
Bab. 55
"Bagaimana Nak Kendra? Apa Nak Kendra tertarik dengan proposal yang saya ajukan?" tanya pak Atmadja.
Kendra tersenyum sembari mengamati berkas yang ada di tangannya. Sesekali pria iru mengangguk samar, seolah setuju dengan proposal yang diberikan oleh pak Atmadja.
"Saya suka dengan proposal anda, Pak Atmadja," ujar Kendra yang mulai membuka suara mengenai pendapatnya.
Tentu saja hal tersebut membuat pak Atmadja senang. Sebab, jika sampai bisa bekerja sama dengan perusahaan dari keluarga Rayyansyah, itu sangat menguntungkan dirinya.
"Apa itu artinya anda setuju, Nak Kendra?" tanya pak Atmadja menatap penuh harap.
Seharunya yang datang dan mendiskusikan hal ini ialah Dilla. Tetapi anak itu sangat susah dihubungi sehingga membuat pak Atmadja yang harus turun tangan sendiri. Terlebih lagi perangai pria muda yang ada di hadapannya saat ini sangat tidak mudah ditebak.
"Saya setuju dengan kerja sama ini. Akan tetapi, apakah saya bisa berbicara yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, Pak?" tanya Kendra lalu menutup berkas yang ada di tangannya. Berpindah menatap pak Atmadja di depannya dengan raut yang sangat serius.
"Bicara saja, Nak Kendra. Apa yang ingin Nak Kendra tanyakan, kalau saya bisa menjawabnya, pasti saya jawab. Atau kalau hanya butuh pendengar yang baik, saya juga bisa menjadi pendengar yang baik. Karena selam ini saya juga membutuhkan teman bicara. Tapi anda pasti tahu sikap anak perempuan jaman sekarang, Nak Kendra. Sudah sekali mereka dekat sama orang tuanya. Apalagi sama papanya sendiri," ujar pak Atmadja yang malah lebih dulu membuka jalan untuk Kendra membahas hal yang sangat pribadi.
"Wah ... ternyata apa yang Pak Atmadja alami sama dengan apa yang saya alami," sahut Kendra yang memberi umpan lebih banyak lagi.
"Oh, ya? Kalau begitu permasalahan seperti apa yang sedang Nak Kendra alami? Apakah sama membuat pusing kepala, seperti saya?" tanya pak Atmadja yang kemudian terkekeh kecil.
Kendra menghela napas. Berpikir lagi, apakah sudah benar langkah yang dia ambil ini, tanpa berdiskusi terlebih dulu dengan Dilla.
"Saya kenal seorang gadis cantik sekali, Pa ...." Kendra sengaja menjeda kalimatnya lalu menatap intens ke arah pak Atmadja. "Maaf, bolehkah saya memanggil pak Atmadja dengan sebutan papa?"
Pertanyaan Kendra sungguh sangat mengejutkan pak Atmadja. Bukan hanya beliau saja, tetapi Biru yang mendengarnya pun hampir menyemprotkan kopi yang baru dia seruput. Sangking kaget dan terkejutnya dia.
'Ck! Itu anak kesambet apa lagi, sih. Makai acara papa papa-an segala!' kesal Biru dalam hati. Tidak tahu lagi jalan pikiran Kendra yang sebenarnya.
"Apakah anda keberatan, Pa?" tanya Kendra yang langsung memanggil pak Atmadja dengan sebutan papa.
Pak Atmadja yang sempat terkesiap kaget pun langsung tertawa sembari menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja boleh, Nak Kendra. Sesuka Nak Kendra mau manggil saya seperti apa," sahut pak Atmadja. "Papa juga bagus. Sama seperti putri saya. Sayangnya saya tidak bisa dekat dengan dia," lanjut pak Atmadja membuat kening Kendra mengernyit. Ingin tahu yang sebenarnya hubungan antara ayah dan anak tersebut.
"Tidak bisa dekat bagaimana, Pa?" tanya Kendra langsung. Benar-benar sangat penasaran.
Seburuk apa hubungan mereka hingga sampai membuat Dilla memutuskan untuk memilih mempunyai anak lebih dulu, daripada harus menikah.