
Karena tak kunjung sadarkan diri, Novan dilarikan ke rumah sakit. Tak banyak yang tahu tentang ini. Lolita juga tidak menghubungi mertuanya, takut mereka syok melihat keadaan putra semata wayangnya.
Sebagai seorang istri, Lolita tentu saja khawatir dengan kondisi suaminya. Berulang kali ia menyematkan kata maaf di telinga Novan yang berbaring di pangkuannya. Air mata yang terus luruh menjadi bukti masih ada setitik cinta yang tertanam.
Marah, kecewa, benci, mungkin rasa itu masih ada. Akan tetapi, kesembuhan Novan jauh lebih penting dari ego semata. Bagaimanapun juga pria itu pernah menjadi yang terbaik dalam hidupnya.
''Cepat sedikit, Yunan!" pinta Lolita tersendat.
Yunan menambah kecepatan seperti perintah sang kakak. Membelah jalanan yang masih lumayan gelap. Apalagi hujan belum reda menghambat penglihatannya.
''Aku yakin kak Novan akan baik-baik saja, jangan khawatir.'' Cassandra menenangkan.
Berharap kakak iparnya itu memang baik.
Kedatangan Yunan disambut antusias oleh pihak rumah sakit. Menyuruh tim medis untuk segera menangani Novan. Juga memberikan dokter terbaik.
Novan dibawa ke ruang IGD, sementara Yunan mengurus semua yang dibutuhkan. Cassandra menunggu di depan ruangan. Berharap secepatnya mendapat kabar baik dari dokter yang saat ini memeriksa.
''Apa kak Novan juga pernah mengalami seperti ini, Kak?'' tanya Cassandra cemas.
''Sering, Ndra. Dia memang memiliki riwayat sesak nafas. Badannya tidak kuat menahan dingin,'' papar Lolita jujur.
''Semoga kak Novan baik-baik saja,'' Cassandra meyakinkan.
Pintu ruangan dibuka dari dalam. Cassandra dan Lolita berhambur mendekati dokter yang baru saja keluar. Mereka menanyakan keadaan Novan saat ini.
''Untung segera dibawa ke rumah sakit, jadi pasien masih bisa diselamatkan, tapi harus menjalani perawatan yang intensif," terang dokter Lucky menjelaskan.
"Terima kasih, Dok,'' ucap Lolita lirih. Menatap Novan dari pintu yang sedikit terbuka.
Asma yang diderita Novan memang sedari kecil, bahkan mungkin bawaan hingga beberapa kali pria itu melanggar anjuran dokter, jenuh. Sering makan makanan yang seharusnya dilarang. Melakukan aktivitas yang berlebihan, bosan dengan keadaannya.
Berulang kali pria itu juga menyerah dan pasrah tidak ingin menjalani pengobatan. Yakin hidupnya akan baik-baik saja tanpa tim medis.
''Apa saya boleh masuk, Dok?'' tanya Lolita serius.
''Silakan, pak Novan sudah bisa bernapas normal, detak jantungnya juga mulai stabil, mungkin sebentar lagi sadarkan diri.'' Dokter mempersilakan Lolita masuk.
Sedangkan Cassandra mendekati sang suami yang baru saja datang sembari membawa kertas di tangannya.
''Apa kata dokter?'' tanya Yunan.
Cassandra menceritakan apa yang didengar dari dokter tadi. Ia mengajak sang suami duduk di depan ruangan menunggu Lolita. Bergelayut manja menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuhnya.
''Semoga kak Lolita mau memaafkan kak Novan, aku kasihan dengan dia,'' ucap Yunan yang seketika membuat Cassandra mengernyitkan dahi.
Cassandra melepas pelukannya seketika dan menatap tajam ke arah sang suami. Seolah seseorang yang sedang menantang permusuhan. Tak percaya dengan apa yang dikatakan pria itu tadi.
''Tidak semudah itu, Kak. Ini sudah keterlaluan, dia tidak hanya menyiksa kak Lolita secara fisik, tapi juga batin. Ternyata dibalik sikap kejamnya dia punya wanita lain, dan itu sudah sangat parah menurutku,'' pungkas Cassandra seperti yang diucapkan Lolita.
Ya, sebenarnya Lolita tahu jika suaminya mempunyai wanita simpanan. Hanya saja ia enggan mengungkap. Rasa cinta yang bersemayam mampu meluluh lantahkan keberaniannya. Tak sanggup berpisah dengan orang dicintai. Memilih untuk menyimpan meskipun hatinya terlalu sakit.
