
“Eh, mau ke mana, Dill?” tanya Mira sambil buru-buru mengemas barang-barangnya. Karena Dilla sudah lebih dulu berjalan menuju pintu keluar.
“Gue juga ikut!” seru Alex dengan suara yang seperti seorang perempuan. Pun begitu dengan lagaknya.
Sedangkan Dilla sama sekali tidak mendengarkan panggilan dari teman-temannya. Wanita itu terlihat begitu angkuh jika di mata orang yang tidak menyukainya. Seperti Sahwa misalnya.
“Dih, sok kecantikan banget. Belum tahu apa kalau dia habis ini bakalan di hukum sama dosen idolaku itu,” cibir Sahwa yang masih kesal pada Dilla. Padahal jelas-jelas wanita itu sama sekali tidak menyenggol Sahwa. Bahkan menatapnya pun tidak.
Amira segera menyusul Dilla yang sudah berjalan cukup jauh darinya. Wanita itu mengernyit ketika Dilla tidak menuju ke ruangan bu Mawar, di mana tadi dosen pengganti bu Mawar menyuruh Dilla untuk menghadap ke ruangannya.
Dengan segera Amira berlari mengejar Dilla lalu merangkul bahu Dilla dari belakang. Membuat wanita itu sedikit terjungkal ke depan.
“Apaan sih lo!” kesal Dilla pada Amira karena hampir saja membuat dirinya terjatuh. “Gimana kalau gue barusan nyungsep ke depan? nggak lucu kali Mir.” Lanjutnya lagi masih dengan nada yang kesal.
Amira terkekeh. Bukannya segera meminta maaf, wanita itu justru semakin membuat Dilla ingin sekali rasanya menjambak lalu membuangnya ke laut.
“Bukannya lo disuruh ke ruanganya itu dosen? Kenapa malah menuju parkiran?” tanya Amira bingung.
Sesekali Amira itu sembari menoleh ke belakang. Melihat Alex di belakang mereka. Pria setengah wanita itu mengangkat bahu, tidak mengerti apa yang di rasa Dilla sekarang ini. Sebab, pikiran wanita itu sangatlah berbeda dengan mereka yang masih terbilang normal. Walaupun sebenarnya sama saja. Tidak ada yang benar-benar normal di antara mereka.
“Ngapain juga di dengerin,” sahut Dilla begitu santai. Wanita itu kemudian menuju di mana mobilnya terparkir.
Amira menggeleng kepala. “Ini yang nyuruh lo dosen, Dill. Gimana kalau nggak lo turutin nanti malah berimbas pada nilai lo?” ingat Amira.
Bukan karena apa, mereka merupakan mahasiswi tingkat akhir. Sehingga lebih baik tidak membuat masalah terlebih dulu, daripada nanti nilai mereka yang menjadi ancaman. Namun, tampaknya itu semua tidak berarti apa-apa bagi Dilla. Terlihat wanita itu yang tampak acuh sekali.
Sementara Dilla yang kini berdiri di samping mobilnya, menoleh ke belakang, melihat dua temannya yang justru tampak khawatir. Padahal dirinya sendiri saja terlihat begitu santai.
“Kalian ini kenapa sih?” tanya Dilla seraya memicingkan matanya. “Orang gue nggak laakuin kesalahan apapun. Buat apa menuruti kemauan dia. Males banget. Mending kita minum aja, gimana? Ada café yang baru buka di ujung kota sana. Mau?” tawar Dilla sembari menaikkan alisnya, membuat teman-temannya menghela napas.
Memang, wanita ini begitu santai dalam menghadapi apapun. Bahkan Amira dan Alex yang sudah berteman lama dengan Dilla pun terkadang masih belum mengerti cara pikir Dilla.
“Ogah, gue bentar lagi ada job nyanyi di salah satu café yang ada di kota sebelah. Mending gue cari duit, daripada ikutin lo yang nggak jelas. Ya kali siang-siang gini udah mau minum,” sahut Amira yang kali ini menolak tawaran Dilla yang menurutnya kelewat gila.
Dilla menghela napas, mencoba menahan geramnya. Lalu di detik selanjutnya wanita itu mendorong kepala Amira dengan jemarinya ke belakang.
“Siapa juga yang mau minum alcohol, bego! Gue mau minum cappuccino doang. Udah puasa alcohol gue mulai sekarang,” ujar Dilla begitu yakin.
Amira dan Alex saling pandang lalu menatap ke arah Dilla dengan tatapan yang tidak percaya.
“Dalam rangka apa?” tanya Alex penasaran.
“Lo nggak beneran tobat, kan?” sangsi Amira yang sangat tahu seperti apa Dilla.
Wanita yang tidak bisa dipisahkan dari cumbuan lelaki dan juga minuman alcohol.
Dilla tersenyum dan menatap penuh arti ke arah mereka berdua. Lalu wanita itu mendekatkan kepalanya.
“Dalam rangka biar bibit yang ada di dalam perut gue segera jadi janin,” bisik Dilla yang benar-benar terdengar begitu gila sekali di telinga mereka.