
Bukan hal yang tabu bagi Cassandra melihat barang mewah. Selama hidupnya ia pun sering mendapatkan itu. Akan tetapi, semua pemberian Yunan jauh lebih istimewa dari apa yang ia dapatkan dari orang-orang terdekat.
Terlebih, pria itu memberikannya dengan tulus dan penuh cinta. Ia tak pernah menyangka kehidupannya akan seperti ini. Kepergiannya ke Kanada sempat membuatnya berpikir bahwa selamanya ia tidak akan memiliki suami dan akan menghidupi anaknya seorang diri. Namun nyatanya, semua tak sesuai dengan rencana. Yunan kembali hadir di sisinya menjadi pelindung.
Kehangatan yang terjalin beberapa jam yang lalu kian memudar saat keluarga Erlan pamit pulang. Kini hanya ada ke keluarga kecil Cassandra, Yunan dan juga Khalisa. Margareth pun ikut pulang, wanita itu menolak tinggal di rumah Yunan. Bukan apa-apa, ia hanya ingin setia pada almarhum sang suami.
Tidak hanya tempat yang berbeda, suasana pun terasa jauh lebih berbeda. Cassandra merasa hidupnya sempurna hanya didampingi dua orang tercinta. Kini ia tak lagi kesepian, hari-harinya akan lebih berwarna karena keberadaan Yunan di sampingnya. Meskipun pria itu sangat sibuk, akan tetap menyempatkan waktu untuk menemaninya.
Di tepi kolam renang Cassandra duduk sambil makan cemilan serta melihat Yunan dan Khalisa yang sedang berenang. Terlihat jelas kebahagiaan mereka saat bermain air. ''Bunda gak mau ikut?'' teriak Khalisa.
Yunan berenang ke tepi. Menyadarkan dagunya di bibir lantai. ''Ikut sini, Sayang. Kita berenang sama-sama. Kapan lagi aku ada waktu untuk kamu.'' Yunan Melambaikan tangannya, mengajak sang istri.
''Nggak mau ah, panas,'' tolak Cassandra dengan suara ciri khas yang begitu menggoda di telinga Yunam
''Mau ke sini sendiri atau aku paksa?'' tanya Yunan serius, tentu saja ia sangat menginginkan Cassandra ikut berenang dengannya, kapan lagi mereka menghabiskan waktu seperti ini. Sebab, Yunan jarang sekali berada di rumah.
''Nggak mau, aku malas basah-basaham.'' Cassandra tetap menolak, namun dalam kampus Yunan tidak ada penolakan untuknya. Kali ini ia bukanlah Yunan yang lemah, namun pria yang perkasa dan harus mendapatkan apa yang diinginkan, termasuk istrinya.
Terpaksa ia naik dan menghampiri Cassandra yang sudah menjerit. Tanpa ampun Yunan mengangkat tubuh wanita itu secara paksa dan menceburkannya ke dalam kolam.
Cassandra tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti ajakan suaminya. Kini mereka bertiga berada dalam satu kolam dan berenang bersama. Pemandangan yang begitu indah.
Bibi pun ikut bahagia melihat keluarga itu, berharap mereka bisa menyaksikan Cassandra dan Yunan selalu bahagia selamanya.
''Apa-apaan sih, Kak. Aku kan tadi sudah mandi ,''ucap Cassandra sambil mengusap wajahnya.
''Mandi lagi nggak pa-pa, kan? Lagipula berenang bagus untuk tubuh kamu. Jangan terlalu banyak tidur, oke.'' Yunan kemudian berenang menjauhi Cassandra dan Khalisa. Menunjukkan aksinya saat di air. Ternyata tidak hanya lihai di atas ranjang, ternyata juga di air.
''Bibi, siapkan makanan. Kasihan mereka.'' Yunan menyungutkan kepalanya ke arah istri dan anaknya yang tampak mulai kedinginan. Ia naik lebih dulu, mengulurkan tangannya ke arah Cassandra, bukan mendapatkan tubuh wanita itu, justru dirinya kembali tercebur ke dalam kolam.
Ah ini sungguh menyenangkan bagi Yunan. Terpaksa ia memberi kode pada Mbak Lila untuk segera membawa Khalisa ke dalam. Kini di tempat itu hanya ada sepasang suami istri.
Bergegas Yunan menyelam dsn terus meluncur mendekati Cassandra yang ada di sisi kanan. Mengangkat kepalanya ke permukaan dan segera merengkuh tubuh ramping yang beberapa hari ini memberikan sebuah kenikmatan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
''Kakak ngagetin aja sih?'' Cassandra menepuk pelan tangan Yunan yang memeluk erat perutnya.
''Siapa yang suruh jahil tadi? Kamu sukanya mancing-mancing. Kamu tahu nggak, aku nggak kuat, jadi jangan coba-coba diulangi lagi.'' Menggigit pundak Cassandra dengan pelan.
Bukan rasa sakit yang merambat kd urat nasi, melainkan sensasi lain yang membuat tubuh Cassandra menggelinjang. Apalagi di bagian bawah sana ia merasakan ada sesuatu yang begitu keras
Bukan Yunan jika menerima begitu saja. Ia menarik tubuh Cassandra ke arah tengah dan menikmati dinginnya air kolam renang.
Usai berenang, Cassandra mengambil ponsel yang ada di meja. Ia duduk di tepi ranjang melihat beberapa pesan masuk ke nomor whatsapp-nya.
Tolong aku!
Itu bukan pesan dari teman ataupun fans, namun itu adalah pesan dari Lolita.
''Maksudnya apa kak Lolita mengirim pesan seperti ini? Apa dia dalam bahaya?'' detak jantungnya berirama lebih cepat. Setelah kemarin bertemu dengan penuh kebencian, kali ini ia merasa iba, mungkin ada sesuatu yang memang terjadi dengan kakaknya itu.
Cassandra bangkit dari duduknya. Menghampiri Yunan yang sedang bermain dengan Khalisa.
''Ada pesan dari Kak Lolita, Kak.'' Cassandra sedikit cemas, ia menunjukkan pesan teks yang dikirim kakaknya itu pada sang suami.
''Menurut kamu apa yang terjadi dengan Kak Lolita?'' tanya Yunan balik.
Cassandra menggeleng tanpa suara. Mana mungkin ia tahu, sedangkan hidupnya kali ini bersama dengan dia, jauh dari Lolita.
''Apa mungkin dia ada masalah dengan suaminya? Atau jangan-jangan uangnya kemarin dirampok?'' tebak Cassandra sedikit ragu.
Yunan pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia berbicara serius, sedangkan Cassandra membalas pesan dari Lolita.
Tolong apa, Kak?
Centang biru, artinya Lolita memang sudah membaca pesan darinya.
"Mas _
Hanya pesan itu yang dikirim kemudian dihapus membuat Cassandra semakin curiga dan gelisah.
Tenang, Sayang. Aku akan cari cara untuk menolong Kak Lolita. Yunan meminta alamat rumah Lolita dari Cassandra lalu ia mengirimkan kepada orang yang dihubunginya tadi.
''Kamu pergi sekarang juga, dan secepatnya beri kabar padaku.'' Yunan menekan lencana Merah tanda mematikan teleponnya.
Menenangkan Cassandra yang tampak gelisah. Wajar saja, meskipun jahat Lolita adalah saudara kandungnya pasti tidak akan tega jika wanita itu mengalami kesusahan.
''Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Kak Lolita, semoga ini hanya masalah kecil.'' Meskipun sedikit yakin ada masalah besar, namun ia mencoba untuk membuat Cassandra tidak merasa khawatir lagi.