Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 77. Selangkah Lebih



Bab. 77


"Berarti secara nggak langsung, nanti kalau usia pernikahan semakin bertambah bakalan akan sama seperti Papa?" sahut Dilla yang tidak tahan lagi. Menatap tajam ke arah papanya.


Papa Atmadja menghela napas. Ia lupa jika putrinya ini masih begitu benci pada ikatan pernikahan.


Kendra yang sangat peka pun langsung menyentuh tangan Dilla. Memberi usapan lembut di sana.


"Sayang ... maksud Papa itu bukan seperti itu. Lagi pula, aku akan lengket terus kok sama kamu. Tenang aja, hmm." ujar Kendra mencoba menenangkan sang istri.


Dilla melirik sinis ke arah suaminya. Menatapnya dengan tatapan begitu jengah.


"Masih nggak percaya? Hmm?" tanya Kendra dengan suara dan tatapan begitu lembut. "Kan tadi aku udah bilang sama pengacaraku, Yaang. Semua akan jatuh ke anak kita dan wakilnya itu kamu," lanjut Kendra lagi mencoba mengingatkan hasil dari pembicaraan mereka sebelumnya.


Bukan itu yang Dilla mau. Masalah harta, ia bisa mencarinya sendiri. Namun, untuk masalah kesetiaan dan menjaga keharmonisan sebuah hubungan, Dilla benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya.


"Aku udah nggak lapar, Mas," ucap Dilla.


Tenaganya sudah di habiskan bersama sang suami tadi. Ia juga malas untuk berdebat di depan mertuanya sendiri. Oleh karena itu, Dilla lebih baik menghindar.


Setelah mengatakan hal tersebut, Dilla memilih segera beranjak dari sana dan masuk ke dalam kamarnya lagi.


Kali ini, wanita itu tidak berdiam di atas ranjang. Rebahan sambil menonton drama. Dilla menuju ke balkon. Menghirup udara malam dari sana.


"Dulu, sebelum semua menjadi parah seperti sekarang, jam segini aku baru keluar dari rumah. Menghabiskan waktu di club dan bersenang-senang dengan para teman-temanku. Tapi sekarang?" Dilla tersenyum masam. Ia tahu jika ada seseorang yang berada di di belakangnya saat ini. "Bahkan aku sendiri seolah terkurung di sini," imbuhnya.


"Apa kamu mau menghabiskan waktu di club, Yaang?" tanya Kendra halus. Tidak ada amarah di sana.


Dilla sendiri juga heran. Ia tidak pernah melakukan hal yang membuat pria itu suka kepada dirinya. Selalu saja membantah apa yang Kendra lakukan. Bahkan melakukan hal yang sangat tidak disukai pria itu. Tetapi apa balasannya? Pria itu tetap dengan sabar dan telaten bertahan agar tetap berada di dekatnya.


"Apa pengertianmu tentang semua ini, Mas?" tanya Dilla tanpa melihat ke arah Kendra.


Sedangkan pria itu berjalan mendekat ke arah sang istri.


"Tentang pernikahan?" tanya Kendra lebih memastikan ulang.


Dilla mengangguk. "Ya. Aku masih nggak ngerti dengan artian sesungguhnya. Apakah sebuah hubungan di mana saat mereka ingin menghabiskan bersama dengan orang yang mereka mau?" tanya Dilla. Tatapannya masih tetap lurus ke depan.


Kendra menarik napas mendengar pertanyaan Dilla kali ini. Topiknya sangat sensitif, di tambah lagi kondisi wanita itu dalam keadaan mood yang buruk.


"Menurutku bukan hanya untuk menghabiskan waktu bersama dengan seseorang yang mereka cintai. Tetapi mereka ingin membuat sebuah keluarga kecil dan mereka akan mati-matian saling bekerja sama dalam mewujudkan hubungan yang harmonis. Saling berjalan berdampingan. Bukan saling menjatuhkan dan meninggalkan." tegas Kendra di akhir kalimatnya.


"Lalu, untuk pasangan tanpa cinta seperti kita, bagaimana hukumnya?"


"Eits eits eits ...! Siapa yang tanpa cinta? Aku cinta banget sama kamu, Yaang. Udah jelas aku akan memberikan kehangatan serta kenyamanan dalam rumah tangga kita. Dan yang paling penting, apapun akan aku lakukan asal istri dan anakku bahagia. Kalian cukup mendukung apa yang aku lakukan," sahut Kendra panjang lebar.


Dilla yang mendengar penuturan Kendra pun langsung menoleh ke belakang. Rupanya, suaminya tersebut sudah berdiri tepat di belakangnya.