Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 37. Mau Foto?



Bab. 37


"Marah?" ulang Dilla. "Marah kenapa?" perjelas wanita itu lagi.


"Ya ... marah karena kekasihmu itu sama wanita lain," ujar Kendra lebih jelasnya.


Dilla terkekeh kecil. Sama sekali dia tidak merasa cemburu atau marah.


"Ngapain marah. Orang kita hubungan tanpa ada status. Yang penting nggak ada yang di rugikan dan sama-sama happy," sahut Dilla begitu santai.


Kendra menggeleng kepala. Tidak bisa menggapai pikiran wanita yang ada di hadapannya saat ini.


'Untung saja aku yang dapat keperawanannya,' gumam Kendra yang masih bersyukur.


Lalu, muncul lah ide di benak Kendra.


"Gimana kalau sekarang putusin semua kekasihmu, dan mulai mencoba menjalin hubungan denganku. Gimana?" tawar Kendra. "Toh, kita juga sudah saling terbuka. Jadi, buat apa sama pria lain yang masih was-was," lanjutnya lagi.


Bukannya tertarik dengan tawaran Kendra, Dilla justru tertawa lirih. Kendra pikir, ia cewek yang bodoh. Mengatasnamakan kejadian sebelumnya untuk membuat hubungan yang baru.


"Maaf, Pak. Tawaran Bapak mungkin sangat menggiurkan, tetapi sayangnya saya tidak membutuhkan tawaran itu sama sekali," balas Dilla. Menolaknya begitu tegas tanpa berpikir terlebih dulu.


Sudah Kendra duga, kalau wanita ini tidak akan mungkin menerimanya dengan mudah.


Kendra mengangguk ngangguk. Tidak lagi menawarkan sesuatu kepada Dilla. Pria itu kemudian menarik diri. Mempersilahkan wanita yang sedari tadi ia kurung di ruangannya itu untuk keluar.


"Terimakasih sudah dibawain ke sini lembar jawabannya," ujar Kendra yang tidak lupa.


Dilla menatap aneh. Kenapa juga pria ini berubah sikap. Bahkan terlihat lebih sopan. Namun, di detik berikutnya Dilla tidak menghiraukannya. Wanita itu lebih memilih untuk segera keluar dari sana sebelum pria ini menerkamnya kembali.


"Kalau begitu saya pamit," ucap Dilla.


Dilla membalikkan tubuhnya lalu meraih handle pintu yang kini ada di depannya.


Sedikit mundur untuk memberi akses pintu ketika di tarik ke dalam, namun dengan cepat pintu itu tertutup kembali akibat dorongan dari arah belakang Dilla.


Pria itu justru menarik pinggang Dilla agar beralih menghadap ke arahnya. Sedangkan tangannya yang satu lagi sedikit mendengakkan kepala Dilla agar wanita itu menatap ke atas. Ke arah langit-langit ruangan tersebut.


Tidak membuang waktu lagi, Kendra langsung melesatkan bibirnya di leher Dilla. Menyesap serta mengigit samar pada permukaan kulit di.area tersebut, hingga menimbulkan rasa nyeri pun sensasi aneh pada sang pemilik tubuh. Juga sudah pasti akan meninggalkan jejaknya di sana.


Sudah pasti, secara refleks dan tanpa bisa di tahan, Dilla mengeluarkan suara yang sangat tidak ingin wanita itu keluarkan. Ya, ******* serta lenguhan Dilla di saat lehernya diberi jejak oleh mahakarya mulut Kendra pun tidak bisa di tahan lebih lama. Hingga semakin memacu Kendra untuk melakukannya lebih lebih lagi dari ini.


Namun, pria itu masih sadar dan dalam keadaan waras. Walaupun sedikit khilaf, tetapi Kendra tidak akan melakukan lebih dari ini. Sadar jika mereka masih berada di kampus.


Setelah di rasa cukup memberi jejak di beberapa titik, Kendra pun menarik wajahnya. Mengusap lembut leher Dilla yang basah karenanya. Lalu, pria itu menarik sudut bibirnya ke atas, di kala melihat mahakaryanya yang sungguh luar biasa. Menurut Kendra.


"Udah, sekarang sudah boleh keluar," ujar pria itu dengan begitu santai nya.


Terlihat sekali jika Kendra menahan senyumannya. Lantas membuat Dilla yang melihat pun langsung sudah bisa menduga.


"Siniin ponselnya!" pinta Dilla dengan nada ketus. Wanita itu ingin memastikan sesuatu.


"Mau foto bareng? Oke!" sahut Kendra tak keberatan. Lalu memberikan apa yang diminta oleh Dilla.


"Sandinya?" ketus Dilla lagi.


Dengan senyuman yang masih mengembang, Kendra pun mendekatkan wajahnya. Sontak membuat Dilla waspada.


"Malam di mana kamu memperkosaku," ucap Kendra dengan suara yang lirih. Meskipun tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain mereka berdua.


Entah, ini keterkejutan Dilla yang ke berapa. Bisa-bisanya pria itu justru membuat tanggal di mana yang menang cukup bersejarah bagi mereka berdua intuk dijadikan kata sandi.


"Gila," gumam Dilla lirih namun tetap memasukkan tanggal tersebut di ponsel Kendra.


Kendra tersenyum mendengar umpatan Dilla. Sama sekali tidak sakit hati.


"Iya. Gila karena ka—"


"Astagaaaa ... Bapaaaaaakkkkk ....!" pekik Dilla setelahnya dengan suara yang cukup keras.