
Bab. 89
"Mas ... udah, Mas. Aku capek!" rengek Dilla ketika suaminya tidak segera menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan sedari tadi.
"Bentar lagi, Yaang. Nanggung ini. Masih nggigit banget," sahut Kendra yang malah menaruh kedua kaki Dilla di atas bahunya. Sementara dirinya berdiri di pinggiran ranjang.
Sementara Dilla yang tidak kuasa menahan suaranya pun lantas wanita itu mengekspresikan apa yang dia rasakan. Tatapan sendunya semakin membuat Kendra memacu begitu cepat. Bahkan pria itu sampai lupa kalau di dalan sana ada nyawa yang harus di jaga.
***
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Lima bulan sudah waktu yang mereka lewati bersama sebagai sepasang suami istri. Dalam waktu itu pula Kendra benar-benar memperlihatkan kalau sebuah pernikahan bisa sangat harmonis jika keduanya mau saling belajar dan bersabar dalam membina rumah tangga mereka.
Karena perut Dilla yang sangat besar di usia kehamilan trimester terakhir, yakni memasuki bulan ke delapan, Kendra terus saja mendesak sang istri untuk segera ambil cuti kuliah. Tidak tega melihat Dilla yang seperti ini.
"Maass ... aku bosen ada di rumah terus. Boleh main-main nggak?" tanya Dilla ketika melakukan sambungan video call bersama sang suami.
Wanita itu tengah bersantai di taman samping. Tentu, rebahan adalah posisi yang Dilla sukai saat ini. Namun, rada bosan terus menghinggapi dirinya. Ingin berinteraksi dengan banyak orang. Paling tidak dengan sahabat-sahabatnya.
"Perut kamu udah besar loh, Yaang. Nanti capek, kakinya bengkak kalau kamu jalan terus," ingat Kendra dari balik sambungan sana.
Muka Dilla langsung berubah manyun.
"Ya nggak jalan terus, Mas. Paling nggak itu ya nongkrong lah Mas. Ketemu temen. Ini udah ada satu minggu loh, kamu ngurung aku di rumah. Nggak boleh ini lah. Itu lah!" protes Dilla sembari terduduk.
Selama ini Dia tidak pernah berada dalam rumah tanpa keluar sama sekali. Walaupun itu cuma satu hari saja. Namun, suami posesifnya ini memang sungguh kelewat batas menurutnya. Bagaimana bisa ia dikurung seperti seorang tahanan rumah seperti ini.
"Maaasss ..." dan andalan yang sering Dilla pakai ialah menangis.
Kendra yang melihat itu pun meraup wajahnya dengan gusar. Ia tidak mau membuat wanita yang sangat ia cintai merasa tertekan seperti itu.
"Iya, iya. Ini aku pulang sekarang. Keluar sama aku aja. Hubungi teman-teman kamu itu, Yaang. Suruh ke cafenya Biru langsung. Nanti ketemuan di sana," ucap Kendra pada akhirnya.
Membuat wajah Dilla sumringah. Senang mendengar ucapan suaminya yang menuruti kemauannya.
"Ailopiyu, Maaaass!" ucap Dilla sembari memajukan bibirnya ke arah ponsel yang menghadap ke arahnya.
"Luv yutuu Ayaaangg!" balas Kendra yang juga memajukan bibirnya ke depan.
Biru yang melihat itu pun tidak kuasa menahan tawa dan langsung meledak begitu saja. Dengan cepat Kendra memukul pria itu dengan berkas yang ada di tangannya.
"Lo belum tahu pusingnya punya istri yang lagi hamil, Bi!" ketus Kendra.
Sedangkan pak Bambang yang juga melihat adegan itu pun tertawa.
"Nikmati saja Nak Kendra. Hal semacam itu tidak akan terulang lagi. Karena kalau pun hamil lagi. Biasanya sudah beda bawaan babang bayinya," ujar pak Bambang dengan tawa yang masih terdengar begitu jelas.
Kendra yang mendengar itu hanya mengangguk sembari tersenyum malu. Namun, akan lebih bahaya jika dirinya tidak mengikuti kemauan sang istri.
"Iya, Pak."
Tamat!
*
*
*
*
*
*
*
Eh, boongan. wkwkwk