Hidden CEO

Hidden CEO
Berdebat



''Morning, Sayang. Bagaimana tidurnya semalam?'' Suara berat menyapa Cassandra yang baru saja membuka mata.


''Gak terlalu nyenyak sih, mungkin karena kelelahan saja. Kakak lagi apa sekarang?'' tanya Cassandra tanpa bangkit dari peraduan. Terlalu menikmati hangatnya selimut yang membungkus sekujur tubuhnya.


''Aku sedang olahraga pagi, ini kamu lagi ngapain?'' tanya Yunan balik.


Mengalihkan ke video call. Benar, ternyata Yunan sedang olahraga pagi bersama beberapa temannya. Ada pria yang dipanggil Rudi.


''Aku masih ada di kamar, tiduran. Malas bangun, tadi aku sudah nelpon bibi dan menyuruh membawa makanan ke kamar," ucapnya dengan bibir cemberut.


''Lho, kenapa nggak nemenin ibu makan di bawah saja? Kasihan sendirian." Yunan menghentikan langkah kakinya.


Ia duduk di bawah pohon, mengusap keringat yang bercucuran membasahi leher dan wajahnya. Fokus dengan wajah cantik Cassandra.


''Di bawah ada Kak Lolita, Kak. Dia ke sini,'' ungkap Cassandra jujur.


''Lalu kenapa kamu nggak turun? Apa ada masalah?'' Yunan memastikan, meletakkan ponselnya sejenak. Meneguk air putih yang dibawa dari hotel, kemudian kembali fokus kepada layar ponsel yang menampakkan wajah istrinya.


''Dia mau meminta sertifikat ruko itu, dan kemarin aku menyetujuinya tapi aku menyuruh dia menunggu Kakak pulang,'' jawab Cassandra seperti yang dikatakan di depan Lolita kemarin.


''Langsung diberikan gak pa-pa, aku setuju saja kok.'' Sebenarnya Yunan memang tak mempermasalahkan harta itu, hanya saja ia kasihan pada sang istri yang memang menjaga amanah dari ayahnya.


"Yang ia butuhkan itu bukan ruko, Kak. Tapi uang.'' Itulah kesimpulan yang diambil Cassandra. Tidak mungkin Lolita akan mempergunakan ruko itu untuk usaha, pasti dia akan menjualnya.


Begitu yang ia lihat dari gerak-gerik sang kakak.


''Ya, kalau gitu kamu ambil uang di kantor, kalau gak mau bisa minta sama ayah,'' saran Yunan.


''Nggak ah, ngerepotin Kakak saja, nanti kalau udah pulang kita bahas lagi."


Yunan setuju. ''Baik-baik di rumah, jangan berantem, aku nggak suka istriku berdebat dengan saudaranya sendiri.''


Pintu dibuka dari luar bertepatan saat Cassandra melempar ponselnya di atas bantal.


Kali ini bukan bibi yang mengantar makanan ke kamar Cassandra, melainkan Margareth. Wanita itu terlihat bahagia melihat putrinya bahagia.


Entah apa yang membuat pagi ini Cassandra ceria, tapi diyakini itu karena suaminya.


''Habis ditelepon Yunan?'' tanya Margareth sembari meletakkan makanan di atas meja.


''Iya, Bu. Tadi kak Yunan nelpon.'' Mendekati Margareth dan duduk di sampingnya.


''Apa kata dia?'' Margareth penasaran.


''Dia memberi saran padaku untuk meminta uang pada ayah, tapi aku menolak, aku nggak mungkin merepotkan keluarganya lagi,'' jawab Cassandra jujur.


''Uang untuk apa?'' Margareth belum tahu pasti apa yang dimaksud Cassandra.


Mengambil sepotong roti dan memakannya. ''Nanti kita bicarakan ini lagi setelah Kak Yunan pulang."


Pagi ini Margareth tidak hanya menemani Cassandra makan, ia juga menyuapi wanita itu layaknya masih kecil, memanjakannya. Sebab, dari tiga putrinya hanya si bungsu yang jarang merasakan kasih sayang darinya. Terlebih saat kasusnya dengan Yunan mencuat di depan publik Margareth merasa malu dan hampir tidak mengakuinya lagi.


