Hidden CEO

Hidden CEO
Minta cerai



Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang dilakukan Novan sudah melampaui batas kesabaran. Lolita tidak hanya merasakan sakit secara fisik, tapi juga batin dan itu membuatnya tidak bisa melupakan begitu saja. 


''Maaf, aku tidak bisa.'' Lolita menyingkirkan tangan Novan yang menggenggam pergelangan tangannya.  "Permisi."


Bergegas pergi ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Menumpahkan sisa air mata yang masih menumpuk di pelupuk. Sungguh, ini pilihan yang sangat sulit baginya.  Di satu sisi, ia masih ingin melanjutkan rumah tangga yang dibangun selama tiga belas tahun. Disisi lain, sakit hatinya belum sembuh. Terlebih Novan masih berhubungan dengan Metha, selingkuhannya.


''Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Mungkin perpisahan ini akan membuat hidupku lebih baik.'' 


Menyatukan hati dan pikiran yang terkadang tak sejalan. Mungkin, setelah ini akan mendapat rintangan yang lebih sulit, namun tekadnya sudah bulat. Ia akan mencari kebahagiaannya sendiri dan tidak akan tergantung pada Novan maupun orang lain. 


Buliran bening berjatuhan membasahi pelipis Novan. Entah apa yang ia pikirkan hingga sanggup menyakiti orang yang sudah memberikan masa muda untuknya. Sanggup menemaninya di kala sulit. 


Penyesalan menyelimuti dirinya yang tak berdaya. Matanya tak teralihkan dari kamar mandi. Berharap Lolita segera keluar dan kembali padanya dalam keadaan baik-baik saja. 


''Aku harus bisa mengajak Lolita pulang. Bagaimanapun caranya, dia dan Aldo harus kembali bersamaku.'' 


Memejamkan matanya. Mencari cara untuk meluluhkan hati Lolita yang mulai mengeras. Setidaknya ia menjalankan perintah ayahnya. 


Suara pintu dibuka terdengar di telinga Novan, namun pria itu tidak membuka matanya. Ia tetap pura-pura tertidur. Disusul langkah kaki semakin dekat. Dipastikan Lolita kembali ke sisi ranjang. 


''Aku tahu kamu tidak tidur, Mas,'' ucap Lolita tegas. 


Dalam hitungan detik, Novan membuka mata dan menatap manik mata Lolita yang tampak sendu.  Bibirnya terkunci, seolah memendam banyak ucapan yang belum sempat dilontarkan. 


''Kita harus bicara sekarang.'' Lolita menarik kurus lalu duduk berjarak agak jauh dari Novan. 


''Apa?'' tanya Novan singkat. 


Dadanya sesak bercampur dengan debaran aneh. Takut Lolita membicarakan tentang perihal yang tidak diinginkan. Sementara untuk saat ini ia masih butuh kekuatan wanita itu. 


Terdengar egois, namun itulah Novan. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Terkadang ingin wanita itu pergi dari hidupnya. Namun sekilas, ingin selalu bersama dalam satu ikatan. 


''Aku ingin kita berpisah.'' Tentu saja itu sangat berat bagi Lolita. 


Selama ini hidupnya selalu bergantung dengan Novan. Jika perpisahan itu terjadi, maka ia harus mandiri dan menghidupi dirinya. Mampukah ia melakukan itu seperti halnya Cassandra yang bisa hidup tanpa Yunan dalam waktu bertahun-tahun. 


''Tidak, aku tidak akan menceraikan kamu. Aku ingin kita kembali. Aku minta maaf atas kejadian waktu itu.'' Tangannya mengulur, mencoba meraih tangan Lolita. Namun sayang, tubuhnya yang lemah tidak bisa menjangkau sang istri yang sengaja menghindar. 


''Terserah, yang pasti aku akan tetap tinggal di rumah ibu.'' Keputusan Lolita tidak bisa diganggu gugat. Ia sudah bertekad akan bekerja seperti yang disarankan Cassandra kemarin. 


''Tapi tenang saja, selama di rumah sakit aku akan merawatmu sampai sembuh,'' imbuhnya.


