
''Dia jalan ke arah mana?'' tanya Yunan pada salah satu orang suruhannya melalui panggilan telepon.
''Saya masih mengikutinya, Tuan. Dia ke arah cafe cinta milik, Tuan,'' jawab suara berat dari ujung telepon.
''Baiklah, aku akan segera ke sana.'' Yunan langsung memutus sambungannya. Meletakkan ponselnya di jok lalu menginjak gas. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi demi bisa mengejar mobil milik Zafan.
Pagi ini Yunan akan memastikan semuanya. Memberi kesempatan pada Zafan tetap bersama adiknya atau memisahkan mereka dengan caranya sendiri. Masih mencari cara yang tepat untuk itu.
''Tadi kak Yunan mau ke mana, Kak? Kenapa buru-buru?" Laurent menghampiri Cassandra yang sedang merapikan pot di taman.
''Gak tahu, mungkin saja dia mau ke kantor,'' jawab Cassandra asal. Padahal ia tahu bahwa suaminya akan menyelidiki Zafan, namun ia tidak berani membuka suara.
''Kakak, aku mau bicara.'' Laurent menepuk kursi kosong di sampingnya. Meminta Cassandra untuk duduk di sana.
Tanpa menunggu waktu, Cassandra memenuhi panggilan sang adik ipar. Ia duduk dan menghadap ke arah yang sama.
''Dulu kak Yunan kan sempat akan menikah dengan kak Humaira, bagaimana hati kakak waktu itu? Maaf aku sudah membuka luka lama,'' tanya Laurent.
Seharusnya ia tidak menanyakan itu, namun ingin tahu tentang perasaan seorang wanita ketika di duakan. Kemungkinan besar ia pun diperlakukan seperti itu.
''Sakit, Rent. Meskipun poligami itu diperbolehkan oleh agama, tapi kakak gak rela kak Yunan berbagi cinta. Lebih baik berpisah saja daripada di madu,'' jawab Cassandra jujur.
Tidak banyak pertimbangan, ia memang langsung memilih untuk berpisah daripada bertahan dan melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Itu adalah hal yang paling menyakitkan baginya.
''Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?'' tanya Cassandra balik. Pura-pura bodoh dan tidak tahu menahu.
Apa mungkin Laurent sudah tahu tentang perselingkuhan Zafan dengan Lioni. Gawat.
''Gak kenapa-napa, Kak. Ini tentang mas Zafan.'' Menatap Cassandra dengan mata mengembun. Setiap kali mengingat nama yang disebut suaminya, dadanya kembali merasa sesak. Bahkan ia harus menyuplai oksigen berulang kali untuk bisa bernapas.
''Ada Apa dengan Zafan?'' Cassandra mulai penasaran.
''Tadi pagi dia menyebut nama seorang perempuan saat masih tertidur. Apa menurut Kakak itu wajar saja?'' Laurent memang pintar dalam berbisnis, namun urusan cinta ia begitu lugu dan percaya begitu saja dengan Zafan yang selama ini dikira mencintainya saja.
Kasihan, Laurent. Pasti dia sangat kecewa seandainya tahu bahwa Zafan memiliki wanita lain.
"Mungkin saja itu saudaranya. Yakinlah Zafan bukan laki-laki hidung belang.'' Tak tega untuk mengungkap. Lagipula Cassandra juga sudah berjanji akan membungkam bibirnya. Menunggu Yunan.
''Semoga saja ya, Kak,'' ujar Laurent penuh harap.
Mobil yang ditumpangi Yunan berhenti di depan sebuah butik. Ia membuka kaca mobil. Menatap mobil milik Zafan yang terparkir di sana.
''Baru saja tuan Zafan masuk, Tuan,'' lapor seorang pria dengan baju hitam.
Yunan mengangguk lalu turun. Melangkah gontai mendekati pintu utama. Tanpa aling-aling ia langsung masuk setelah pintu dibuka oleh pegawai butik.
Pandangannya mengedar menyusuri ruangan yang dipenuhi dengan baju berbagai model. Ada beberapa pengunjung yang berlalu lalang melintas di depannya.
Pandangannya berhenti pada sosok wanita yang tak asing di matanya.
Tak berselang lama, pria yang dicari muncul dari balik pintu. Lantas, pria itu mendekati Lioni yang tampak sibuk dengan kursinya. Sementara Yunan mengintip di balik baju yang menggantung. Memastikan apa yang mereka bicarakan belum memergokinya.
''Tumben banget kamu ngajakin aku ketemuan di sini?'' tanya Lioni penasaran.
Zafan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
''Kita putus,'' ucapnya singkat padat dan jelas.
''Putus.'' Lioni mengulanginya, takut salah dengar.
''Ya, kita putus. Aku gak bisa meninggalkan istri dan anakku. Mereka adalah kebahagiaanku yang sesungguhnya,'' jawab Zafan sangat yakin.
''Tidak bisa. Kamu sudah berjanji akan menikahiku setelah meninggalkan istri dan anakmu. Tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran.'' Lioni tak terima begitu aja.
Wanita yang berprofesi sebagai model dan juga pemilik butik itu terlihat sangat kecewa dengan ucapan Zafan tadi. Tak disangka pagi ini ia mendapatkan hadiah yang luar biasa. Padahal, tadi ia berharap kekasihnya itu memberikan kejutan yang membahagiakan, namun ternyata kejutan penuh luka.
''Tapi kita tidak bisa bersama seperti ini terus menerus, Li. Aku sudah punya istri dan anak, dan aku tidak bisa meninggalkan mereka,'' terang Zafan panjang lebar.
"Kamu gak bisa memperlakukan aku seperti ini, Zafan. Ini sangat memalukan.'' Lioni masih tak terima.
''Maaf, tapi aku benar-benar gak bisa bersama kamu lagi.'' Zafan bangkit dari duduknya. Hendak pulang.
''Aku gak mau.'' Lioni pun ikut berlari dan memeluk Zafan. Menghentikan sang kekasih yang hampir pergi meninggalkan tempat itu.
Di tengah pelukan mereka, tiba-tiba Yunan muncul dari balik baju yang menggantung.
Tentu kedatangannya itu membuat kedua bola mata Zafan membeliak. Bergegas ia melepas tangan Lioni yang memeluk.
''K--kak Yunan,'' ucap Zafan gugup.
Yunan bertepuk tangan dan tersenyum. Maju satu langkah lebih mendekat, sedangkan beberapa bodyguard itu mengambil foto Zafan yang masih berada di pelukan Lioni.
''Keren banget kamu,'' ucap Yunan dengan nada pelan.
''Ini gak seperti yang Kakak lihat.'' Zafan semakin panik dan menggeleng. Mencengkal tangan Lioni dengan pelan.
''Memangnya apa yang aku lihat?" Yunan mencoba untuk masuk dalam permainan Zafan. Meski tangannya sudah gatal dan ingin meninju wajah adik iparnya itu, masih bisa ia tahan.
Sedangkan Lioni hanya diam menatap wajah Yunan yang memang tidak asing baginya. Menyaksikan mereka berdua yang berdebat seperti saling mengenal.
''Aku bisa jelaskan, Kak. Lioni Hanya temanku,'' terang Zafan meyakinkan.
Yunan melipat kedua tangannya, baginya kali ini Zafan sudah sangat keterlaluan dan harus diberi pelajaran.
''Jangan banyak omong kosong, Zafan. Aku sudah tahu siapa perempuan ini.'' Menunjuk Lioni dengan jari telunjuknya
Menatap Zafan dengan tajam, beberapa menit kemudian Yunan melayangkan sebuah pukulan di wajah pria itu.