan kesukaanku," gumam wanita itu lagi yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Tidak mau ambil pusing, Dilla segera mencuci tangannya dan membersihkan wajahnya sekalian. Toh, meskipun tanpa make up sekalipun Dilla tidak khawatir. Ia memiliki kecantikan alami yang berasal dari mamanya.
Setelah selesai dan merapikan kembali penampilannya, Dilla segera keluar dati toilet kampus. Ia berencana untuk meminta maaf pada bu Mawar karena keluar tanpa ijin lebih dulu.
Sesampainya di depan kelas, rupanya bu Mawar baru saja mau beranjak dari kursi kerjanya. Karena memang kelas sudah usai.
"Maafkan saya, Bu. Sudah keluar tanpa ijin terlebih dulu," ujar Dilla meminta maaf sembari membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
Bu Mawar tersenyum lembut ke arah Dilla. Tidak ada raut marah sedikit pun yang ada di wajah wanita itu.
"Apa kamu sakit, Dilla?" tanya bu Mawar membuat Dilla mengangkat kepalanya. Menatap jelas ke arah bu Mawar. "Kok wajah kamu pucat banget?" imbuh bu Mawar yang tampak khawatir.
Dilla menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. "Tidak, Bu. Ini saya tadi cuma muntah. Mungkin karena masuk angin. Jadi sekalian cuci muka biar fresh. Jadinya hilang deh make up saya."
Bu Mawar paham. Wanita itu mengangguk lalu mengusap bahu Dilla.
"Ya sudah, kalau memang nggak enak badan, mending pulang saja langsung. Tidak usah mampir-mampir dulu. Jaga kesehatan." ingat bu Mawar, sedikit tahu kebiasaan mahasiswinya yang satu ini.
"Sudah tidak lagi, Bu. Terimakasih," balas Dilla. Menyiratkan kalau dirinya sudah tidak lagi mampir ke club sepulang kuliah.
Kemudian bu Mawar pergi keluar dari kelas. Karena memang materi yang beliau ajarkan sudah selesai. Sedangkan Dilla berjalan menuju kursinya. Mengambil tas dan berniat untuk pulang.
"Lo nggak apa-apa, Dill?" tanya Amira pertama kali pada Dilla. Pun begitu dengan Alex yang langsung mendekat ke arah Dilla.
Dilla menggeleng kepala. Jangankan untuk menjawab panjang lebar pertanyaan dari teman-temannya. Berdiri tegap seperti ini saja kepalanya terasa pusing.
"Gue mau pulang." hanya tiga kata yang terucap dari mulut Dilla.
"Jangan dulu deh, Dill. Si Joana udah nunggu kita di cafe Biru," cegah Amira membuat Dilla menaikkan satu alisnya.
"Joana?" ulang Dilla.
"Iya. Dia udah pulang semalam dan sekarang ajak kita ketemu di sana. Karena nggak mungkin ketemu di kampus. Malu katanya. Orang perutnya udah besar kek begitu," jelas Amira mengenai teman mereka yang satu lagi.
Dilla segera mengambil tas dan ponselnya. "Gue nggak bisa kalau ketemu sekarang. Gue nggak enak badan," ujar wanita itu.
Membuat Amira dan Alex mengangguk pasrah. Mau gimana lagi, memang muka Dilla sekarang terlihat pucat.
"Ya udah kalau gitu, gue panggilan taxi aja ya? Biar lo selamat sampai tujuan. Nanti mobil lo gue anter ke rumah. Nggak enak juga udah ditunggu bumil di sana. Masa iya kita nggak temuin," ujar Amira yang di angguki oleh Dilla.
Kalaupun ia membawa mobil sendiri, Dilla tidak tahu pasti bahwa ia akan selamat sampai tujuan. Karena rasa pusing yang menghinggap di kepalanya kian terasa lebih jelas.
Mereka pun pergi ke arah yang berbeda. Tentu saja Dilla menuju rumahnya dengan taxi yang dipesankan oleh Amira. Sedangkan Amira dan Alex membawa mobil milik Dilla ke arah cafe Biru. Di mana tempat janjian mereka bertemu dengan Joana.
"Maaf ya, sedikit telat," ujar Amira menghampiri seorang wanita dengan perut yang besar.
Joana tersenyum. "Nggak apa, lagian gue juga baru sampai. Mana Dilla?" tanya Joana yang tidak melihat keberadaan Dilla.
"Dia nggak enak badan katanya," jawab Alex.
"Tumben banget. Padahal dia kan yang paling anti sakit di antara kita," ujar Joana sedikit heran.
"Tau tuh. Dia tadi muntah-muntah katanya di toilet. Wajahnya pucet banget," sahut Amira.
Kemudian mereka pun duduk di kursi yang tadi sudah di tempati Joana lebih dulu.
Keadaan cafe lumayan ramai. Dan tanpa sengaja, orang yang sedang melakukan meeting di sana dan tidak jauh dari tempat mereka duduk, mendengar percakapan barusan pun sedikit tersentak kaget. Ada rasa khawatir di dalam hatinya.