Hidden CEO

Hidden CEO
Titik terang



Kedatangan Yunan disambut beberapa orang yang memang sudah ditugaskan untuk pergi ke Singapura lebih dulu. Ternyata mereka sudah menemukan tempat tinggal Lolita, namun belum menemukan tanda apa pun karena rumah itu sangat sepi.


Penjaga pun tetap bungkam dan membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu Yunan datang.


''Apa ada yang mencurigakan?'' tanya Yunan tanpa menghentikan langkahnya.


''Tidak ada, Pak. Kemarin saya melihat anak laki-laki sekitar umur 12 tahun masuk dengan seorang pria, tapi saya tidak melihat seorang perempuan di sana."


''Kamu yakin?'' imbuh Cassandra.


''Yakin, Bu,'' jawab orang itu yakin.


Itu pasti Aldo.


Mereka langsung masuk mobil yang sudah disiapkan, kemudian melaju membelah jalanan yang sangat ramai. Cuaca kota Straits View sangat panas sekali hingga beberapa kali Cassandra mengeluh. 


''Bisa istirahat sebentar nggak, Pak? Aku haus.'' Kebetulan sekali di mobil memang tidak ada air mineral, sedangkan Cassandra sudah tak tahan menahan haus. Kerongkongannya terasa kering.


Perjalanan yang begitu melelahkan juga membosankan baginya, ia ingin segera menemukan kakaknya. Segera mobil berhenti di tepi jalan, tepatnya di depan supermarket. Yunan turun dan membeli beberapa botol air mineral lalu kembali membawanya masuk. Lantas, ia menyuruh sopir untuk kembali melajukan mobilnya. Tak Butuh waktu lama, hanya berkisar 30 menit mereka tiba di depan rumah yang lumayan mewah. Benar saja, rumah itu terlihat sangat sepi, tidak ada siapa pun yang beraktivitas di luar rumah. Hanya ada penjaga gerbang yang tampaknya sedang sibuk berbicara dengan ponselnya.


''Kamu yakin ini rumahnya?'' tanya Yunan memperhatikan rumah itu dari dam mon..


''Benar sekali, Pak. Kemarin saya melihat orang masuk seperti foto yang Bapak kirim.''


Yunan tak langsung turun, ia menyuruh salah satu orang suruhan untuk turun lebih dulu dan bertanya kepada sang penjaga.


''Permisi, Pak,'' sapa orang yang berbaju hitam, yakni orang suruhan Yunan.


Satpam itu menoleh ke arah sumber suara lalu mendekatinya.


''Saya mencari seseorang yang bernama Pak Novan. Apa benar ini rumahnya?'' tanya pria itu pura-pura melihat nama yang tertera di ponsel.


''Anda siapa? Dan ada keperluan apa?'' tanya satpam itu dengan tegas.


Saya salah satu direktur dari perusahaan otomotif di kota Simpang dan memiliki kerjasama dengan Pak Novan. Tapi sudah beberapa hari ini beliau tidak pernah memberi klarifikasi. Saya datang ke sini untuk mempertanyakan kelanjutan kerjasama itu,'' ucap pria itu seperti yang diajarkan Yunan.


Dengan begitu, satpam tidak terlalu curiga dengan kedatangannya.


''Baik, saya akan tanyakan lebih dulu. Silakan ditunggu!'' tanpa membuka gerbang, satpam itu masuk ke dalam rumah menghampiri seorang pria yang tampak tertawa sembari memamerkan uang di depannya.


''Maaf, Pak. Di depan ada tamu, katanya dari kota Simpang ingin membicarakan kelanjutan kerjasamanya,'' ucap satpam dengan jelas.


Novan mengerutkan alis mengingat-ingat perusahaan yang ada di Simpang.


Perasaan aku nggak pernah kerja sama di sana, Kenapa ada orang yang mencariku ke sini?


Tentu saja ia sedikit bingung, namun tetap berdiri dan berjalan ke arah pintu. Memastikan seseorang yang tengah datang mencarinya. Dilihat dari penampilannya yang berjas, tubuhnya tinggi kekar meyakini bahwa pria itu memang benar-benar orang terpandang.


Novan keluar menghampirinya.


Cassandra yang ada di mobil hampir saja membuka pintu. Namun sayang, Yunan segera menarik tangannya kemudian menggeleng. Belum waktunya, begitu tatapannya berkata. Terpaksa ia berdiam diri di sana menunggu sang suami bertindak.


