
Ini sudah hari ke tujuh Lolita berada di rumah sakit menemani Novan. Ia hanya pulang dua kali untuk menjenguk Aldo. Juga memberi kabar kepada ibu dan Cassandra. Mengambil baju ganti untuknya.
Keadaan Novan sendiri sudah jauh lebih baik dan sudah diperbolehkan pulang oleh tim dokter. Dengan satu syarat, harus mematuhi semua kata-kata dokter. Meminum obat sesuai prosedur juga beristirahat yang cukup. Tidak melakukan aktivitas yang berlebihan.
Semua baju sudah dikemas ke dalam tas. Novan juga sudah rapi dengan kemejanya, sementara Lolita masih bicara dengan dokter yang tadi memeriksa suaminya.
''Baik, Dokter. Terima kasih atas bantuannya.'' Bersalaman dengan dokter yang selama ini sudah merawat Novan dengan baik.
Setelah dokter menghilang di balik pintu yang tertutup, Lolita mendekati Novan yang duduk di tepi brankar. ''Aku akan mengantarmu pulang. Setelah ini jangan ganggu hidupku lagi.''
Waktu seminggu nyatanya tak cukup meluluhkan hati seorang Lolita. Wanita itu keukeuh ingin berpisah dari suaminya.
''Aku tidak akan menceraikanmu.'' Novan turun, dan meraih tangan Lolita. Menggandengnya menuju ke arah pintu dan membukanya. Menyuruh sopir untuk mengambil semua baju-bajunya.
''Tidak bisa, Mas. Kita sudah sepakat untuk bercerai, dan aku tidak mau membatalkannya.''
Seketika itu Novan menoleh. ''Kita tidak pernah sepakat untuk bercerai, tapi kamu yang sekarang memintanya dan aku tidak mau," ucap Novan tegas.
''Masih saja keras kepala, padahal jelas-jelas dia yang mulai duluan,'' gumam Lolita.
Percuma saja berdebat, itu hanya akan membuatnya semakin kesal. Terlebih Novan bukan orang yang mudah mengalah begitu saja. Pasti akan sangat sulit melunakkan hatinya.
Setibanya di mobil, Novan membukakan pintu mobil bagian samping. Menyuruh Lolita masuk dan memasangkan seat belt. Lalu, ia berbicara dengan sopir untuk menaiki mobil lain. Setelah itu masuk dan duduk di belakang kemudi. Menyalakan mesin. Melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
''Kenapa kamu tidak mau menceraikan aku?'' Lolita kembali membuka percakapan. Ingin tahu alasan Novan tidak ingin berpisah dengannya.
''Apa itu penting? Aku rasa kamu sudah tahu,'' jawab Novan penuh teka-teki.
Memelankan laju mobilnya. Tangannya mengulur, meraih tangan Lolita dan menggenggamnya. Sementara yang lain sibuk dengan setirnya. Membelah jalanan yang dipadati dengan kendaraan.
''Penting, Mas. Rumah tangga bukan ajang tontonan. Jika alasan kamu hanya karena ayah dan ibu, aku tidak mau. Sudah cukup kamu menyakitiku, sekarang aku ingin hidup bahagia.'' Mata Lolita mengembun.
Setiap kali teringat dengan sikap Novan yang sudah menyakitinya, hatinya hancur bak diremas-remas. Jangankan untuk mendekat, menyapa saja enggan. Sayang sekali, nalurinya sebagai seorang wanita sangat lembut dan tidak tega untuk membalas.
''Harus berapa kali aku minta maaf? Aku sudah bilang sama kamu, aku khilaf. Aku janji akan mengembalikan semua uangmu yang sudah aku pakai. Tapi aku mohon tetap bersamaku,'' ucap Novan serius.
Namun, itu tak diindahkan oleh Lolita. Baginya semua yang diucapkan dari sudut bibir Novan hanya bualan belaka. Buktinya, pria itu masih berhubungan dengan Metha, selingkuhannya.
''Terserah, pokoknya aku akan tetap meminta cerai, titik.''
Novan tak menjawab, ia hanya tersenyum miring melihat kekesalan sang istri. Demi apa pun, ia harus tetap mempertahankan pernikahan yang dibangun selama tiga belas tahun daripada akan hidup terlunta-lunta tanpa harta.
