Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 61. Haus?



Bab. 61


"Kita mau ke mana memangnya?" tanya Dilla setelah mengelap mulutnya dengan tisu.


Entah, dirinya yang memang sangat lapar atau rujaknya yang enak, Dilla menghabiskan tanpa sisa sedikit pun. Hanya menyuapi Kendra satu suap saja di saat pria itu ingin mencicipi.


Alis Dilla tertaut ketika mendapati jalan yang di ambil oleh Kendra saat ini bukanlah jalan menuju rumahnya.


Kendra yang tengah mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumahnya, lantas menoleh sekilas dan tersenyum tipis.


"Ada seseorang yang pingin banget ketemu sama kamu," jawab Kendra.


Dan jawaban Kendra tersebut mampu membuat Dilla semakin tidak mengerti. Memangnya siapa yang ingin bertemu dengan dirinya. Sedangkan selama ini Dilla tidak benar-benar terbuka dengan orang lain kecuali teman-temannya itu.


"Siapa?" tanya Dilla dengan raut penasaran.


"Nanti kamu juga tahu," sahut Kendra.


Jika ia memberitahunya sekarang, sudah pasti Dilla akan minta putar balik atau parahnya turun dari mobilnya saat itu juga. Sebab, orang yang ingin bertemu dengan Dilla kali ini ialah mamanya, bu Mawar. Orang yang sedang Dilla hindari, ketika bertanya apalah bu Mawar tahu hubungan rumit di antara mereka dan Kendra menjawabnya tahu.


"Masih lama nggak?" tanya Dilla lagi. Rupanya, semenjak hamil rasa penasarannya selalu kalah dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang seperti sekarang ini.


"Palingan masih satu jam lagi," jawab Kendra.


Sengaja memperlambat waktu bertemunya mereka. Agar Dilla tidak curiga.


Dilla mengangguk tanpa menaruh curiga sedikit pun. Ia benar-benar tidak kuat menahan rasa kantuk yang sungguh luar beratnya. Terlebih lagi ketika keadaan perutnya yang kenyang, serta anak yang ada di dalam kandungannya tidak sedang menguji kesabarannya. Mungkin dia juga kekenyangan sehingga sudah terlelap duluan. Pikir Dilla.


"Kalau gitu, aku tiduran bentar ya. Nanti bangunin aku kalau udah mau sampai. Ngantuk banget soalnya," ucap Dilla meninggalkan pesan pada Kendra.


Belum sempat Kendra menjawab ucapan Dilla, pria itu menoleh ke samping dan mendapati Dilla sudah memejamkan mata dengan napas teratur. Itu menandakan jika Dilla sudah terlelap.


"Baru aja lima menit. Tapi udah main tidur aja," keluh Kendra.


Padahal pria itu ingin membahas sesuatu di antara mereka. Bukan, bukan membahas maksudnya. Melainkan memberitahu dan tidak bisa diganggu lagi keputusan final yang sudah ia ambil dan juga orang tua mereka.


Kendra sengaja mengambil arah memutar agar sedikit lebih lama, hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya sendiri.


"Dilla," panggil Kendra dengan nada yang sangat lembut. "Bangun, kita sudah sampai," ujarnya lagi.


Namun, tidak ada respon sama sekali dari wanita itu. Kemudian Kendra menggoyangkan pelan lengan Dilla sembari memanggilnya lagi.


"Dilla, kita sudah sampai. Ayo turun. Ada yang mau bertemu sama kamu, loh," ujar Kendra.


Hasilnya masih sama, hingga Kendra melihat seorang wanita paruh baya keluar dari rumah dan berjalan menuju ke arah mobilnya.


Wanita itu tampak terkejut dengan keadaan Dilla. Berpikir yang tidak-tidak.


"Loh, kenapa Dilla-nya, Kend? Kamu apain dia sampai pingsan?" tanya bu Mawar dengan raut khawatir, namun suaranya tetap rendah dan lembut.


Kendra menaruh jari telunjuknya di depan bibir.


"Belum Kendra apa-apain, Ma. Dia sedang tidur. Kekenyangan mungkin," ucap Kendra sembari menunjuk ke arah piring kosong dan ada bekas sampah kertas bungkusan di atasnya.


Bu Mawar mengangguk paham. "Ya sudah, kalau gitu kamu gendong dan bawa masuk aja, Kend. Nggak baik ibu hamil tidur sambil duduk kayak gini. Pinggangnya cepet gampang sakit nanti."


Tanpa disuruh dua kali, Kendra turun dan berjalan memutari mobilnya. Lalu meraih tubuh Dilla dengan sangat pelan, dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Kendra baru tahu, jika sudah tertidur seperti ini, Dilla akan susah dibangunkan. Bahkan tidak terusik sama sekali ketika ia menggendongnya dan membawa naik ke lantai dua.


"Loh, kok di bawa ke kamar kamu, Kend? Ke kamar Mama aja!" ingat bu Mawar mulai panik namun tetap tidak meninggikan suaranya.


"Sekalian Kendra mau minum bentaran, Ma." sahut Kendra asal.


"Hah?" bu Mawar melebarkan matanya.


"Eh, mau tidur sore bentaran. Nanti kalau udah bangun, kita turun ke bawah. Mama suruh Bi Siti masakin buat makan sore sekalian Ma. Takut Dilla lapar nanti," ujar Kendra yang kemudian berlalu begitu saja. Menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan lalu terdengar suara pintu terkunci.


Meninggalkan bu Mawar yang masih berada di depan kamar Kendra dan mencerna ucapan putranya tersebut.


Yuta juga mau diminum ama pak dospen. eh🤭