''Tapi kapan, Kak? Kasihan Kak Lolita?'' ucap Cassandra khawatir.


Yunan mencium bibir wanita itu sekilas.


''Kakak yakin bisa sendiri?''


"Kamu meragukanku?'' Yunan tak terima. Seolah Cassandra meremehkan kekuatannya.


''Bukan ragu, Kak. Tapi aku takut kalau Kak Novan berbuat macam-macam.'' Wanita mana yang tak takut melihat suaminya harus berhadapan dengan orang seperti Novan. Pun dengsn Cassandra, tskut susmunya terluka.


Apalagi mereka baru saja bertemu dan kini sudah dihadapkan dengan masalah yang begitu serius.


''Tenang saja, Sayang. Tidak ada yang berani macam-macam padaku. Kamu tunggu di sini, biar aku yang turun.'' Yunan membuka pintu mobil. Ia dan mendekati Novan.


Sama seperti dulu, Novan menatap Yunan dengan tatapan bengis. Pria itu mungkin tak lupa dengan status mereka yang sama-sama menantu dari keluarga Margareth. Namun sayang sekali, derajat Yunan lebih rendah daripada dirinya.


''Oh jadi ini orang suruhan kamu.'' Novan tertawa terbahak-bahak.


''Dia memang orang suruhanku. Kedatanganku ke sini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, sekarang katakan di mana Kak Lolita?'' tanya Yunan serius.


''Mau apa kamu mencari dia? Bukannya kamu tidak ada hubungan sama dia?'' Novan terlihat penuh basa-basi.


''Apa pun yang berhubungan dengan istriku, itu akan menjadi urusanku. Sekarang katakan, di mana Kak Lolita? Atau aku akan masuk dengan cara paksa.''


Bukan membuka pintu gerbang seperti keinginan Yunan, justru pria itu melipat tangan. Mengulur waktu.


''Kamu tidak lupa kalau kamu itu hanya menantu sampah di rumah Margareth,'' ucap Novan mengingatkan. ''Jadi untuk apa kamu mencari Lolita? Hanya makian yang akan kamu terima nanti.'' Begitu yakinnya pria itu berucap. 


''Aku tidak akan mati hanya mendapat makian dati keluarga istriku, tapi aku akan mati ketika malaikat maut mengambil nyawaku. Jadi Kakak tenang saja, meskipun keluarga Ibu membenciku, aku akan tetap berdiri.'' Yunan tidak akan lemah sekarang.


''Katakan di mana Kak Lolita? atau aku akan masuk dengan paksa?'' Lagi-lagi Yunan mengancam. 


''Om Yunan, tolongin mama,'' teriak suara anak kecil dari ambang pintu membuat Yunan menoleh.


Dia adalah Aldo, anak satu-satunya Lolita. Senyum terbit dari sudut bibir Yunan ketika melihat keponakannya tengah memanggilnya, namun kata-kata yang meluncur dari bibir tebal bocah itu sangat membuatnya terkejut.


''Apa yang terjadi dengan Mama?'' tetiak Yunan dari luar gerbang.


Novan segera berlari dan menyeret Aldo lalu membawanya ke dalam. Menutup pintu dan menguncinya.


Yunan semakin curiga dan yakin keadaan rumah tangga Lolita sedang tidak baik-baik saja. Dia menyuruh beberapa orang untuk naik dari atas gerbang. Memaksa satpam memberikan kuncinya.


Yunan kembali ke mobil dan mengajak Cassandra turun. Tidak mungkin ia meninggalkan wanita itu sendirian, sementara ia akan masuk.


''Jangan lepaskan tanganku!'' ucap Yunan sangat serius.


Cassandra menggangguk setuju.


Mengikuti langkah lebar sang suami menuju pintu utama. Berharap hari ini akan mendapatkan titik terang tentang masalah yang dihadapi Kakaknya sendiri. 


''Ampun Papa, ampun Papa.''


Teriakan Aldo terdengar oleh Cassandra yang ada di depan pintu. Wanita itu seolah tak percaya mendengar suara keponakannya yang merintih kesakitan dan minta ampun.


''Cepetan buka pintunya, Kak! Kasihan Aldo,'' pinta Cassandra buru-buru.


Yunan, bersama orang-orang suruhannya pun membuka pintu dengan cara paksa hingga hancur.