Hidden CEO

Hidden CEO
Kedatangan Lolita



Lambaian tangan mengiringi langkah Yunan menuju pesawat. Dengan berat hati harus meninggalkan istri dan anaknya yang baru beberapa hari bertemu, demi tugas yang begitu penting dan juga pencari nafkah ia tetap meninggalkan mereka. Berharap saat kembali nanti membawa sebuah kebahagiaan.


"Hati-hati di jalan, Kak. Nanti jangan lupa telepon aku ya," teriak Cassandra tanpa menghentikan lambaian tangannya.


Pun dengan khalisa, bocah itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ibunya.


Yunan hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya. Mengusap air matanya yang tiba-tiba lolos. Tentu saja ia tak tega harus pergi jauh dari kedua wanita yang saat ini bersemayam dalam relung hatinya. 


''Khalisa mau ke mana lagi, Nak?'' tanya Cassandra keluar dari bandara.


''Mau langsung pulang, aku ngantuk Bunda,'' jawab Khalisa sambil menguap.


''Baiklah, kita pulang, Pak,'' kata Cassandra kepada sang sopir yang ditugaskan mengantarkan mereka.


Memang sekarang Yunan tidak mengizinkan Cassandra mengendarai mobilnya. Pria itu meminta sang istri untuk selalu pergi dengan sopir. 


Setelah mengantar Yunan ke bandara, Cassandra dan Khalisa pulang ke rumah Margareth. Ia menghubungi Layin terlebih dahulu dan mengatakan akan menginap di rumah ibunya untuk malam ini saja. Namun, berjanji akan berkunjung ke rumah sang mertua supaya mereka juga bisa berkumpul dengan putrinya. Adil.


Mobil terparkir di halaman rumah. Baru saja turun, Cassandra dikejutkan dengan sebuah mobil asing di garasi.


''Mobil siapa itu?'' tanyanya pada diri sendiri.


Memanggil penjaga gerbang, kemudian bertanya tentang pemilik mobil itu.


''Itu mobil nona Lolita, Nona. Beliau baru saja tiba di sini.'' Cassandra tak begitu bahagia mendengar nama yang disebut satpam. Ia yakin kedatangan Lolita ada hubungannya dengan ruko yang diperebutkan


''Apa dia bersama suaminya?'' tanya Cassandra lagi, penasaran.


''Tidak, Nona. Beliau datang sendirian, anaknya juga tidak ikut," papatlr satpam panjang lebar.


Apa mungkin suaminya tidak punya nyali untuk datang ke sini dan minta padaku?


Cassandra menyuruh Lila untuk mengajak khalisa ke kamar melalui pintu samping. Kemudian ia masuk dari pintu depan. Terdengar suara percakapan dari ruang tengah.


Cassandra segera mendekatinya memastikan siapa saja yang sedang berbicara di tempat itu, ternyata Margareth dan Lolita. 


''Ngapain Kakak ke sini?'' tanya Cassandra ketus. melipat kedua tangannya tanpa duduk dan menanyakan kabar kakaknya yang baru tiba dari Singapura. 


''Aku rasa kamu sudah tahu apa tujuanku datang, Cassandra. Mana sertifikat ruko yang diberikan Ayah padamu?'' Menengadahkan tangan di depan Cassandra, seolah-olah dia memang ingin berkuasa.


"Aku tidak akan memberikan sertifikat itu. Ingat, Kak. Itu milikku, Kakak tidak punya hak memilikinya jadi jangan coba-coba untuk merebutnya," tolak Cassandra tanpa rasa takut.


Margaret terdiri dari duduknya dan mendekati Si bungsu. Sebagai seorang ibu ia tidak ingin kedua putrinya itu bertengkar hanya karena harta warisan. Bukankah itu akan menyiksa mereka yang ada di dalam kubur.


''Sudah-sudah, kamu juga Lolita. untuk apa mengusik adikmu? Bukankah kamu juga sudah diberikan restoran oleh ayahmu. Lalu kenapa sekarang memintanya lagi?'' tanya Margareth mengingatkan.


Cassandra tak terima suaminya itu dihina. Apa pun keadaannya seharusnya Lolita tidak mengucapkan hal itu.


