Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 78. Membuka Hati



Bab. 78


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu, Mas?" tanya Dilla.


Dia memang tahu, bahwa tidak semua pernikahan itu buruk. Buktinya, orang tua Amira juga terlihat sangat harmonis saat mereka bertemu dulu. Juga mertuanya sendiri yang tetap terus bersama pasangan sampai maut yang memisahkan mereka.


Kendra memegang bahu Dilla, lalu membalikkan tubuh sang istri. Menatapnya dengan tatapan begitu lembut, lalu mengusap pipi Dilla yang tampak lebih berisi dari sebelumnya. Lebih terlihat imut di matanya saat ini.


"Aku nggak bisa janji, tetapi kita bisa saling berusaha agar apa yang di alami oleh pernikahan orang tuamu, tidak terjadi pada rumah tangga kita. Kita sama-sama belajar, mau? Hmm?" tanya Kendra dengan suara yang sangat lembut. Tidak ada nada memaksa seperti sebelumya yang pria itu lakukan.


Tentu, hati Dilla tersentuh mendengarnya. Ia tidak menyangka jika pria yang asal ia pilih untuk pendonor bibirnya tersebut benar-benar pria yang tepat.


"Kamu ngajakin aku buat saling suka?" tanya Dilla lagi.


Meski pengalaman berpacaran dengan banyak pria Dilla kantongi, namun untuk urusan perasaan, wanita itu sangat nihil pengalaman.


Kendra menghela napas. Lalu menggelengkan kepala. Membuat Dilla melotot tidak mengerti.


"Nggak. Aku mau ajakin anak didik mama yang lain aja. Yang lebih nurut. Yang lebih manis. Dan yang penting, lebih menghargai apa yang sudah aku lakukan untuk di—"


"Mas!" sentak Dilla dengan suara yang keras.


Meskipun terkejut, namun Kendra tertawa terbahak melihat reaksi Dilla yang marah karena ucapannya.


"Baru juga belum ada dua puluh empat jam nikah, ini malah berencana mau selingkuh!" tuduh Dilla menatap kesal ke arah Kendra. Bahkan wanita itu melepas tangan Kendra yang ada di pinggangnya. Mendorong dada pria itu hingga sedikit mundur dari posisinya semula.


Kendra senang melihat Dilla seperti ini. Paling tidak wanita itu mempunyai Raza tidak mau berbagi miliknya pada orang lain.


"Kenapa? Orang kamu nggak cinta sama aku, kan? Ya udah, aku car—"


"Iihhh ...!" Dilla mencubit perut Kendra dengan keras dan sangat kecil. Menyebabkan panas di area kulit perut pria itu. Sampai-sampai Kendra memekik sakit.


"Ya makanya jangan ngomong sembarangan! Ajarin tuh istrinya, bukan malah wanita lain!" semprot Dilla dengan nada yang menggebu.


Kendra tersenyum. Akhirnya macan ini takluk juga padanya. Kendra menatap Dilla tanpa kata. Membuat wanita itu mengerjap gelisah.


"Biasa aja liatnya!" sewot Dilla sembari meraup wajah Kendra, namun segera ditahan.


Kendra justru membawa tangan Dilla ke pipinya. Mencium lembut tangan wanita yang sedang mengandung anaknya.


"Jadi ... udah ada rasa cemburu, ini?" goda Kendra yang semakin brutal.


Bagaimana tidak. Tepat mengatakan kalimat tersebut, dengan sengaja Kendra memasukkan jari telunjuk Dilla ke dalam mulutnya. Dengan mata yang menatap dalam ke arah Dilla.


Sontak, membuat Dilla salah tingkah dan langsung menarik tangannya. Ada perasaan aneh yang ia rasa di saat Kendra melakukan hal tersebut.


"Apa-an, sih! Enggak, ya!" elak Dilla sembari memutar tubuhnya berniat keluar dari kamar.


Karena menurutnya, tempat yang paling berbahaya sekarang ini ialah berada di dalam kamar. Sebab, ada sosok yang akan memaksa hingga membuatnya terlena untuk melakukan hal-hal yang baru dengannya.


"Eits! Kamu nggak bisa kabur gitu aja, Yaang. Tanggung jawab dulu, dong!" dengan cepat Kendra mencekal lengan Dilla dan menarik wanitanya itu hingga jatuh ke dalam dekapannya.


"Maass ... jangan keras-keras nariknya. Dedek kegencet nanti," rengek Dilla mengingatkan. "Lepasin! Aku mau keluar dulu!"


"Nggak!" tolak Kendra. Pria itu membawa tangannya untuk mengusap perut Dilla yang terasa mengeras. "Mau pastiin Dedek nya dulu. Aman apa enggak," ucap Kendra sembari menatap jahil.


Hal itu sukses membuat Dilla tersipu malu.


"Enggak mauu ...!"