
Jika mengingat makan malam bersama dengan Zafan semalam, Laurent senyum-senyum sendiri. Tak disangka, suaminya yang sangat pendiam dan jarang bertutur sapa itu ternyata bisa romantis habis. Hadiah yang diberikan pun sangat istimewa dan membuatnya seolah menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
''Pasti mas Zafan pesan ini sudah jauh-jauh hari.'' Memungut kalung limited edition pemberian sang suami.
Menoleh ke arah Zafan yang masih terlelap. Kemudian bangkit dan mendekatinya. Mengusap lembut rambut sang suami, berniat membangunkannya.
''Bangun, Mas. Sudah subuh,'' ucap Laurent berbisik.
''Lioni,'' lirih Zafan dengan mata terpejam.
Laurent terpaku. Dadanya terasa sesak mendengar nama yang disebut suaminya. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Ia bergerak mundur menjauhi pria tersebut.
''Lioni, siapa dia?'' Hatinya mulai bertanya-tanya. Otaknya berputar mengingat karyawan penting yang ada di kantor suaminya. Tidak ada satu pun yang bernama Lioni.
Lalu, siapa sosok yang disebut suaminya dalam tidur?
Tak sengaja tangan Laurent menyenggol vas hingga jatuh, dan itu sukses membangunkan Zafan. Pria itu membuka mata dan menoleh ke arah samping, di mana istrinya sedang berjongkok memungut pecahan keramik yang berserakan.
''Sayang, kamu ngapain?'' Bergegas turun dari ranjang dan mendekati sang istri.
Tidak ada jawaban. Laurent menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang sudah dipenuhi cairan bening. Sungguh, hatinya sakit bak ditusuk seribu jarum teringat nama yang disebut suaminya tadi.
''Hai, kamu kenapa sih?" Zafan mencoba memeluk Laurent dengan erat.
''Aku gak pa-pa,'' ucap Laurent dengan bibir bergetar. Sebisa mungkin menahan air matanya untuk tidak luruh.
Merasa ada yang aneh, Zafan mendongakkan wajah Laurent hingga kini bisa melihatnya sangat lekat. Terlihat dari sorot matanya, jelas wanita itu menangis. Entah apa penyebabnya, ia pun belum tahu.
"Ada masalah apa? Katakan padaku?" tanya Zafan lembut.
Laurent menggeleng tanpa suara. Takut Zafan menganggapnya terlalu lebay dan berani. Mungkin diam akan jauh lebih baik, begitu pikirannya. Memendam gejolak yang merasuki jiwanya saat ini.
''Kamu istriku, gak baik menyembunyikan sesuatu dariku. Kita harus saling jujur,'' tutur Zafan.
''Benarkah? Artinya kamu juga akan jujur padaku?'' Laurent sedikit merasa lega dengan ucapan sang suami.
Zafan mengangguk berat.
''Siapa Lioni?" tanya Laurent cepat-cepat. Takut membuatnya tersiksa jika tak ditanyakan.
Kedua mata Zafan membeliak. Jantungnya berdetak lebih cepat seperti lari maraton. Banyak pertanyaan yang terselip di otaknya saat sang istri menyebut nama selingkuhanya.
Dari mana Laurent tahu tentang Lioni?
Apa diam-diam dia sudah mengikutiku?
Apa sebenarnya dia sudah tahu tentang hubunganku dengan dia?
''Lioni?" Zafan pura-pura bodoh.
Laurent mengangguk pelan. ''Tadi dalam tidur kamu menyebut nama Lioni, siapa dia?" tanyanya lagi semakin penasaran.
Kebingungan melanda. Tak disangka, pagi Zafan disambut dengan pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Jujur, pasti Laurent akan sangat marah dan bahkan meminta cerai. Jika berbohong maka ia tidak hanya berdusta pada sang istri, namun juga seluruh keluarganya.
''Dia temanku,'' jawab Zafan dan akhirnya memilih berbohong. Menutupi status wanita itu yang sebenarnya.
''Kamu gak bohong kan, Mas?'' tanya Laurent mencekik.
Selama ini ia sangat percaya dengan Zafan, bahkan sedikit pun tak menaruh curiga.
''Mana mungkin aku bohong padamu.'' Mencubit kedua pipi Laurent yang tampak menggemaskan lalu memeluknya.