''Meskipun suamiku miskin, tapi dia tidak pernah mengusik harta Ibu ataupun harta orang tuanya sendiri. Dia sanggup menghidupi aku dan Khalisa. Kami memang baru bertemu, tapi aku yakin kak Yunan tidak akan seperti suamimu. dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak akan mengharapkan warisan. Jadi jangan banding-bandingkan suamiku dengan suamimu, mereka jelas berbeda. Kalau Kakak memang menginginkan ruko itu, aku akan berikan, tapi kita tunggu kak Yunan pulang.'' Cassandra tak segan meluapkan emosinya.


''Rupanya sekarang kamu berlindung dengan di bawah laki-laki kere itu, aku nggak nyangka kamu bisa jatuh cinta sama dia,'' ejek Lolita.


"Lebih baik jatuh cinta dengan laki-laki yang kere daripada dengan laki-laki kaya tapi suka meminta warisan orang tua," ucapnya lagi menohok.


Cassandra segera pergi ke kamar. Malas sekali jika harus berdebat dengan wanita yang tidak mau kalah. 


Seandainya kak Yunan tidak menyuruhku diam, tadi aku akan memperlakukan dia di depan ibu. Sayang sekali aku nggak bisa mengatakan statusnya di depan keluargaku," kesal Cassandra.


Membanting pintu utama, melempar tas ke sembarang arah menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya.


Dalam hati masih tak terima mendengar suaminya dihina seperti tadi. Meski dulu sempat diperlakukan begitu oleh seluruh keluarganya, tapi sekarang ia mati-matian membelanya. Bukan karena Yunan sudah terbukti seorang CEO dan memiliki harta berlimpah, tapi karena cintanya karena Cassandra sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan pria tersebut. 


Jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Usai menjalankan kewajibannya Cassandra melepas mukena. Ia meraih ponselnya yang sempat berdering kemudian melihat pesan yang masuk. Ternyata itu pesan dari Yunan yang ternyata sudah tiba di tempat tujuan.


Cassandra membalas pesan itu dan mengucapkan selamat malam.


Semoga mimpi yang indah.


berharap Yunan beristirahat sebelum besok menjalankan aktivitasnya, sedangkan Cassandra keluar dari kamar memastikan putrinya itu sudah tertidur. 


''Loh kok Khalisa belum tidur? Kenapa, Nak?'' Mengusap rambut Khalisa dengan lembut, membawa gadis itu ke dalam pangkuannya.


"Aku kangen ayah, Bunda. Kapan ayah pulang?'' tanya khalisa dengan bibir manyun.


''Tiga hari lagi pasti ayah pulang, kan tadi ayah sudah janji Khalisa gak kau boleh nyusahin Bunda. Nanti ayah bisa marah.''


Khalisa langsung naik ke atas ranjang yang sudah dirapikan oleh Mbak Lila. Memeluk guling lalu memejamkan matanya. Berharap bisa melupakan Yunan dan beralih ke alam mimpi yang begitu indah. 


Setelah memastikan khalisa tertidur, Cassandra turun menghampiri Margareth yang tampak sibuk menyusun makanan di meja makan. Menghentikan tangan sang ibu dan menyuruhnya duduk.


''Aku bisa membayar pembantu lagi. Ngapain Ibu ikut campur, Ibu sudah tua, nggak boleh kecapekan, nanti kalau sakit bagaimana?" Cassandra berkata serius.


"Maafkan Ibu, Ndra. Karena ibu yang tak berlaku adil, sekarang Lolita minta sesuatu dari kamu. Maafkan Ibu yang dulu tidak pernah menyausngimu dan Yunan,'' ucap Margareth penuh penyesalan.


''Nggak apa-apa, Bu. Kak Yunan tidak pernah mempermasalahkan itu kok, kami baik-baik saja. Doakan saja semoga kami bisa melewati semua rintangan yang akan terjadi kedepannya dan semoga cinta kami tidak akan luntur.'' memeluk Margareth dari samping.


Mungkin rasa sesal itu terus hadir ketika mengingat masa lalu yang sangat pahit. Namun, semua tidak ada gunanya lagi.