
Seperti sebelum bertemu dengan Yunan, hari ini Cassandra kembali dengan aktivitas hariannya. Ia diantar Vera, sang asisten sekaligus manajer yang mengatur semua pekerjaanya. Namun, mereka menggunakan mobil milik Yunan yang datang tadi pagi. Wanita yang masih betah melajang itu sangat pintar dan cekatan dalam menjalankan tugasnya, tidak pernah terlambat sekalipun.
"Kemarin itu ayahnya Khalisa ya, Bu?" Vera membuka suara. Tanpa dipertanyakan pun ia sudah tahu. Dilihat dari wajahnya yang hampir mirip sudah pasti mereka ada hubungan darah.
"Ya, Khalisa adalah anak dari kak Yunan. Waktu aku pergi, ternyata sedang hamil. Dan aku baru menyadarinya setelah satu bulan kemudian. Waktu itu aku ingin pulang dan mengatakannya, tapi aku takut akan merusak kebahagiaan kak Yunan dan istri barunya." Pertama kalinya Cassandra bercerita tentang masa lalunya.
"Itulah kebanyakan laki-laki, Bu. Mereka tidak hanya cukup dengan satu wanita. Sudah mempunyai istri cantik, pintar, tapi masih saja merasa kurang. Apalagi yang memiliki kekuasaan penuh. Mereka akan membeli wanita yang diinginkan."
Deg
Jantung Cassandra seakan berhenti berdetak. Ternyata yang ia takutkan juga ada di pikiran Vera. Bisa saja Yunan memang memberikan harta yang berlimpah hanya untuk kedok.
"Itulah kenapa saya belum menikah sampai sekarang. Saya ingin mencari laki-laki yang benar-benar mencintai saya apa adanya. Bukan hanya sekedar terobsesi saja," lanjut Vera.
Mendengar itu membuat Cassandra semakin ragu untuk menerima Yunan. Banyak alasan untuk berpisah dari pria itu, dan hanya ada satu alasan untuk bertahan, yaitu Khalisa.
"Apa semua laki-laki yang memiliki banyak harta tidak cukup dengan satu istri? Apa mereka akan mencari lagi?" tanya Cassandra serius.
"Gak juga, Bu. Banyak juga yang setia dengan satu istri bahkan sampai tua. Itu hanya beberapa kasus yang pernah saya lihat. Apalagi akhir-akhir ini marak suami selingkuh, padahal istrinya sudah sangat cantik. Sebenarnya apa yang mereka cari? Saya juga bingung."
Pembicaraan selesai
Masih ada waktu satu jam. Aku akan bicara dengan mbak Syima. Semoga dia bisa membicarakan ini pada kak Yunan.
"Kita ke butik mbak Syima, Vera." Meminta Vera untuk berputar arah.
Hanya wanita itu yang bisa blak-blakan bicara dengan Yunan. Mungkin dengan begini, Cassandra tak lagi ragu untuk memutuskan. Berpisah atau bersatu lagi dengan meyakinkan diri.
Seperti biasa, butik ramai dikunjungi pelanggan. Kali ini casandra masuk melalui pintu belakang, malas sekali jika harus bertemu semua orang disaat hatinya sedang gundah seperti ini.
Setibanya di ruangan, Cassandra memeluk Syima dan menanyakan kabar. Lalu, tanpa basa-basi, ia mengatakan tujuannya datang.
"Jadi Yunan sudah tahu kamu pulang?" tanya Syima ikut duduk.
"Iya, Mbak. Dia juga sudah tahu kalau aku melahirkan anaknya." Menundukkan kepala.
Sejujurnya Cassandra malu membeberkan ketakutannya pada orang lain, namun ia memang butuh masukan dan pendapat dari orang-orang bijak seperti Syima. Hanya wanita itu yang bisa ia andalkan.
"Lalu apa reaksi dia?" Syima ingin tahu lebih dalam tentang sikap Yunan padanya.
"Kak Yunan ngajakin aku balikan. Dia juga memintaku untuk pulang ke rumahnya. Banyak juga janji yang diucapkan, tapi aku masih ragu. Aku takut dia akan mengulang kesalahan yang sama. Aku takut di saat aku sudah menyerahkan hidupku, justru dia akan berpaling dengan wanita yang lebih dariku," pungkas Cassandra lagi.
