
''Kapan dia pulang, Kak?" tanya Cassandra memastikan. Ia tidak ingin lama-lama jauh dari Khalisa.
''Nanti aku akan jemput dia. Mungkin sore, tadinya aku mau langsung ajak pulang, tapi ada masalah sedikit.''
Cassandra menoleh, memelankan kunyahannya. Menatap Yunan dengan lekat. Menunggunya membuka suara. Apa? begitu tatapannya berbicara.
''Maafkan aku, Sayang. Aku yang sudah ceroboh.'' Yunan meraih tangan Cassandra dan menggenggamnya.
''Ada apa? Apa yang terjadi dengan Khalisa?'' Cassandra mulai cemas.
Betapa tidak, Yunan mengajak putri kecilnya ke rumah Erlan dan tiba-tiba mengatakan ada masalah.
''Tadi dia minta susu cokelat, setelah itu muntah, aku gak tahu kalau dia alergi cokelat.''
Saluran pernapasan Cassandra merasa sempit. Dadanya sesak mendengar ucapan Yunan. Tentu, ia sangat takut mendengar apa yang terjadi, akan tetapi yakin bahwa Yunan tak mungkin sengaja mencelakai putrinya.
''Tadi dia haus dan minta susu cokelat, kami semua tidak tahu kalau dia alergi, jadi langsung dibuatkan sama Laurent. Tapi tenang saja, sekarang sudah membaik. Tadi waktu aku pamit pulang dia sudah main sama Akram.'' Mengusap punggung Cassandra.
Sungguh, Yunan merasa bersalah sudah membuat putrinya hampir celaka.
''Lain kali hati-hati. Tidak hanya susu coklat, ada beberapa makanan yang tidak bisa dikonsumsi Khalisa,'' ucap Cassandra menjelaskan.
Yunan menanyakan apa saja yang tidak boleh dimakan putrinya. Kemudian menelpon ibunya dan menyampaikan apa yang dikatakan Cassandra tadi.
''Ibu titip salam. Dia minta maaf atas kesalahan yang diperbuat.'' Meletakkan ponselnya di meja.
''Sekarang makanlah, aku akan menemanimu.
Cassandra melanjutkan makannya. Meski tak selahap tadi, dia masih bisa memasukkan nasi ke dalam perutnya. Mengumpulkan tenaga lagi untuk kembali beraktivitas.
Ponsel milik Cassandra berdering lagi. Tetap sama, nama Lolita yang berkelip di layar. Namun, itu tidak dihiraukan membuat Yunan bertanya-tanya.
''Kenapa gak diangkat, Sayang? Mungkin ada yang penting,'' ucap Yunan ragu, takut salah bicara.
''Gak, kalau memang dia membutuhkan aku, biarkan saja datang ke rumah, ngapain lewat telepon?'' jawab Cassandra ketus.
Yunan tak berani bicara lagi. Ia memilih untuk diam daripada harus kena semprot seperti tadi. Dari nada bicaranya yang galak, istrinya itu memang sedang ada masalah dengan Lolita. Entah itu apa, Yunan pun tak tahu.
Hampir seharian penuh Yunan dan Cassandra menghabiskan waktu bersama. Setelah makan tadi, mereka bersantai di taman belakang sembari melihat ke arah kolam renang.
Tidak ada yang mereka bahas. Hanya membicarakan tentang kelincahan Khalisa yang memang super aktif. Sesekali menceritakan tentang kehidupannya saat di Kanada.
''Terimakasih ya.'' Meraih tangan Cassandra dan menciumnya.
''Terima kasih untuk pengorbanan kamu selama ini. Sampai kapanpun, aku akan berusaha membayar waktu yang kamu habiskan untuk mengurus putri kita. Berikan aku kesempatan untuk menjadi tulang punggung kalian,'' ucap Yunan dari hati.
''Seandainya aku menerimamu kembali. Kamu tidak akan melarangku bekerja, kan?'' tanya Cassandra menyelidik.
Yunan menggeleng cepat. Jika disuruh menjawab yang paling jujur, tentu tidak mengizinkan wanita itu untuk bekerja. Sebab, ia sudah bisa memberikan apapun yang didinginkan.
Sekarang keadaannya sudah sangat berbeda. Yunan bukan lagi pria miskin yang harus bekerja siang malam demi mendapatkan uang. Banyak aset yang membanjiri rekening. Hanya saja, ia tidak ingin mengekang Cassandra.
