Hidden CEO

Hidden CEO
Kebahagiaan dan penyesalan



Kehadiran Khalisa memang tak beruntung adiknya yang mendapat sambutan hangat. Jangankan mendapat ucapan selamat dan hadiah, kepada siapa Cassandra mengadu pun bingung. Tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kehamilannya. Bahkan di saat itu ia bagaikan terombang-ambing di tengah lautan yang tak bertepi.  


Namun, kala itu menjadikan Cassandra lebih kuat untuk menghadapi segala cobaan yang melintang. Kehadiran janin dalam rahimnya memberikan arti kehidupan dan cinta. Dua hal yang saling berkaitan. 


Kristal bening tak henti-hentinya meleleh membasahi pipi mulus Cassandra saat semua orang memeluknya. Kenangan itu kembali muncul membuat hatinya begitu perih. Berandai-andai bisa mengulang waktu, maka akan memberitahu tentang kehamilannya kepada seluruh keluarga dan membatalkan kepergiannya ke Kanada. 


''Kenapa? Apa kamu gak bahagia dengan kehamilan ini?'' Kedua tangan Yunan menangkup pipi Cassandra yang tak berhenti menangis. 


Cassandra menggeleng cepat. Menarik tubuh atletis Yunan dan memeluknya dengan erat. Semakin terisak di pelukan pria tersebut. 


Tentu hati Yunan ikut pilu melihat kondisi sang istri yang terlihat sangat aneh, bukannya bahagia dengan sikap semua orang justru sebaliknya. Takut, janin yang hadir menjadi tekanan bagi sang istri. 


''Lebih baik kita keluar saja, mungkin mereka butuh berdua,'' bisik Erlan di telinga Layin. 


Memberi ruang untuk sepasang suami istri itu berdua di kamar, mungkin saja ada sesuatu yang ingin mereka ungkapkan secara rahasia. 


Pintu ditutup dari luar, semua keluarga kembali ke ruang tengah, sementara Lolita langsung pamit pergi karena masih ada pekerjaan. 


''Hati-hati di jalan,'' ucap Margareth sedikit meninggikan suaranya.  


Menatap sinis ke arah Novan yang tampak mengikuti putrinya. Tentu saja apa yang dilakukan masih meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi seorang ibu.


Kini di ruang tengah itu hanya ada Layin, Erlan dan Margareth. Membahas tentang kondisi Cassandra yang sebelumnya tidak membuktikan tanda-tanda apa pun. sedangkan Laurent sibuk bermain dengan Khalisa dan Akram. Membantu mereka memasang lego. 


''Biasa, di awal kehamilan, perempuan memang susah di tebak. Semoga Cassandra tidak menyulitkan Yunan,'' ucap Margareth nyengir. 


Teringat dengan dirinya saat hamil, pasti akan merepotkan suaminya, bahkan terkadang ngidamnya sangat aneh dan menyusahkan sang suami. Namun, saking cintanya, pasti semua akan dipenuhi, sesulit apa pun. 


''Gak pa-pa, itu sudah menjadi kewajiban Yunan. Dulu waktu hamil Khalisa dia tidak bertanggung jawab. Mungkin sekarang waktunya dia menunjukkan tugas yang sesungguhnya,'' tukas Layin. 


Apa pun yang akan terjadi nanti, ia tidak akan menyalahkan Cassandra. Justru sangat bahagia jika wanita itu menanti putranya kerepotan memenuhi ngidamnya sang menantu. 


''Sekarang kamu cerita padaku. Ada apa? Apa yang kamu rasakan sekarang?''


Yunan merapikan bantal. Membaringkan tubuh Cassandra dengan pelan. Memeluk wanita itu dari samping. Menciumnya berulang kali, lebih bebas karena tidak ada siapa pun di ruangan itu. 


''Aku hanya ingat saat hamil Khalisa,'' ungkap Cassandra tetap ragu. 


Darah Yunan berdesir mendengarnya. Ada secuil rasa bersalah yang menyelinap masuk memenuhi dadanya karena tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik kala itu. Menyesal sudah membuat Cassandra pergi dari sisinya. 


''Waktu itu aku bingung mau berbagi kebahagiaan dengan siapa. Aku ingin pulang dan memberitahu kamu. Tapi gak sanggup melihat pernikahanmu dengan Humaira.'' Kembali terisak, membenamkan wajahnya di dada Yunan. 


