
Bab. 80
Sesampainya di kampus, seperti biasa, Dilla tetap minta diturunkan di persimpangan jalan yang tidak jauh dari gerbang kampus.
"Kamu masih malu karena udah nikah?" tanya Kendra. Nada keberatan dari pria itu sangat kentara sekali terdengar. "Atau malu punya suami kayak aku? Hmm?" cecarnya lagi.
Dilla menghela napas. "Mas, bukannya gitu. Aku cuma nggak ma—"
"Yaang ... gini gini juga aku dulu pernah jadi idola loh di kampus ini. Masa kamu malu punya suami tampan, mapan, nurut sama istri, perhatian, penuh kasih sayang, pekerja keras, suka menabung, kay—eh, sekarang kan hartaku pindah ke kamu semua," ralat Kendra ketika menyebutkan dirinya kaya.
Dilla terkekeh mendengar kalimat terakhir suaminya.
"Ya lagian salah kamu sendiri, Mas. Makai janji janji segala macam."
Kendra melirik kesal. "Ya kalau nggak aku gituin, kamu mana mau aku nikahin, Yaang. Emang ya, cewek itu matre bang—"
"Muluuuuuttt!" gemas Dilla yang langsung meremas mulut suaminya. "Kamu ingat ya, Mas. Itu namanya bukan matre. Itu sangat realistis. Cewek yang kamu nikahin bukan sembarang cewek loh, ini! Apalagi kamu langsung dibonusin anak-anak yang lucu nanti. Jadi, harus bersyukur, oke?"
Ketika Kendra akan menjawab, dengan cepat Dilla menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibir Kendra.
"Huusstt! Ndak boleh ngeluh. Oke?" ingat Dilla sembari mengedipkan matanya beberapa kali.
Hembusan napas kasar terdengar dari mulut Kendra. Pria itu terlihat sangat pasrah sekali.
"Iya deh, iya ... makhluk yang paling bener pokoknya," sahut Kendra yang langsung mendapat delikan mata dari Dilla.
Kendra tersenyum, lalu pria itu menyalakan mesin mobilnya kembali. Membuat Dilla bingung. Karena ia akan membuka pintu namun segera di kunci oleh Kendra.
"Apapun aku turuti, tapi aku tetap nggak akan biarkan kamu jalan jauh banget. Kasihan Dedek nanti capek, Yaang," jawab Kendra menambah laju mobilnya.
Dilla menutup wajahnya. Frustasi dengan silap Kendra.
"Nanti seisi kampus malah tahu kalau aku punya hubungan sama kamu, Mas," ucap Dilla dengan raut yang memelas.
Kendra tidak menoleh sama sekali. Bukan karena tidak peduli lagi. Melainkan takut pendiriannya akan goyah jika melihat wajah Dilla yang memelas seperti itu. Apalagi kalau posisinya di bawah kungkungannya. Makin nggak tahan. Eh!
"Memang itu tujuanku!" jawab Kendra singkat, padat, dan jelas. Tentu saja membuat Dilla tersentak kaget.
"Kok gitu sih, Mas?"
Dilla semakin menunduk. Dia tidak berani mengangkat wajahnya di saat mobil Kendra berhenti di area depan kampus. Bukan di depan gerbang, melainkan di lapangan utama kampus yang terletak di depan.
Kendra mematikan mesin mobilnya. Lalu menatap ke arah Dilla yang seolah menyembunyikan diri. Ia sedikit tertawa, percuma saja disembunyikan jika sosok sang primadona kampus ini banyak melekat di kepala anak kampus di sini.
"Sayang ...." panggil Kendra lembut sembari menurunkan tangan Dilla dengan pelan. "Aku hanya ingin memberitahu mereka, kalau primadona kampus mereka sudah ada pemilik sahnya. Bahkan kalau boleh, aku juga akan mengatakan kepada mereka kalau di dalam perut kamu ada generasiku. Gimana? Kamu milih yang mana dulu?"
Terlalu dini memang menilai Kendra sebagai pria yang sangat pengertian dan penuh kasih sayang. Walaupun memang benar penuh kasih sayang, tetapi sikap jahil dsn menyebalkan yang pria itu miliki tetap saja masih melekat erat pada diri Kendra.
"Boleh kupukul nggak sih kamu, Mas?" geram Dilla menatap sinis ke arah suaminya.
Sedangkan yang ditatap malah tertawa tertahan.
"Jangan dong! Dicium aja boleh. Mau di sini? Di sini? Atau di sini?" ujar Kendra sembari menunjuk ke arah kening, pipi, dan terakhir di bibirnya.