''Kenapa? Bukannya kamu menginginkan istri seperti Humaira? Bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan sempurna. Sedangkan aku __"
Seketika Yunan mendaratkan jarinya di bibir Cassandra. Menghentikan pembicaraannya yang lagi-lagi menyinggung tentang masa lalu.
''Sakiiiitttt...'' keluh Cassandra manja.
Mengusap pipinya yang memerah karena bekas gigitan Yunan. Memukul pelan tangan sang suami. Setelah sekian lama menjauh, kini ia bisa merasakan belaian mesra itu.
''Sudah jam tiga, aku jemput Khalisa dulu. Kamu mau ikut atau di sini?'' tanya Yunan sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.
''Aku ikut, sekalian kita pulang ke rumah ibu, kan?" Cassandra mengangkat jari telunjuknya.
***
''Aku gak suka mainan ini.'' Khalisa melempar mobil-mobilan milik Akram ke sembarang arah.
Berdiri di bagian pojok dengan kedua tangan melipat di perut, marah. Bibirnya manyun dengan kedua alis terpaut. Melarang semua orang mendekatinya.
''Khalisa mau mainan yang seperti apa, Nak? Barbie?'' Layin mencoba menenangkannya.
Bocah itu mengangguk tanpa suara. Menceritakan mainan apa saja yang disukai. Menyebut nama-nama boneka miliknya di rumah.
Erlan mencatat satu persatu apa yang dikatakan Khalisa lalu menghampirinya. Memeluknya seperti yang sering dilakukan pada Akram.
''Khalisa tunggu di sini ya, opa akan belikan mainan sebentar saja,'' ucap Erlan dengan lembut.
Khalisa mengangguk tanpa suara. Berjalan menghampiri Layin dan bergelayut manja di kakinya. Meminta maaf karena tadi sudah marah-marah. Begitulah yang sering diajarkan Cassandra.
''Anak pintar. Gak apa-apa, Sayang. yang penting Khalisa bahagia.'' Mencium kening Khalisa lalu mengajaknya kembali bermain dengan Akram, sementara Erlan langsung pergi.
Bertepatan saat mobil Erlan keluar, Yunan datang. Namun mereka tak sempat bertegur sapa karena mobil Erlan melaju dengan kecepatan tinggi. Seperti ada urusan penting saja.
''Itu ayah mau ke mana?'' Yunan membuka kaca mobil. Memastikan bahwa itu benar-benar mobil ayahnya.
''Mungkin ada urusan penting.'' Cassandra bersuara. Ikut penasaran dengan Eelar yang tampak buru-buru.
Mereka turun dan masuk bersamaan. Menghampiri Layin yang sibuk bermain dengan Khalisa dan juga Akram. Setelah lima tahun akhirnya Cassandra menginjakkan kakinya di rumah itu lagi.
''Bunda...'' Khalisa melambaikan tangannya ke arah Cassandra, pun dengan Cassandra yang melakukan sebaliknya.
Layin menoleh ke belakang. Menatap Cassandra dan tersenyum. Matanya berkaca-kaca melihat menantu tercinta itu berada di rumahnya.
''Apa kabar, Ibu?" Setelah tadi menyapa dari layar ponsel. Sekarang mereka bertatap muka secara langsung.
Sebagai seorang menantu tetap hormat. Terlebih, sekarang ia sudah berhijrah dan ingin menjadi lebih baik lagi, termasuk menunaikan adab saat berada di tengah orang yang lebih tua.
''Ibu baik, Nak. Kamu sendiri bagaimana?'' ucap Layin terisak. Ia tak mampu membendung air matanya. Terharu.
''Alhamdulillah kami juga baik.'' mata Cassandra ikut berkaca-kaca.
Akhirnya doa yang selalu dipanjatkan Layin kini dikabulkan oleh Sang Pencipta, Cassandra kembali di tengah keluarganya.
''Tadi ayah mau ke mana, Bu?'' Yunan yang bertanya.
''Mau beliin mainan untuk Khalisa. Tadi dia ngambek dan marah-marah karena gak suka dengan mainan Akram. Jadi, ayah kamu pergi ke toko mainan terdekat untuk membelinya.''
Mendengar itu membuat Cassandra malu, tak disangka putri kecilnya berani marah-marah di depan opa dan omanya. Padahal, hampir setiap hari Khalisa anteng dan nurut, namun sekarang seolah gadis itu berbeda.