
Bab. 56
Kemudian pak Atmadja menceritakan hubungannya dengan sang putri yang terbilang tidak baik-baik saja. Namun, pak Atmadja juga sangat menjunjung serta membanggakan putrinya yang sangat mahir sekali bekerja di perusahaan. Bahkan kemampuan negosiasinya hampir tidak pernah gagal.
"Wah ... berarti putri Papa hebat banget dong?" komentar Kendra ketika pak Atmadja menyelesaikan ceritanya mengenai Dilla.
"Iya, Kend," sahut pak Atmadja yang sudah lebih santai lagi memanggil Kendra. "Cuma ada yang Papa sesali dalam mendidiknya. Papa tidak memberikan contoh yang baik dalam hubungan pernikahan. Sehingga dia memutuskan tidak mau menikah. Bahkan akhir-akhir ini malah mengatakan kalau dia sudah melepas keperawanannya dan menyuruh Papa untuk tenang. Karena katanya sebentar lagi Papa akan mendapatkan cucu untuk menjadi penerus Papa selanjutnya," ungkap pak Atmadja.
Raut muka pak Atmadja tampak berubah sendu sewaktu menceritakan Dilla sudah tidak sempurna lagi sebagai seorang gadis yang belum menikah.
Seketika membuat Kendra merasa bersalah karena dirinya juga ikut andil di dalamnya.
"Apa dia melakukan hal itu dengan kekasihnya, Pa?" tanya Kendra mencoba untuk memancing. Sejauh mana pria ini mengawasi anaknya. Atau jangan-jangan sudah tahu kalau dirinyalah pria itu.
"Papa sendiri tidak tahu pastinya, Kend. Cuma Papa berharap dia segera menemukan orang yang bisa membahagiakan Dilla, dan membuktikan kepada Dilla kalau tidak semua pernikahan itu seperti apa yang Papa alami," jawab pak Atmadja. "Tapi jika dipikir, mana ada pria yang mau dengan seorang gadis yang sedang hamil seperti Dilla?" lanjut pak Atmadja.
Untuk kalimat terakhir yang diucapkan oleh pak Atmadja barusan, berhasil membuat Kendra benar-benar menjadi pria bajingan. Tidak pernah sedikit pun memikirkan perasaan orang tua wanita itu.
"Apa boleh kalau saya yang mencobanya, Pa?" tawar Kendra tersinggung sungguh. Membuat papa Armadja mengernyitkan keningnya.
"Maksud kamu?" tanyanya agar lebih jelas lagi.
"Biarkan saya yang akan menikahi putri Papa," ucap Kendra lebih jelas lagi.
Kali ini dia bukan hanya untuk mencobanya saja. Melainkan memang dari awal sudah berniat untuk menikahi wanita itu.
Hingga beberapa menit kemudian, pria itu menatapnya dengan sangat serius.
"Apa kamu sedang bercanda? Sebuah pernikahan bukan bahan candaan seperti yang Papa katakan tadi. Dia sekarang sedang hamil. Meski Dilla selalu berhasil membuat Papa pusing dengan sikapnya, tetapi dia tetap putri Papa. Papa tidak akan membiarkan dia dipermainkan oleh orang lain," tekan pak Atmadja.
Kendra mengerti maksud pak Atmadja. Orang tua mana yang akan menjerumuskan anaknya.
"Apa Papa begitu yakin kalau Dilla sedang hamil?"
Pak Atmadja tersenyum. "Papa lebih pengalaman daripada dia. Meskipun dia tidak mengatakannya dengan jelas. Tetapi semenjak dia bilang sudah melepas kehormatannya dan bilang akan memberikan penerus, saat itu Papa lebih memperhatikan Dilla dari biasanya. Dan dia hampir setiap pagi mual. Tidak mau sarapan. Padahal anak itu paling tidak bisa merasa lapar kalau pagi. Lalu perubahan pada fisiknya. Papa yakin, dia sudah hamil," jelas pak Atmadja.
Meskipun ini membuka aib putrinya sendiri. Namun pak Atmadja tidak membukanya pada orang lain. Pria itu tersenyum penuh arti. Dari tatapannya saja, seolah menyiratkan kalau dia tengah menunggu umpannya di sambut.
Kendra sendiri juga merasa bajingaan sekali jika tidak mengakuinya. Lebih lagi pria ini terlihat sangat baik sebenarnya. Hanya saja mungkin cara berkomunikasi dengan Dilla yang tidak bisa lembut.
"Pa," panggil Kendra seraya menatap serius lagi.
Biru yang sedari tadi di dekat mereka pun hanya diam mendengarkan pembicaraan yang menurutnya sangat la serius.
Pak Atmadja tampak begitu santai. Pria itu membalas panggilan Kendra hanya dengan tatapan serta anggukan samar.
"Sebelumnya saya mau meminta maaf pada Papa. Ini bukan niat awal dari saya untuk merendahkan Dilla. Tetapi ini terjadi begitu saja, dan saya lah lelaki yang sudah menghamili Dilla. Maafkan saya, Pa," ungkap Kendra. Pria itu beranjak dan berlutut di hadapan pak Atmadja. Meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Sedangkan pak Atmadja menatapnya dengan tatapan yang berubah dari sebelumnya. Jika sebelumnya tampak hangat, kini berubah datar.