Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 49. Anak Papi



Bab. 49


Setelah pembahasan tersebut, Kendra sama sekali tidak menyinggung tentang hubungan mereka kepada Dilla, selain menanyakan keadaan wanita itu.


Tentu saja Kendra jadi lebih perhatian, karena Dilla mengalami muntah-muntah di pagi hari hingga membuatnya lemas. Oleh karena itu, Kendra menawarkan diri untuk menjemput dan mengantar pulang.


Ingin mendiamkan wanita itu karena merasa sangat jengkel, tetapi Kendra tidak tega. Ada anaknya di dalam kandungan Dilla. Terlebih lagi kondisi Dilla yang seperti pada wanita hamil pada umumnya.


"Masih mual?" tanya Kendra setelah Dilla masuk ke dalam mobilnya.


Dilla mengangguk. "Udah nggak seperti pagi tadi."


Kendra mendekatkan tubuhnya ke arah Dilla, membuat wanita itu tersentak kaget dan secara reflek menggeser posisinya.


"Diam dulu, aku mau nyapa anakku," ujar Kendra.


Lalu kemudian pria itu mengulurkan tangannya ke depan, mengusap lembut perut Dilla yang masih rata.


"Jangan bandel ya, Sayang. Jangan bikin Mami mual-mual terus. Bikin Mami ngidamnya ama Papi aja," ujar Kendra menatap lembut perut Dilla.


"Enak aja! Nggak ya!" sahut Dilla tak terima.


Kendra mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Dilla sembari menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.


"Hust! Aku sedang bicara sama anakku," ujarnya memberi peringatan kepada Dilla.


Dilla pikir setelah pembicaraan beberapa hari yang lalu, masalahnya dengan Kendra selesai. Tetapi siaalnya, perutnya akan terasa nyaman jika sudah mendapat usapan dari tangan pria itu. Sehingga mau tidak mau, dia pun menerima tawaran Kendra untuk di jemput dan di antar kuliah.


Tetapi lebih sering di jemput saja, karena jika siang pria itu sibuk narik penumpang, katanya.


"Kenapa mobilnya ganti lagi?" tanya Dilla merasa heran.


Perasaan, setiap bertemu dengannya mobil yang digunakan oleh Kendra untuk menjemput dirinya hampir setiap hari berbeda. Padahal Dilla tahu, kalau pekerjaan tetap Kendra ialah sopir taxi online.


Padahal pria itu pintar, kenapa tidak mengajar saja di kampus. Pernah Dilla bertanya seperti itu. Dan jawaban pria itu sungguh menjengkelkan. Katanya dia nggak mau pusing lagi dengan urusan materi seperti itu. Dan lebih menjengkelkan dari jawabannya ialah, dia berkata karena sudah mendapatkan mahasiswi tercantik di kampus, tempat mamanya mengajar.


"Mobil yang kemarin sudah dipakai yang lain. Adanya tinggal ini. Ya sudah, makai ini aja. Kapan lagi kan aku bosa mengendarai mobil Suv," jawab Kendra. Tangannya masih sibuk perut Dilla. "Udah, ya, jangan ngambek lagi sama Mami. Ini udah sama Papi. Kita berangkat kuliah dulu. Ingat, kamu nggak boleh nakal. Jangan rindukan Papi kalau Mami belum selesai kuliah," ucap Kendra yang kemudian mengecup perut Dilla.


Tentu saja, hal itu tetap membuat Dilla terkejut dengan tindakan Kendra. Meskipun ini bukan pertama kalinya. Sebab, semenjak pulang dari klinik dan mengetahui dirinya hamil, Dilla merasa ada yang aneh dengan dirinya. Selalu menginginkan sentuhan tangan Kendra di perutnya. Apalagi ketika malam tiba dan akan bersiap tidur. Dilla merasa gelisah dan rasa-rasanya ingin sekali tidur dengan tangan Kendra yang ada di atas perutnya.


Entah apa yang ada pada tangan Kendra. Yang Dilla tahu, perutnya terasa begitu nyaman jika sudah disentuh oleh tangan Kendra.


Kendra sendiri bersorak senang dalam hati. Semenjak tahu Dilla hamil dan menceritakan semuanya pada sang mama, mamanya menasehatinya untuk selalu membatin anaknya. Memang ini hanya mitos belaka. Namun, jika dipercaya juga bakalan kejadian.


Benar saja, Kendra selalu merindukan anaknya dan selalu ingin berada di dekatnya. Tanpa di sangka pun alam semesta mendukung keinginannya. Hingga seperti inilah sikap Dilla sekarang terhadap dirinya.


"Kirain mobil kamu," ucap Dilla lirih. Takut jika Kendra tersinggung.


Kendra tertawa. "Mana mungkin aku sanggup beli mobil, Dilla. Orang aku cuma sopir biasa. Bisa beli motor ghede aja udah sangat bersyukur. Kenapa? Nyesel ya? Ternyata ayah dari calon anak kita ini hanya seorang sopir?" tanya Kendra dengan tatapan penuh sejuta maksud.