Namun perjalanannya waktu, hatinya luluh, sadar bahwa putri yang sesungguhnya adalah si bungsu yang sering ia sia-siakan. 


Daripada di rumah dan malas berbicara dengan Lolita, hari ini Cassandra akan datang ke rumah Layin. Lebih baik menghabiskan waktu di rumah itu daripada bersama kakaknya yang sangat ketus. Sebelum pergi, ia menghubungi Laurent dan meminta wanita itu untuk datang ke rumah sang ibu.


''Kamu mau ke mana, Ndra? Ke rumah Yunan?'' Margareth memastikan. 


''Ya, Bu. Adiknya kak Yunan ngajakin aku jalan-jalan. Mungkin akan pulang sore nanti. Ibu jangan khawatir, nanti aku akan belikan makanan di luar.'' Memeluk Margareth lalu memanggil Lila dan Khalisa yang sudah siap berangkat. Tanpa pamit pada Lolita, Cassandra keluar dari rumah. Percuma saja wanita itu hanya memasang permusuhan sengit. 


Margareth kembali menghampiri Lolita. Menasehati wanita itu untuk tidak melanjutkan misinya dan menerima apa adanya usaha suaminya saat ini. ''Tidak perlu banyak modal, kalau memang sudah rezeki pasti hasilnya sudah berlimpah,'' ucap Margareth suaranya terdengar pelan namun seolah mencibir.


"Nggak bisa gitu dong, Bu. Kalau ada peluang yang lebih bagus kenapa tidak. Lagi pula ruko itu juga nggak dipakai. Untuk apa masih dibiarin, mending dimanfaatin.'' Lolita tak mau kalah, Ia terus saja membantah ucapan Margareth.


''Tapi itu milik adikmu. Kamu nggak boleh merebutnya.''


''Aku nggak merebut, Bu. aku kan kemarin sudah bilang, nanti kalau suamiku sudah sukses, pasti dia akan mengembalikannya. Kami cuma minjam, istilahnya gitu, masa Ibu enggak percaya sama anak sendiri.''


Hening


Sebenarnya Margareth juga malas berbicara dengan Lolita, ujung-ujungnya akan menjadi perdebatan. Semenjak kepergian wanita itu ikut dengan suaminya, hubungan mereka memang tak begitu baik, itulah kenapa Margareth membuka hatinya untuk Cassandra.


Sekarang menjadi satu-satunya putri kesayangan di antara ketiga putri yang dilahirkan.


''Terserah kamu saja, tapi kamu harus nungguin Yunan pulang. Bagaimanapun juga dia adalah suaminya adikmu.''


''Sebenarnya Ibu kenapa sih, sekarang belain dia terus? Apa yang sudah diberikan dia pada ibu?''


''Stop, Lolita.'' Margaret geram.


Sebenarnya ia tidak ingin memperpanjang masalah itu, juga tidak ingin membicarakan tentang Yunan. Namun, telinganya panas mendengar ucapan Lolita yang selalu menyudutkan suami dari Cassandra itu.


''Semua ini salah ibu, itu tahu Yunan bukan orang kaya, tapi dia tidak pernah merepotkan keluarga ini. Dulu waktu dia masih bekerja serabutan, dia juga nggak pernah mengusik uang milik Cassandra. Setiap hari malah dia yang memberikan uang untuk istrinya.


''Nggak usah melibatkan dia dalam urusan kamu.''


Margareth terdengar sangat aneh, bahkan wanita itu jelas-jelas lebih menyukai Yunan daripada suaminya yang dulu memang pernah membuat nama keluarganya terhormat. Tapi sekarang semua berbanding balik, Yunanlah yang dibangga-banggakan oleh ibunya. Lalu, apa yang sebenarnya dimiliki pria itu?


''Terserah Ibu saja, tujuanku ke sini bukan ingin bertengkar, aku hanya ingin meminta sertifikat itu, cukup. Dengan, atau tanpa persetujuan Ibu.''


Margareth bingung mau menjawab apalagi. Percuma berdebat, parsi tidak ada ujungnya. Berharaoa hati Lolita luluh dan tifak mengusik harta saudaranya, itu saja.