''Aku ingin bilang pada ibu, tapi takut dia menyuruhku menggugurkan kandunganku, akhirnya aku membawanya pergi jauh dari semua orang, dan berharap bayiku mendapatkan kebahagiaan yang berlebih meski hanya dariku saja.'' 


Pelukan itu semakin terasa erat dan hangat membuat Cassandra nyaman. Tak dapat dipungkiri, saat ini hanya dekapan tangan Yunan yang membuatnya lupa segalanya. Hatinya begitu melayang mendapat perlakukan yang sangat berlebihan dari sang suami. 


''Seharusnya kamu kembali dan mengatakan tentang kehamilanmu padaku. Pasti aku akan tetap memelukmu seperti malam itu. Aku akan memenuhi semua permintaanmu, maaf. Karena keegoisanku kamu harus menderita dan bekerja keras di saat mengandung putri kita. Maaf, karena aku, kamu harus melahirkan seorang diri tanpa orang-orang di sisimu,'' ungkap Yunan panjang lebar. 


''Sekarang aku janji tidak akan meninggalkanmu walau sebentar saja. Tidurlah, aku akan menemanimu di sini.'' Mengecup kening Cassandra.  


Mengusap kening wanita itu hingga terlelap. 


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara Novan dan Lolita. Mereka bagaikan orang asing yang tak saling mengenal. Hanya Novan yang sesekali bertanya namun diabaikan oleh sang istri. 


''Aku belum minta maaf sama Aldo. Apa kamu mau mempertemukan aku dengannya?" ucap Novan di sela kesibukan menjalankan kuda besinya.


''Bisa, tapi aku harus tanya sama dia dulu. Aku takut dia masih trauma seperti waktu itu.''


Novan menghela nafas panjang. ''Aku minta maaf sudah menyakiti kamu dan Aldo, dan izinkan aku menebusnya. Aku mohon sama kamu. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua kesalahanku,'' pinta Novan serius. 


''Kita bicarakan nanti saja. Hari ini aku harus bekerja.'' Mencoba mengalihkan pembicaraan. Masih sangat malas membahas nasib rumah tangganya yang berada di ujung tanduk. 


Tak rasa mobil sudah berhenti di depan gedung pencakar langit milik Erlan. Lolita bergegas melepas seat belt, takut Novan akan melepaskannya seperti tadi. Namun, pergerakannya tercekat saat sebuah ciuman mendarat di pipinya. 


''Aku mohon kembalilah padaku. Mungkin sekarang perusahaanku tidak sebesar milik Yunan, tapi aku sudah mencoba merintisnya lagi. Aku butuh dukungan dari kamu,'' pinta Novan meyakinkan. 


Entah sebesar dan sebanyak apa kekayaan Yunan, namun ia sudah bisa menebak bahwa pria itu sudah sangat sukses melebihi dirinya dulu. 


''Biarkan semua mengalir dengan sendirinya. Untuk saat ini izinkan aku meraih mimpiku, aku tidak mau bergantung lagi. Aku juga ingin bebas seperti istri-istri yang lain.'' Kali ini Lolita tak menerima begitu saja. Tekadnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Terlebih ia sudah menandatangani kontrak untuk perusahaan milik Erlan dan harus ditunaikan. 


''Baiklah. Aku tidak akan mengekangmu seperti dulu, aku juga akan menunggumu sampai kamu siap menjadi istriku lagi.'' Mencium kening Lolita. Membiarkan sang istri untuk turun. 


Sebelum pergi, Novan menelpon ibunya. Meminta maaf karena belum bisa membawa Lolita pulang. Hanya bisa mengucapkan janji yang entah sampai kapan akan ditepati. 


''Yang penting kamu terus berusaha, ibu gak mau ada menantu di rumah ini selain Lolita,'' ucap Ratri dari ujung telepon. 


''Iya, Bu. Doakan usahaku cepat berhasil. Aku akan membawa istri dan anakku pulang. Aku akan membahagiakan mereka.''


Sambungan terputus, Novan kembali melajukan mobilnya menuju tempat kerja. Selain berusaha memperbaiki hubungannya dengan Lolita, ia juga berusaha untuk mengembangkan usaha barunya.