Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 60. Pesona Rujak Cingur



Bab. 60


Dilla tidak menyangka jika pria ini begitu nekad. Padahal jika melihat ke belakang, Kendra juga pernah mengajar di kampus ini. Dan tentu saja banyak penggemarnya.


Akan tetapi yang dia lakukan sekarang justru berhasil membuat Dilla tidak hanya kehilangan muka karena malu. Tetapi juga jantungnya yang ingin berada di bawah dan tidak ingin menggantung di tempat yang semestinya.


Bagaimana tidak? Jika Kendra menangkup kedua sisi wajah Dilla, lalu mengecup, eh, bukan. Lebih tepatnya langsung melahap mulut Dilla dengan lembut dan penuh tekanan. Tangannya tidak membiarkan wajah wanita itu berpaling.


Dilla yang tidak siap dan sangat terkejut pun berusaha melepas diri. Tetapi justru sebuah penekanan yang sangat dalam dia dapat.


Kendra benar-benar seperti ingin memakan dirinya. Lidah pria itu membelitnya tanpa mau lepas.


Hingga pada saat Dilla tidak bisa bernapas dengan normal dan napasnya tersengal, baru Kendra menarik diri dan memberi jarak di antara mereka. Menatap wajah Dilla yang memerah akibat ulahnya. Bahkan bibir wanita itu sedikit membengkak jika dilihat dari dekat.


"Manis," gumam Kendra seraya mengusap bibir Dilla yang basah.


Sontak, suara histeris itu pun kembali terdengar. Suara sahutan dari beberapa orang di sekitar mereka tidak mampu menarik pandangan Kendra dari obyek yang ada di hadapannya saat ini.


Sementara Dilla sendiri tidak pernah merasa semalu ini sebelumnya.


"Apa yang kamu lakukan sih, Pa-Mas?" tanya Dilla berusaha untuk memanggil Kendra dengan sebutan yang masih kelu di lidahnya.


Kendra tersenyum miring. Gemas sekali dengan sikap Dilla yang seperti ini. Kesal dan juga malu bercampur menjadi satu.


"Jemput kamu pulang," jawab Kendra dengan sangat santai. Seolah tidak terjadi apa-apa barusan.


Dilla yang tidak bisa menahan rasa geramnya, sontak wanita itu mengulurkan tangan ke arah perut Kendra dan mencubitnya keras-keras.


"Tapi kan nggak perlu sampai segitunya, ih!" kesal Dilla yang terus mencubit Kendra. Sementara Kendra tetap terus berusaha untuk menghindar.


Pemandangan itu tidak disiakan oleh beberapa mahasiswi yang melihat keakraban mereka. Bukan lagi akrab, tetapi sikap romantis mereka yang mampu membuat orang di sekitar baper seketika.


"Siapa juga yang bikin malu? Hah!" protes Dilla dengan tatapan begitu sinis.


Kendra terkekeh lalu merengkuh pinggang Dilla. Serta merapatkan posisi mereka.


"Habisnya kamu manis banget, istriku," bisik Kendra dengan suara begitu lembut.


Bahkan pria itu masih bisa-bisanya menyempatkan diri untuk menggigit daun telinga Dilla. Membuat wanita itu tersentak kaget dan tanpa sadar mendesaah lirih dan dengan gerakan cepat langsung Kendra bungkam dengan kecupan di bibirnya.


"Jangan di sini kalau ngeluarin suara itu. Di kamar aja nanti. Hanya aku yang boleh denger," goda Kendra yang semakin menjadi. Membuat Dilla meremas tangan pria itu yang ada di pinggangnya.


"Jangan mimpi!" tekan Dilla dengan suara lirih. Tidak mungkin dirinya langsung bersengut marah, sedangkan sekarang ini mereka masih menjadi pusat perhatian.


Akan tidak lucu jika baru saja bersikap sangat romantis, lalu di detik berikutnya sudah berantem. Walaupun pada kenyataannya tidak ada hal romantis di antara mereka. Menurut Dilla.


Kendra yang terus merengkuh tinggal Dilla dan berjalan menuju mobilnya, pria itu menggeleng pelan.


"Enggak, bukan mimpi kok. Bentar lagi juga bakalan jadi kenyataan," sahut Kendra.


Ketika Dilla ingin melayangkan sebuah protes, cepat-cepat Kendra menyuruh Dilla untuk masuk ke dalam mobilnya.


Dengan perasaan yang sangat dongkol dan sudah lapar, mau tidak mau Dilla menurutinya. Wanita itu memilih untuk segera masuk, setelah melihat ada bungkusan di dalam mobil yang terletak di atas dashboard mobil. Juga ada piring dan sendok di sebelahnya.


Kendra menggeleng kepala di saat melihat wanita yang duduk di sampingnya itu tidak jadi marah, setelah melihat rujak yang Dilla pesan tadi ada di hadapannya. Bahkan wanita itu terlihat sangat tidak sabaran sekali untuk segera memakannya.


Emosi yang meluap luap, kalah dengan aroma nikmat dari rujak cingur yang menggugah selera makan Dilla.


"Pelan-pelan makannya, Dilla. Nggak ada yang mau berebut sama kamu," ingat Kendra.