"Lima tahun ini dia tidak pernah datang ke sini. Aku kira dia sudah memilih untuk menikah lagi setelah kepergian kamu. Tapi ternyata dia nungguin kamu. Apa lima tahun kesetiaannya belum cukup membuatmu yakin?" tanya Syima.
Mengingatkan bahwa ada waktu lima tahun yang terbuang sia-sia di antara mereka berdua. Seandainya Yunan memang mau mendua dan memilih wanita lain, bukankah dia memiliki waktu yang lebih tepat, begitu Syima menyimpulkan.
"Tapi, nanti aku akan bicara sama dia supaya lebih jelas lagi."
"Ya, nanti aku kirim nomor kak Yunan ke ponselnya, Mbak. Aku pergi dulu, masih ada kerjaan lain," pamit Cassandra sembari memeluk Syima.
"Kita langsung ke tempat kerja saja, nanti siang kamu anterin aku ke rumah ibu untuk menjenguk Khalisa." Cassandra memasang seat belt.
''Baik, Bu.''
Pembicaraan singkat dengan Syima cukup membuatnya lega, berharap Yunan secepatnya memberikan jawaban yang meyakinkan.
Ponsel berdering menghentikan Yunan yang sedang membahas tentang proyek. Hari ini sengaja menghidupkan benda pipihnya ketika rapat, takut ada kabar penting dari putrinya.
"Maaf, saya lihat sebentar."
Mengambil dan melihatnya, membaca pesan yang masuk.
Ini aku Syima. Tadi Cassandra datang ke tempatku, dia memintaku untuk bicara sama kamu.
Begitulah pesan yang dikirim untuk Yunan.
Baik, Mbak. Kira-kira kapan kita bisa bertemu? Yunan membalas dengan pesan teks.
Terserah kamu. Aku mah kapanpun bisa, jangan sampai gak datang, luangkan waktu sedikit, ini penting.
Baiklah, nanti pulang kantor aku datang ke butik, Mbak.
Yunan melanjutkan pekerjaannya dan berjanji akan datang nanti sore setelah dari kantor. Perasaan takut, cemas akhirnya bercampur menyelimuti kesibukannya, akan tetapi tetap berusaha fokus dengan apa yang ada di depan mata sekarang.
Rapat sudah usai, semua direksi keluar dari ruangan. Tinggal Yunan dan Liliana serta dua orang penting di tempat itu. Mereka sedang membereskan berkas-berkas penting di meja.
"Kira-kira apa yang akan dibicarakan mbak Syima? Jika bukan hal yang penting, tidak mungkin dia menelponku." Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memejamkan mata.
Liliana serta dua orang lainnya keluar dan menutup pintu. Membiarkan sang bos untuk beristirahat sejenak sebelum nanti kembali bekerja. Menyiapkan makanan juga untuknya dan meletakkan di ruang kerja.
"Sekarang Cassandra lagi apa, ya?" Mengambil ponselnya dan menelpon sang istri. Memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja. Pura-pura tidak tahu tentang pertemuannya dengan Syima mungkin akan lebih baik.
Mereka berbicara lewat video call. Cassandra mengatakan siang ini akan datang ke rumah Layin bersama Vera. Ia juga sudah menyiapkan hadiah untuk orang rumah, berupa kue dan beberapa baju untuk mereka.
"Tapi aku gak tahu warna kesukaannya, apa menurut Kakak ibu mau memakainya?" Cassandra menunjukkan gamis berwarna putih tulang yang sangat bagus.
"Ibu gak pernah memandang suka atau tidak. Apalagi hadiah itu dari kamu, pasti dia akan memakainya satu minggu tanpa dicuci," ucap Yunan konyol.
Cassandra hanya terkekeh. Mana mungkin ada orang memakai baju satu minggu lamanya tanpa dicuci, itu hanya ada di cerita saja.
"Ya sudah, nanti hati-hati ya. Maaf aku gak bisa menemani, siang ini ada pekerjaan penting, mungkin nanti sore aku pulang agak terlambat lagi."
Sambungan terputus. Cassandra meletakkan ponselnya di tempat semula.
"Apa kak Yunan akan bertemu dengan mbak Syima?"