Mungkin saat ini memang belum waktunya untuk berdebat. Novan diam, bukan berarti apa yang dilakukan itu menerima begitu saja keputusan Lolita. Demi apapun, ia harus mempertahankan rumah tangganya supaya mendapat bantuan dari ayahnya untuk mengembangkan bisnisnya lagi. 


Ponsel kembali berdering, kali ini bukan nama Metha yang berkelip melainkan Ratri, ibunya Novan. 


''Kamu saja yang angkat, kalau aku, ibu bisa ngomel tujuh hari tujuh malam,'' pinta Novan penuh permohonan.  


Lolita mengangguk setuju. Ia segera menggeser lencana hijau tanda menerima. Lantas, duduk di samping Novan. Kangen juga dengan ibu mertuanya yang lumayan cerewet itu, tapi sangat penyayang.


''Iya, Bu. Ada apa? Mas Novan sedang istirahat,'' ucap Lolita dengan lembut. 


Kalimat yang meluncur pun lugas membuat Ratri tidak menaruh curiga sedikit pun. Bahkan sangat bahagia mendengar suara Lolita yang ternyata memegang ponsel milik Novan, itu artinya mereka sudah baikan, begitu pikirnya. 


''Cepat pulang, Nak. Ibu kangen sama kamu dan Aldo. Maafkan kesalahan Novan,'' pinta Ratri dengan suara memelas. 


Tiba-tiba buliran bening berjatuhan membasahi pipi Lolita. Ia membekap bibirnya dengan telapak tangan. Menutupi tangisnya yang hampir terisak. Sebisa mungkin tangisannya itu reda, meskipun sulit.


Demi menolong sang istri, Novan bergegas meraih benda pipih itu dan menempelkan di telinganya. ''Kami akan segera pulang, Bu. Maaf sudah membuat ibu khawatir.'' Satu tangan Novan meraih tangan Lolita dan menggenggamnya dengan erat. 


''Jangan ulangi kesalahanmu lagi, Novan. Kalau Aldo dan Lolita gak mau pulang, kamu juga akan ibu coret dari daftar nasab keluarga ayahmu,'' ancam Ratri tak main-main. 


Novan segera menutup telponnya. Ia tidak ingin penyakitnya semakin parah karena terus mendapat tekanan dari ibunya. Ponsel ia matikan dan diletakkan di ujung bantal. Sekuat tenaga duduk dan memeluk Lolita dari samping. Mengucapkan maaf berulang kali di telinga wanita tersebut. 


''Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku janji akan menjadi suami yang baik untuk kamu dan papa yang baik untuk Aldo. Kita bisa mulai dari awal.''


Lolita mengusap pipinya yang dibasahi air mata lalu menggeleng. "Maaf, Mas. Aku akan tetap dengan pilihanku. Tidak ada jalan yang lebih baik selain bercerai,'' tegas Lolita. 


Entah kenapa, kalimat itu seperti sebuah busur panah yang menancap di dada Novan. Begitu sakit dan remuk. Namun apa daya, untuk saat ini ia harus mencari cara lain untuk meluluhkan hati Lolita. 


''Kita dipertemukan secara baik-baik, kita  juga harus berpisah dengan cara yang baik pula. Aku tidak ingin ada permusuhan di antara kita. Bagaimanapun juga kamu adalah papa dari anakku, Aldo. Kalau Mas gak berani mengatakan pada ibu dan ayah, aku yang kan bicara dengan mereka.'' 


Tidak ada yang bisa Novan katakan. Percuma saja, saat ini Lolita diselimuti amarah dan butuh ketenangan, bukan desakan yang membuatnya tertekan. Alangkah baiknya ia diam seolah memenuhi permintaan wanita itu. 


''Kalau itu yang kamu mau aku juga ada satu permintaan,'' ucap Novan serius. 


''Apa?'' tanya Lolita penasaran. 


''Tidurlah denganku, setidaknya kita terlihat mesra sebelum kita berpisah nanti.'' Seketika Lolita mengerutkan kedua alis, namun ia juga tidak bisa menolak permintaan sang suami. 


Ia berbaring di samping Novan. Melingkarkan tangannya di perut pria itu. Dan menggunakan tangannya sebagai bantal layaknya pasangan suami istri.


Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan saat bersamaku, tapi aku akan membuatmu nyaman dan enggan meninggalkanku. Senyum seringai di sudut bibir Novan.