Hidden CEO

Hidden CEO
Alat kontrasepsi



Cassandra mulai terbiasa dengan kehadiran Yunan. Ia tak lagi merasa canggung atau malu-malu, bahkan saat ini lebih manja daripada Khalisa. Setiap kali ada di sisinya, pasti ada saja yang mereka bicarakan, entah itu sepele atau serius ujung-ujungnya tetap bercanda. 


Setelah menginap semalam di rumah Erlan, kini Yunan dan Cassandra pulang ke rumah Margareth. Bukan untuk tinggal di sana melainkan izin untuk tinggal di rumah barunya. Keputusan itu memang membuat sang ibu merasa sedikit terpukul, akan tetapi demi kebahagiaan putri tercinta, ia pun merelakan dengan alasan harus berkunjung sesering mungkin. 


Margareth juga memberi beberapa syarat pada Yunan untuk membuat anak dan cucunya bahagia, tentu itu langsung disetujui oleh pria yang saat ini tidak kekurangan apa pun. 


Harta yang berlimpah memang  tidak menjamin kebahagiaan, namun dengan itu semua Yunan berharap anak dan istrinya akan tercukupi dan membuat mereka bahagia karena bisa mendapatkan apa pun yang diinginkan. 


"Jadi kapan kalian akan pindah?" tanya Margareth dengan nada sedih. 


"Mungkin lusa, Bu. Tapi kurang tahu juga karena nanti sore aku mau keluar kota, jadi untuk sementara waktu Cassandra dan Khalisa di sini sama Ibu. Nanti aku jemput mereka setelah semua pekerjaanku kelar," jawab Yunan. 


Mereka masuk ke kamar. Pun dengan Khalisa, sedetik pun tidak ingin lepas dari pelukan Yunan. Selalu saja bergelayut di dada bidang sang ayah. 


"Mau ikut ke kantor?" Yunan mengambil jam tangan dari tas. 


"Gak ah, malu," jawab Cassandra. "Nanti saja kalau ada acara penting. Aku dan Khalisa pasti ikut." 


"Tapi aku mau ikut sekarang, Bunda. Aku pengen main di kantor ayah." Khalisa merengek, menarik tangan Yunan yang sibuk memakai jam tangan. 


"Jangan rewel, Khalisa. Ayah sibuk, dia nggak mungkin bisa menemanimu main. Mau ikut Bunda nggak, kita jalan-jalan, belanja," ucap Cassandra membujuk. 


Tidak ingin kehadiran Khalisa mengganggu pekerjaan Yunan yang pasti sangat sibuk. 


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku bisa membagi waktu antara pekerjaan dan anak, kalau nggak percaya kamu ikut saja." Tersenyum nakal melihat keraguan Cassandra. 


Sebenarnya Yunan sangat menginginkan Cassandra ikut dan akan memperkenalkan dia kepada seluruh karyawan yang bekerja di kantor. Namun tak yakin jika wanita itu mau memenuhi permintaannya, sedangkan ia juga tak bisa memaksa kehendak sang istri. 


Setelah memikirkan dua kali, akhirnya Cassandra setuju ikut ke kantor bersama Yunan dan Khalisa. Mana mungkin bisa meninggalkan putrinya di kantor, sementara ia santai di rumah. Sebab, hari ini tidak ada jadwal pekerjaan. 


"Tapi janji ya, Kak. Nanti sore ajak aku jalan-jalan," pinta Cassandra untuk pertama kalinya. 


Yunan langsung mengangguk cepat. Tidak akan menolak keinginan sang istri yang begitu ringan. Bahkan, seberat apa pun akan berusaha menyanggupinya. 


Mereka bersiap, hari ini Yunan hanya memakai kemeja putih berdasi dan celana hitam. Sementara jasnya disimpan untuk dipakai nanti di kantor, sedangkan Cassandra memakai gamis longgar cocok untuk menemani sang suami saat bekerja.


Sebelum tiba di kantor, Yunan menghubungi orang untuk membersihkan kamar pribadinya yang jarang ditempati. Meminta mereka menyiapkan ruang main khusus untuk Khalisa. 


''Kita mampir ke apotek sebentar ya, Kak," ucap Cassandra setelah mobil keluar dari gerbang. 


Permintaannya itu justru membuat Yunan bertanya-tanya. "Mau beli apa?" tanya Yunan penasaran. 


