
Bab. 65
"Jelaskan sama Mama, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya bu Mawar menatap tegas ke arah sang putra.
Sekarang ini, mereka ada di ruang tengah. Di mana Kendra tengah di sidang oleh mamanya sendiri. Sementara Dilla, wanita itu pamit ganti baju dan meminjam baju Kendra. Karena mau meminjam baju bu Mawar, jelas tidak ada yang pas di tubuhnya. Sebab postur tubuh Dilla lebih tinggi dari bu Mawar dan hampir sejajar dengan Kendra.
"Itu semua karena Dilla yang salah paham, Ma," jawab Kendra.
"Salah paham gimana? Jangan kasih jawaban yang setengah-setengah, Kendra. Kamu tahu sendiri Mama paling nggak suka seperti itu!" tegas bu Mawar seperti sedang benar-benar menyidang mahasiswa di ruangannya. Bahkan tatapan lembut yang sebelumnya melekat pada bu Mawar, seolah sirna begitu saja.
Kemudian Kendra menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Dilla dan bagaimana semua itu terjadi. Tentu, Kendra tidak menskip apapun itu, bahkan di bagian yang sangat tabu sekalipun.
Bu Mawar menggeleng kepala. Ternyata, di sini anaknya sebagai korban yang meneruskan perbuatan si pelaku. Entah, mau marah atau bagaimana. Semua sudah terlanjur dan ada hasil.
Kendra juga menceritakan kebiasaan Dilla setelah hamil.
"Begitulah, Ma. Makanya, sampai sekarang Dilla nganggep Kendra tuh sopir taxi online sama dosen pengganti. Nggak tau Kendra yang sebenarnya. Untungnya saja rumah ini nggak terlalu mewah juga. Jadi nggak terlalu membuat dia bingung," terang Kendra menutup ceritanya.
Bu Mawar menggeleng kepala. "Kalian itu ada-ada aja. Terus gimana kalau sampai Dilla tahu? Dia kayaknya juga belum suka sama kamu, kan?"
Kali ini giliran Kendra yang menggeleng kepala. "Kendra tidak butuh Dilla suka sama Kendra secepat ini, Ma. Paling nggak Kendra orang yang dibutuhkan Dilla. Itu poin terpentingnya. Dengan seiring waktu nanti, dia juga bakalan suka sama Kendra." jelas Kendra.
Bu Mawar terserah saja. Asal yang menjalani tidak keberatan dan tidak saling menyakiti. Di tambah lagi ia juga baru tahu kalau Dilla tidak menginginkan sebuah pernikahan di dalam hidupnya.
"Ya sudah, kalau begitu Kendra naik dulu, Ma. Mau liat Dilla. Kok lama banget nggak turun-turun," pamit Kendra yang kemudian beranjak dari sana.
"Malam ini Dilla tidur sama Mama, kalau dia nggak kamu pulangkan." ingat bu Mawar tegas.
"Nggak! Tunggu kalian sudah sah dulu, baru boleh tidur bareng." tolak bu Mawar.
"Tapi, Ma ... besok kan udah sah," rengek Kendra yang tetap mendapat penolakan dari bu Mawar.
Kemudian Kendra kembali ke kamarnya untuk melihat Dilla. Apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu. Sampai-sampai tidak keluar dari kamarnya.
Dengan gerakan pelan, Kendra membuka pintu kamarnya. Ia bisa melihat jika di atas ranjangnya saat ini tangan ada bidadari yang baru jatuh dark langit.
Kendra menatapi pemandangan tersebut. Lalu datang menghampiri tanpa menutup pintu. Daripada nanti mama ke sini dan membuat gaduh. Pikirnya.
"Dilla, kamu udah tidur?" tanya Kendra dengan suara lembut.
Ia lihat jika Dilla sudah memejamkan mata. Membuat Kendra bernapas lega. Itu artinya, Dilla tidak perlu tidur bersama mamanya dan malam ini mereka bakalan tidur bareng.
"Syukur ... lagi dan lagi semesta mendukungku," ucap Kendra sembari mengusap dadanya.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik saja, ketika Kendra baru menyadari Dilla yang hanya mengenakan kaos oblong miliknya.
Memang, kaos Kendra yang dipakai Dilla sekarang ini terbilang kebesaran. Hingga panjang nya bisa di bawah pantat. Akan tetapi, tetap saja paha mulus uang pernah Kendra gigit itu pun tampak begitu menggoda dirinya. Buru-buru Kendra menutupnya dengan selimut sampai pinggang.
"Aaahh ... setidaknya dengan begini aman," gumam Kendra.
Aman untuk sekarang, tetapi tidak tahu jika nanti malam tiba-tiba tangannya khilaf. Di tambah lagi jika sedang bersama dengannya, Dilla sering kali meminta perutnya di elus-elus. Katanya terasa sangat nyaman.
Bahkan setiap malam mereka melakukan panggilan video call hanya karena Dilla ingin Kendra berbicara dengan anak mereka. Wanita itu akan menempelkan ponselnya di atas perut. Jadilah Dilla yang tidur dan Kendra berbicara sendiri dengan anak mereka.