''Iya, Kak Novan berselingkuh dengan wanita lain. Karena ingin mempertahankan rumah tangganya, Kak Lolita mau memenuhi semua perintahnya termasuk meminta uang pada ibu.'' Cassandra mengucap dengan kesal.
''Makanya, jadi laki-laki itu harus setia.'' Melirik ke arah Yunan. ''Kalau memang gak bisa cinta dengan satu wanita, jangan menikah, sok-sokan khusyuk ngucapin qabul di depan penghulu, tapi masih saja melirik wanita lain.'' Ucapan yang bernada sindiran membuat dada Yunan bergetar.
Tentu saja ia merasa ucapan Cassandra itu ditujukan untuknya. Kendatipun tidak berselingkuh, namun Yunan sempat ada rasa dengan wanita lain selain istrinya.
''Iya, iya aku minta maaf.'' Melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
Mencium pundaknya berulang kali Sebagai bentuk permintaan maaf. Merasa bersalah karena waktu itu hampir menduakannya. Berjanji akan terus menatapnya seorang tanpa menoleh.
Menyesal dengan langkah yang pernah diambil tanpa memikirkan konsekuensinya.
Di dalam ruangan terasa mencekam. Meskipun sudah dinyatakan melewati masa kritis, Sekujur tubuh Novan masih dipasang alat medis. Suara monitor pun menjadi pusat perhatian Lolita. Ada rasa takut yang menyelinap masuk. Takut terjadi hal buruk dengan suaminya.
''Cepat bangun, Mas. Jangan membuatku khawatir seperti ini.'' Meraih tangan Novan dan menggenggamnya.
Dari lubuk terdalam, Lolita tidak tega melihat kondisi Novan yang sangat memburuk. Semua ini ia lakukan demi Aldo, putra satu-satunya yang masih sangat membutuhkan sosok papanya.
Saking lelahnya menangis, kedua mata Lolita bengkak. Wanita itu menyadarkan kepalanya tepat di samping tangan Novan dengan mata terpejam.
Namun, beberapa detik harus terbuka ketika mendengar dering ponsel dari saku tasnya. Ternyata itu bukan ponsel milik Lolita, melainkan milik Novan yang sengaja dibawa.
Metha, itulah nama yang berkelip di layar.
Dada Lolita bak ditusuk seribu jarum. Sakit, namun tak berdarah. Ia yakin wanita yang sedang menelpon adalah wanita simpanan suaminya yang katanya jauh lebih cantik dan anggun.
Lolita menggeser lencana hijau tanda menerima. Menempelkan benda itu di telinga dan mengunci bibirnya rapat rapat.
''Halo, Sayang.''
Entah mengapa mendengar itu membuat dada Lolita meletup-letup. Namun, ia tidak bisa berbuat apa apa selain menerima dengan lapang dan memilih untuk berpisah.
''Ini aku istrinya.'' Lolita berusaha mengucap dengan tenang.
Terdengar suara tawa kecil dari seberang sana. Seakan ungkapan Lolita adalah gambaran lucu yang memang perlu ditertawakan. Menyebalkan, bukan?
Andai saja mereka berdekatan, pasti Lolita akan menjambak rambut pelakor itu dan menampar pipinya. Sayang sekali, mereka berada ditempat yang jauh.
''O, istrinya mas Novan yang katanya jarang berdandan itu. Maaf ya, Mbak. Aku tidak ada urusan dengan kamu, tolong kasih teleponnya pada mas Novan,'' pinta wanita itu dengan suara menggoda.
''Mas Novan tidak bisa menerima telepon dari siapapun, termasuk kamu, Jal@ng,'' ucap Lolita ketus. Geram dengan orang yang suka menganggu rumah tangga orangnya.
Meletakkan benda itu di tempat semula. Melepaskan genggaman tangan Novan. Enggan berdekatan dengan pria yang sudah menduakannya.
''Mungkin kamu tidak membutuhkan aku di sisimu. Tapi selama sakit, aku akan merawatmu sebagai bentuk kepedulian. Setelah ini terserah kamu mau menceraikan aku atau tidak, aku tidak peduli. Yang terpenting dalam hidupku hanya Aldo,'' ucap Lolita panjang lebar.
Meyakinkan hatinya sendiri untuk tidak berharap kembali dengan Novan. Membebaskan pria itu untuk memilih wanita manapun yang disukai.