Tak terasa mobil sudah berhenti di halaman kediaman orang tua Novan. Novan turun lebih dulu, dan membukakan pintu untuk Lolita seperti yang dilakukan tadi. Mengulurkan tangannya menyambut sang istri untuk turun.
''Untuk malam ini temani aku tidur di sini. Aku janji besok akan mengantarmu pulang,'' pinta Novan memelas.
Entah kenapa, setiap yang dikatakan Novan seperti perintah dan tak bisa ditolak oleh Lolita. Bibirnya terkunci seolah semua kalimat yang disusun rapi tercekat di tenggorokan. Lidahnya terlalu kelu untuk membantah.
''Apa?'' tanya Novan enteng.
''Tinggalkan Metha,'' ucap Lolita lugas. ''Atau kamu akan kehilangan aku dan Aldo untuk selama-lamanya,'' imbuhnya.
Wajah Novan mendadak kusut. Senyum yang sempat terbit redup kembali. Sepertinya pria itu memang sangat keberatan untuk melepas selingkuhannya.
''Jika kamu memang tidak bisa, aku tidak akan memaksa. Tapi aku juga tidak mau mempertahankan seseorang yang jelas-jelas lebih memilih orang lain daripada anak dan istrinya.'' Turun tanpa menerima sambutan tangan Novan. Berjalan lebih dulu meninggalkan sang suami yang masih bergelut dengan pikirannya.
Kedatangan Lolita disambut hangat oleh Ratri, wanita tua itu tersenyum bahagia melihat kedatangan menantu kesayangannya.
Novan adalah anak tunggal. Hingga mereka hanya memiliki satu menantu, kasih sayangnya selama ini hanya tercurah untuk keluarga dari putranya tersebut.
''Aldo gak ikut?'' tanya Ratri sedikit kecewa.
''Tadi dia pergi dengan om dan tantenya, Bu. Katanya mau pilih-pilih sekolah yang akan ditempati nanti,'' jawab Lolita jujur.
Novan menyusul dan memeluk ibunya dengan erat seperti yang dilakukan Lolita. Menanyakan kabar ibunya yang waktu itu sempat ngedrop setelah tahu tentang masalah rumah tangganya.
''Ibu sudah baik-baik saja. Apalagi setelah tahu kalau kalian bersatu lagi, ibu semakin bahagia.''
Lolita dan Novan saling lirik dan tersenyum palsu demi membuat Ratri bahagia. Sebab, di balik senyum indah itu masih ada permusuhan sengit di antara mereka. Terlebih, Novan belum mengabulkan permintaan Lolita, dan itu membuat sang wanita tak terima.
''Malam ini kalian tidur di sini, kan?" tanya Ratri serius.
Novan mengangguk, sedangkan Lolita menggeleng. Tentu saja ia menolak tidur sekamar dengan Novan, sedangkan pria itu masih tetap berhubungan dengan wanita lain.
''Lo, kenapa, Nak?'' Mengusap punggung tangan Lolita. Menatap manik mata Sang menantu yang sudah mengembun dan siap melelehkan kristal bening.
Novan menundukkan kepala. Ia tahu, ini pasti akan terjadi, tapi bagaimanapun juga akan tetap ia hadapi bersama.
''Aku gak mungkin mengecewakan ibu. Bagaimana kalau nanti dia sakit lagi. Aku gak mau melihatnya menderita.''
Akhirnya, Lolita tersenyum demi membahagiakan seseorang yang sudah melahirkan suaminya.
''Aku bohong, Bu. Malam ini aku akan tidur di sini dengan mas Novan,'' ucap Lolita meyakinkan. Setidaknya saat ini kebohongannya tidak diketahui mertuanya.
Karena kelelahan, Lolita langsung masuk kamar dan berbaring. Baru akan menutup mata, pintu dibuka dari luar memunculkan sosok pria tampan.
''Aku melakukan ini hanya untuk ibu, jadi jangan besar kepala. Seandainya beliau tidak menginginakku, aku sudah akan pulang.'' Memiringkan tubuhnya memunggungi Novan yang masih berdiri di belakang pintu.
Demi keluargaku dan ibu, aku harus melupakan Metha. Dia hanya perempuan asing yang sejenak mampir, sedangkan istriku adalah wanita yang yang hadir dan menemaniku.
Mendekati Lolita dan ikut berbaring. Menunggu momen yang pas untuk mengungkap keputusannya.