"Nggak beli apa-apa, cuma vitaminnya Khalisa aja," jawab Cassandra ragu karena bukan itu sebenarnya yang ingin dibeli, melainkan sesuatu yang lain yang tidak bisa dikatakan kepada Yunan. 


15 menit mereka sudah tiba di depan apotek dekat kantor, Yunan memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Namun ia tidak ikut turun lantaran larangan dari Cassandra. Terpaksa hanya bisa menatap sang istri dari dalam mobil. 


Suasana apotek memang sangat ramai di pagi hari. Cassandra harus mengantri, menunggu beberapa orang yang baru dilayani oleh apoteker. Otaknya terus berputar, kembali memikirkan jalan yang akan diambil sekarang. 


Ya, mungkin pil kb lebih aman, aku gak yakin kak Yunan sanggup menahan hasratnya. 


"Menurut Khalisa, Bunda mau beli apa?" tanya Yunan kepada putrinya. 


"Oh iya ya, ayah lupa." Menepuk keningnya dan menyandarkan punggungnya, sesekali menoleh ke arah Cassandra yang tampaknya mulai dilayani. 


"Mau cari apa, Mbak?" tanya pelayan apotek dengan ramah. 


"Saya mau cari pil Kb," ucap Cassandra tanpa basa-basi. 


Wanita itu mengangguk. Mengambil beberapa kaplet pil dan meletakkan di atas etalase. "Mau yang mana?" Menunjukkan beberapa merek Pil KB yang berbeda. Menjelaskan tentang cara memakainya. 


"Apa semua ini ada efeknya?" tanya Cassandra lagi. 


Tidak ingin salah langkah saat mengkonsumsi, berakibat fatal dan berujung hamil. Bukan menolak anak, hanya saja sementara waktu memang belum siap menambah momongan. 


"Semua ada efeknya, Mbak. Ada yang muntah, ada yang berat badan bertambah dan lain-lain. Tergantung juga sih." 


Cassandra nampak ragu  untuk berkata. Akan tetapi ini kesempatan yang bagus baginya untuk mempertanyakan apa yang ditakutkan


"Sebaiknya kapan waktu yang tepat untuk meminumnya?'' tanyanya dengan lugas.


Mengusir semua rasa malu yang sempat mengendap.


"Lebih tepatnya setelah menstruasi, dan boleh berkumpul dengan suami seminggu setelahnya," papar wanita itu menjelaskan.


"Memastikan bahwa saat Anda meminumnya tidak sedang dalam keadaan hamil.''


Begitu ya, itu artinya aku tidak bisa minum malam ini juga. 


"Menurut Mbak, alat kontrasepsi apa yang paling efektif dan bisa cepat digunakan?" Cassandra sedikit berbisik, malu jika ada orang lain yang dengar. 


"Hanya satu, Mbak. Yaitu ini." Menunjukkan sebuah kotak yang bertuliskan Sutra. 


Tanpa disebut namanya, Cassandra pun sudah tahu apa nama benda itu. Ia sering melihat di tv-tv saat ada berita asusila. 


"Baiklah, saya beli yang itu sama yang ini." Menunjuk satu kotak pil kontrasepsi dan alat kontrasepsi lalu membayarnya dengan uang yang lebih. 


Tidak meminta kembaliannya. Menyimpan dua benda tadi rapat-rapat dan buru-buru kembali ke mobil. Takut Yunan kelamaan menunggunya. 


"Mana vitaminnya, Sayang?" tanya Yunan kepo. 


Cassandra gugup, ia menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. Bingung mau menjawab apa, pasalnya tadi tidak membeli vitamin seperti alasannya, namun memilih sesuatu yang pasti akan membuat Yunan begitu bahagia. 


"Maaf, Kak. Vitaminnya nggak ada yang cocok, mungkin kita ke apotek lain saja. Tapi nggak sekarang, nanti sore aja," ucap Cassandra meyakinkan Yunan.


Kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Percaya begitu saja apa yang dikatakan sang istri. Sedikit pun tak menaruh curiga padanya. 


Semoga kak Yunan percaya apa yang aku katakan dan tidak dia tidak mencurigaiku kalau aku sudah membeli alat kontrasepsi. 


Setibanya di kantor, Yunan memperkenalkan istri dan anaknya kepada seluruh pegawai. Membiarkan mereka saling berjabat tangan dan menggendong putri kecilnya. Tidak ada perbedaan antara Bos dan bawahan, mereka tetap sama.