Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 62. Menjenguk Dedek



Bab. 62


Kendra merebahkan Dilla dengan sangat pelan. Kalau bisa, wanita ini jangan dulu terbangun. Dengan penuh kejadian, Kendra menarik tangan nya yang berada di bawah punggung Dilla. Perlahan namun pasti. Lalu pria itu membaringkan tubuhnya tepat di samping Dilla. Tatapan matanya mengarah ke arah wanita yang begitu damai ketika tertidur seperti ini.


Tidak ada tatapan sinis atau ucapannya yang pedas darinya. Dalam keadaan tidur seperti ini, Dilla tampak jauh lebih cantik dan menggemaskan.


"Aku bersyukur, karena Tuhan mempertemukan kita," ucap Kendra lirih seraya jemarinya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Dilla. "Ya ... meskipun dengan cara yang sangat konyol. Tetapi hasilnya cukup sangat memuaskan." lanjutnya lagi.


Kini, tatapan Kendra beralih pada bagian perut Dilla. Jika dalam keadaan berbaring seperti ini, kalau diperhatikan lebih jelas lagi, perut Dilla tampak membuncit sedikit. Hal itu menarik Kendra untuk menyentuhnya. Mengusapnya dengan lembut, dan tanpa terasa satu tetes giliran bening mengalir dari sudut matanya.


"Ck! Bisa-bisanya aku jadi seorang ayah secepat ini. Bahkan di atas statusku yang masih jomblo," gumam Kendra lagi.


Pria itu dengan segera mengusap air matanya. Tidak ingin kalau sampai dilihat oleh Dilla. Kendra sangat bersyukur akan kehadiran calon anak mereka yang hadir tanpa rasa cinta.


Entah, Kendra sendiri juga bingung dengan perasaannya kepada Dilla. Yang jelas, ia tidak akan melepas wanita ini barang sedikit saja.


Mungkin memang bukan rasa cinta yang dirasa, melainkan rasa sayang dan rasa ingin melindungi Dilla terasa begitu besar setelah Kendra mereng—ralat. Yang benar setelah Dilla menyerahkan kehormatannya kepada dirinya. Dan Kendra pikir, rasa sayang itu sudah cukup untuk Kendra buat acuan sebagai pondasi rumah tangga mereka nanti. Karena rasa cinta bisa berubah kapan saja jika bosan. Sedangkan rasa sayang jauh lebih tinggi tingkatnya.


Masalah Dilla mempunyai rasa kepada dirinya atau tidak, Kendra akan membuat wanita itu mempunyai rasa yang sama dengannya. Meskipun dengan cara sedikit memaksa di awalnya.


Namun, bukannya mereda setelah mandi, rasa gerah itu kian menggerogoti tubuh Kendra di kala ia keluar kamar mandi dan mendapati pemandangan yang sangat menakjubkan.


Cepat-cepat Kendra meraih ponselnya. Bukan untuk mengabadikan momen yang ada di hadapannya saat ini. Melainkan untuk menghubungi seseorang.


"Halo, Pa. Kemungkinan Dilla tidak pulang hari ini. Ya. Dia bersama Kendra. Papa siapkan saja acaranya besok siang. Kendra bawa Dilla pulang paginya," ujar Kendra tanpa bertanya kepada Dilla. Pria itu memutuskan secara sepihak dan mempercepat prosesnya.


Tentu, untuk bisa menikah besok, bukan halangan bagi Kendra. Karena uang bisa membuat semuanya menjadi lancar.


Susah-susah meredakan yang sudah tegak, kini benda miliknya justru langsung mengacung ketika melihat Dilla dengan penampilan tidur yang sangat membahayakan. Membahayakan Kendra yang berusaha menekan rasa pemangsanya.


"Kamu sungguh benar-benar mengujiku, Dilla," gumam Kendra dengan napas tidak beraturan.


Pria mana yang tahan dengan pemandangan seperti ini. Kaki yang terekspos bebas bahkan kain segitiga yang dipakai untuk melindungi sesuatu yang pernah Kendra rasakan, terlihat begitu jelas. Juga outher yang entah bagaimana bisa lepas dari tubuh Dilla dan tergeletak di samping ranjang, sehingga memperlihatkan sebagian bukit yang tampak menantang Kendra sebagian. Sebab belahan di leher Dilla begitu rendah. Ah, pemandangan ini semakin membuat Kendra pusing dan haus.


"Maaf, Dill, aku cuma nggak mau menolak rejeki dan pingin menjenguk Dedek. Kasian dia sendirian di sana," ucap Kendra lirih sembari merangkak naik ke atas tubuh Dilla. Sedangkan wanita itu masih terlelap.