Hidden CEO

Hidden CEO
Curiga



''Jangan pakai baju itu, jelek. Pakai baju yang ini saja.'' Cassandra mengambil t-shirt panjang berwarna hitam polos serta celana jeans berwarna putih. 


Bukan kali pertama Cassandra protes dengan baju yang dikenakan Yunan, namun sudah tiga kali. Pertama ia mengejek kemeja berlengan pendek yang hampir dipakai suaminya, terlalu tua. Kemudian, dilarang memakai jaket, tidak cocok dengan suasana. Sejenak ia menatap sinis ke arah t-shirt pendek putih yang hampir melekat di tubuh atletis suaminya. 


''Ini tadi pilihan siapa?'' Yunan melepas bajunya dan melempar ke arah ranjang. 


''Pilihanku, tapi sekarang aku berubah pikiran.'' Cassandra mengerucutkan bibirnya. Bingung dengan dirinya sendiri yang  terus berubah pikiran.


Yunan mendekat dan membuka lemari lebar-lebar. Menunjuk semua bajunya yang menggantung rapi di sana. 


''Barangkali ada yang lebih bagus dari itu.'' Menyungutkan kepalanya ke arah  baju yang ada di tangan Cassandra.


Menyisir helai demi helai baju yang serba mahal dan bermerek. Menunjukkan kepada sang istri, takut nantinya berubah pikiran lagi. 


''Gak ada yang bagus, pakai ini saja.'' Menutup pintu kamarnya, yakin kali ini Yunan akan terlihat tampan dengan baju pilihannya yang ke empat kali. 


''Sekali lagi kamu berubah pikiran, aku pergi dengan telanjang,'' kesal Yunan, namun tetap bernada bercanda. 


Mana mungkin ia bisa memarahi wanita cantik itu. Pasti tidak hanya Margareth yang marah, tapi semua keluarga. Terlebih saat ini Cassandra sedang hamil, apa pun yang diinginkan harus terpenuhi, begitu kata Layin, juga tidak boleh mengeluh. 


Tiba-tiba suara isakan terdengar dari arah lemari membuat Yunan terkejut. Bergegas ia mendekati Cassandra dan mendekapnya dengan penuh kehangatan. 


''Kenapa?'' tanya Yunan tidak tahu menahu. 


Mengusap punggung Cassandra yang bergetar hebat sambil mengecup keningnya berulang kali, posesif. Tak henti-hentinya mengutarakan cintanya dengan berbisik. 


''Bohong.'' Cassandra mendorong tubuh Yunan hingga tersentak ke belakang. Menatap tajam ke arah sang suami yang tampak mulai panik. 


''Kalau kamu memang mencintaiku, gak mungkin kamu membentakku,'' lanjutnya lagi. 


Dahi Yunan mengenyit. Mencerna ucapan Cassandra. ''Kapan aku membentakmu?" tanyanya lagi, mencoba mendekat. 


''Apa kamu sudah amnesia? Baru saja kamu membentakku, tapi sudah pura-pura lupa.'' Sewot. 


Menghela napas panjang. Entahlah, meskipun benar tetap saja serba salah menghadapi bumil itu.


Ternyata begini rasanya mempunyai istri hamil. Tapi gak pa-pa, sepuluh kali pun aku sanggup. 


''Kalau begini terus gak akan jadi pergi.''


Yunan segera memakai bajunya dan kembali mendekati sang istri, jika terus bertanya maka mereka tidak akan jadi pergi. Ia memilih untuk mengalah, mengakui kesalahan yang tak pernah dilakukan dan meminta maaf. Itu akan lebih baik daripada mengelak. Ujung-ujungnya tetap salah.


''Baiklah, aku janji gak akan membentakmu lagi.'' Merapikan hijab Cassandra yang memang sudah rapi sambil tersenyum manis. 


''Sekarang kita pergi ya, keburu siang, panas.'' Meraih tangan Cassandra dan mengajaknya keluar. Menghampiri Khalisa yang sudah cantik dan siap. Sekalian mengajak mbak Lila dan dua asisten rumah tangganya untuk ikut pergi. 


Di tengah perjalanan, Cassandra dan Yunan terus saja begelak tawa mendengar kelucuan Khalisa yang menceritakan tentang keseharian Erlan dan Layin. Tak disangka, bocah yang baru berumur lima tahun itu sudah pintar menilai seluruh keluarganya.