Menajamkan mata. Mencoba berpikir dengan jernih tentang kehidupan yang dijalaninya saat ini.
Aku sudah menyakiti istri dan anakku, bagaimana jika mereka tahu aku memiliki wanita lain?
Rasa bersalah itu mulai menyeruak menyerang sekujur tubuhnya. Sungguh, ia tak berani untuk berkata jujur terhadap istrinya. Takut menyakiti hatinya.
Beberapa saat pelukan itu terlepas. Zafan menyuruh Laurent duduk, sedangkan ia yang membersihkan pecahan vas itu lalu membuangnya di tong sampah.
''Akram ke mana? Kenapa gak ikut ke sini? "tanya kapan mencairkan suasana.
''Dia sudah berangkat sekolah, pagi ini katanya mau mampir ke rumah Khalisa dulu,'' jawab Laurent seperti yang dikatakan Layin tadi.
''Pantas saja dia gak bangunin aku.'' Terkekeh. Menghampiri Laurent dan duduk di sampingnya.
Mereka menatap ke arah yang sama, namun dengan pikiran masing-masing. Tidak seperti biasanya yang lebih banyak berbicara, kali ini bibir Laurent membisu, pikirannya masih semrawut memikirkan nama Lioni.
''Apa jangan-jangan Laurent memang sudah mencurigaiku.'' Zafan semakin takut.
Ia kembali meyakinkan sang istri bahwa Lioni bukan siapa-siapa. Mereka hanya sebatas teman, tidak lebih. ''Aku juga jarang sekali bertemu dengannya,'' lanjutnya.
''Lalu kenapa tadi kamu menyebut namanya." Laurent melayangkan pertanyaan yang membuat hatinya semakin terasa nyeri.
''Iya. Tadi aku bermimpi berantem dengan dia. Aku membersihkan bajuku yang kotor dan terjatuh.''
Tidak ada cara lain, Zafan tetap mencoba untuk mengelabui sang istri. Takut wanita itu mengancam kedudukannya sebagai sahabatku.
Gawat, sebelum Laurent lebih curiga lagi dan mengatakan pada mereka tentang foto-fotoku, aku harus memutuskan Lioni. Pernikahanku lebih penting dari apa pun.
Laurent bangkit. Ia membuka pintu lalu keluar. Entah, meskipun Zafan sudah menjelaskan, hatinya masih aja gelisah. Setibanya di ujung tangga ia bertemu dengan Yunan yang baru saja datang.
''Kenapa kusut banget?'' Merapikan hijab sang adik dengan asal. Sedangkan Cassandra langsung pamit masuk kamar untuk ke kamar mandi.
''Gak ada apa-apa, Kak. Suntuk saja,'' jawab Laurent dengan bibir mengerucut. Belum bisa bercerita pada kakaknya. Terlebih semua ketakutannya belum terbukti.
''Zafan ada di kamar?'' tanya Yunan lagi.
''Ada, Kak. Mungkin dia baru mandi,'' jawab Laurent sekenanya. Meski masih merasakan sakit menatap sang suami yang tadi begitu merdu menyebut nama wanita lain.
''Baiklah, aku akan menunggu di bawah.''
Sementara Zafan, ia semakin kesal dengan Lioni setelah panggilannya tak dijawab. Padahal, keadaan mulai genting, namun bisa-bisanya wanita itu mengabaikannya.
Akhirnya Zafan mengirim pesan untuk Lioni.
''Pagi ini aku mau bertemu sama kamu, datang di tempat biasa.'' Itulah pesan yang di kirim untuk Lioni lalu segera ke kamar mandi.
Setelah siap memakai baju kantornya, Zafan turun. Ia menghampiri Laurent yang tampak sibuk bercanda dengan Cassandra dan Yunan.
''Selamat pagi semua.'' Zafan duduk di samping sang istri. Berseberangan dengan kedua kakak iparnya.
Tidak seperti biasa yang langsung melayani, saat ini Laurent lebih memilih melanjutkan makannya daripada menoleh ke arah Zafan. Wanita itu cuek dan tidak merespon setiap ucapan sang suami.
''Sayang, kamu kenapa?" tanya Zafan lembut.
Mengusap pundak Laurent dengan lembut.
Cassandra dan Yunan yang ada di samping sepasang suami istri itu curiga dengan hubungan mereka yang sepertinya tidak baik-baik saja.