Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 87. Ancaman Yang Begitu Mengerikan



Bab. 87


Kendra mendudukkan istrinya di kursi rias wanita itu. Lalu berjongkok di depan Dilla sembari menatap lembut ke arah wanita itu. Tidak lupa juga Kendra menggenggam lembut tangan Dilla yang berada di atas pangkuan wanita itu sendiri.


"Sayang ... aku bisa jel—"


"Dia mantan kamu?" potong Dilla cepat sembari menatap suaminya dengan sangat intens. Seolah tidak akan melepas pria itu sedikit pun.


Kendra menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembuskan secara perlahan. Dengan berbekal keyakinan yang Kendra miliki dan istrinya memang harus tahu masa lalunya, pria itu pun akhirnya mengangguk. Sangat pelan sekali.


"Ck! Sudah kuduga," sahut Dilla dengan wajah kesalnya.


Melihat istrinya memalingkan muka, cepat-cepat Kendra memeluk pinggang wanita yang ada di depannya dan menempelkan kepalanya di perut Dilla.


"Sayang ... itu kan masa lalu. Semua orang juga punya masa lalu. Sama halnya seperti kamu. Kita jalani yang ada di hadapan kita aja, ya? Ya?" ujar Kendra membujuk Dilla agar tidak mempermasalahkan masa lalunya.


Dilla diam. Wanita itu menatap lekat-lekat wajah suaminya yang ada di pangkuannya.


"Ngapain saja sama dia?" tanya Dilla dengan mata memicing. Belum sempat Kendra menjawab, Dilla sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya lagi. "Jangan bilang kalau kalian udah pernah melakukan penyatuan jiwa dan raga?" tebak Dilla.


Sontak, membuat Kendra membelalak. "Iya!" bibirnya membenarkan itu, akan tetapi kepalanya menggeleng.


Dilla semakin memicing dan menggigit bibirnya.


"Kamu emang bener-bener pria yang bangs—"


"Sayang Sayang Sayang ... dengerin dulu!" potong Kendra cepat sebelum Dilla mengucapkan kata yang tidak ingin Kendra dengar. "Itu dulu. Duluuuuu ... banget!" elak Kendra mencari pembenaran.


Sedangkan Dilla menggelengkan kepala. Dia lelah hari ini. Ingin segera istirahat dan mungkin akan melupakan kenyataan yang baru saja ia ketahui.


"Udahlah, Mas. Aku udah lelah sama kamu," ucap Dilla seraya melepas tangan Kendra yang masih melingkar di pinggangnya.


Deg!


"Aku mau—" belum sempat Dilla menyelesaikan kalimatnya, lagi dan lagi Kendra sudah menyela ucapannya.


"Nggak, Yaang! Aku nggak mau kita cerai!" tegas Kendra dengan tatapan begitu tajam. Tidak ada lagi tatapan lembut seperti sebelumnya. Bahkan pria itu sembari bangkit mengatakan hal yang sebenarnya tidak ada di dalam pikiran Dilla saat ini.


Kalimat yang barusan terucap dari mulut suaminya, benar-benar membuat Dilla tidak menyangka. Wanita itu mendongak demi melihat wajah suaminya.


"Cerai?" ulang Dilla dengan syara lirih, namun penuh dengan penekanan. Wanita itu mulai bangkit dari duduknya tanpa mengalihkan tatapan tidak percayanya ke arah Kendra.


"Iya. Kamu mau bilang itu, kan? Mau cerai dariku hanya karena aku punya masa lalu sama sepupumu. Nggak! Jangan harap kamu bis—akhh!" ucapan Kendra berubah menjadi sebuah pekikan yang cukup keras. Karena kuku kuku panjang Dilla yang meremas mulut Kendra begitu kuat. Bahkan sampai menyebabkan luka di sana.


"Oh, jadi kamu yang punya pikiran cerai sama aku, Mas? Hmm?" kini Dilla yang membalikkan kalimat tersebut. Membuat Kendra bingung.


"Enggak, Yaang. Sama sekali, enggak!" elak Kendra sembari menggelengkan kepalanya cepat.


Dilla berdecak. "Terus tadi kok nuduh aku mau ceraikan kamu? Padahal aku sama sekali nggak punya pikiran yabg mengarah ke situ. Aku mau bilang, kalau aku mau tidur. Capek. Tapi ternyata pikiranmu sudah jauh banget. Ck!" Dilla melepas tangan Kendra yang memeluk dirinya. "Bilangnya aja pingin berjuang, pingin buktiin kalau pernikahan itu indah. Tapi nyatanya, pikiran kamu sendiri yang—"


"Yaang Yaang ... maaf, aku terlalu takut kalau kamu minta itu. Aku nggak mau ce—"


Dilla mendorong Kendra kuat hingga ada spasi di antara mereka.


"Tidur di luar," ucap Dilla lirih. Wanita itu memalingkan wajahnya dan menuju ke ranjang. Membaringkan tubuhnya tanpa berniat mengganti jubah mandi dengan baju. Mungkin karena terlalu emosi, rasa-rasanya perutnya terasa kram.


Sedangkan Kendra ingin mendekat, namun mendapat tatapan tajam dari Dilla.


"Tidur di luar, atau benar-benar aku keluarkan kamu dari KK?" ancam Dilla.


Meskipun suaranya lirih, namun penuh dengan penekanan. Membuat Kendra bergidik ngeri. Lebih baik istrinya itu berteriak dan memukul dirinya, daripada harus bersikap diam dan lebih lembut dari biasanya.


Besok palingan Yuta libur ya, Ayang. Soalnya mau nikah. Eh, sepupu yang mau nikah. hehe. Kalo sempat ya nanti malam Yuta kasih bonus. Ketcup batcsah dulu. Muah!