''Bunda, Ayah.'' Khalisa berdiri di tengah Cassandra dan Yunan. Menatap kedua orang tuanya bergantian. ''Kata oma, aku mau punya adik. Benarkah?'' tanyanya serius. 


''Sebentar lagi Khalisa akan punya adik. Sekarang masih tidur di sini.'' Yunan menuntun tangan Khalisa untuk mengusap perut rata Cassandra. 


Gadis kecil itu pun bersorak hore lalu mencium perut sang bunda dengan lembut. Mengajaknya bicara layaknya kepada Akram. 


''Oh iya, Kak. Kemarin aku gak sengaja melihat Zafan sedang…" Cassandra menghentikan ucapannya. Mengurungkan niatnya yang akan membicarakan tentang apa yang sempat dilihat di pusat perbelanjaan kemarin. 


Mungkin saja dia sekretarisnya. 


''Sedang apa?'' tanya Yunan memastikan. 


Cassandra menggeleng tanpa suara. Menepis apa yang dilihatnya waktu itu. Berharap Zafan laki-laki yang baik dan setia. Bukan seperti kebanyakan pria hidung belang di luaran sana.


''Kenapa ya, Bi, hampir setiap laki-laki yang kaya itu gak setia. Kebanyakan mereka itu gak cukup dengan satu istri.'' Ucapan yang bernada sindiran itu mampu menusuk Yunan hingga ke relung hati terdalam.


Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, takut salah kata yang membuat hati sang istri tersinggung. Biarlah ia menjadi bulan-bulanan wanita itu, asalkan bahagia. Menganggap ini salah satu pengorbanannya menuju puncak kebahagiaan. 


Bibi membungkam bibirnya rapat-rapat. Ingin sekali menjawab namun takut dengan Yunan, sebab nasib mereka ada di tangan pria itu. 


''Jawab, Bi. Iya gak sih? Atau ini hanya perasaanku saja.'' Cassandra meninggikan suaranya. Kesal dengan dua pembantunya yang tidak menjawab pertanyaannya. 


''Mungkin itu hanya perasaan Nona saja.'' Bu Lina memberanikan diri untuk menjawab. 


''Aku rasa tidak. Bibi lihat gak, beberapa artis yang akhir-akhir ini ramai menggugat cerai istrinya. Itu karena apa? Perselingkuhan, Bi. Mereka itu maunya menang sendiri, mentang-mentang banyak uang menindas istrinya begitu saja.'' Seolah kalimat itu menyudutkan Yunan yang sempat pernah akan poligami. 


''Kamu sangat berlebihan, Sayang. Bibi benar, itu hanya perasaanmu saja. Lagipula untuk apa ngurusin artis, mereka hanya mencari sensasi untuk memanjatkan pamor saja." Yunan angkat bicara. Tentu dengan sangat hati-hati. 


Terdiam adalah pilihan Cassandra. Ia merasa semua orang memang lebih suka berpihak pada Yunan. Tidak ada satu pun yang membelanya. 


''Terserah, yang penting itu versiku.''


Ketika mobil berhenti di depan toko perhiasan, tiba-tiba Yunan dikejutkan dengan pemandangan yang sangat istimewa. Sontak, ia menginjak rem secara mendadak yang membuat Cassandra hampir terbentur. Beruntung wanita itu masih punya keseimbangan dan hanya terhuyung. 


Itu kan Zafan, sama siapa itu?


Bukan adik iparnya yang menjadi puasa perhatian Yunan, melainkan seorang wanita yang duduk di sebelahnya. 


Terlihat jelas mereka memilih-milih perhiasan yang ada di dalam etalase, jika dilihat dari jauh cukup akrab. Bahkan beberapa kali Zafan tersenyum ke arah wanita itu, pun sebaliknya. 


"Kamu lihat apa, Kak?" Cassandra mengikuti ke arah mata Yunan memandang. 


Menajamkan pandangannya ke arah sosok yang memang sangat familiar di matanya.  


''Itu kan Zafan dengan perempuan yang ada di mall waktu itu?'' ceplos Cassandra.


''Kamu pernah lihat mereka juga?'' Yunan memastikan. Ia semakin penasaran dengan status mereka berdua. 


Andara mengangguk tanpa suara. Tentu saja ia masih ingat dengan wanita itu.