Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 39. Horor



Bab. 39


Suasana menjadi hening seketika. Sampai-sampai membuat Dilla bingung sendiri. Ia pikir teman-temannya itu akan lebih heboh lagi dari sebelumnya.


Rupanya anggapan Dilla itu salah. Mereka tampak mengangguk ngangguk. Namun, itu hanya bertahan sebentar. Di detik selanjutnya pekikan mereka sungguh menggemparkan seisi kantin.


"Avaaaaahhhh!!" pekik Alex dengan aksen yang biasa dia pakai kalau sedang berbicara dengan cowok tampan.


"Edyaaaannn!" kali ini giliran bahasa khas daerah Amira berasal yang keluar dari mulut wanita itu.


Seketika meja mereka menjadi pusat perhatian. Bukan hanya orang yang ada di kantin. Bahkan mahasiswa yang sedang lewat di sekitarnya pun sampai tersentak kaget karena teriakan yang berasal dari mereka.


Sungguh, rasa-rasanya Dilla ingin sekali menghilang kali ini. Jika biasanya ia memang tidak punya rasa malu dan percaya diri yang sangat tinggi, akan tetapi tidak untuk sekarang.


Dilla benar-benar malu karena ulah dua teman laknatnya tersebut. Sudah dibilang jangan shock, eh ... mereka malah melakukan paduan suara.


"Dill Dill ... lo nggak sedang ngeprank kita, kan?" sangsi Amira setelah mengatupkan kedua tangan di depan dada dan menatap memutar ke arah sekitarnya. Meminta maaf atas ketidaknyamanan mereka akibat teriakan dirinya dan juga Alex.


Sementara Alex langsung berpindah tempat duduk tepat di sebelah Dilla. Membuka kembali kerah jaket yang Dilla pakai, demi menelisik dan memperjelas penglihatannya pada tanda-tanda yang tidak hanya satu atau dua saja di sana. Sampai-sampai wajah Alex berada begitu dekat.


"Ini beneran si Dopen yang buat?" tanya Alex sembari memindahkan tatapan Dilla dengan cara mengarahkan dagu Dilla ke kanan dan ke kiri. Sedangkan wanita itu setengah mendengak.


Dilla melirik malas. "Memangnya gue mau sam sembarang cowok."


Amira dan Alex mengangguk. Mereka tahu selera Dilla, meskipun wanita itu memungut cowok di pinggir jalan.


"Iya juga, sih. Selera lo emang tinggi-tinggi walaupun mereka dari keluarga biasa," sahut Alex yang terus mengamati tanda itu. "Kuat banget berarti ya dia ngisepnya. Sampe membiru gini," ujar Alex lagi dengan ekspresi seolah ngeri sendiri membayangkan rasanya ketika dihisap seperti itu. Mana banyak lagi.


Tunggu tunggu. Sepertinya Amira melupakan sesuatu atau memang baru ingat sekarang. Kemudian wanita itu menggabungkan keanehan keanehan yang terjadi di antara dua orang tersebut.


"Nyeri banget, anj*r!" seru Dilla. "Coba aja kalau badannya kecilan dikit. Udah pasti gue banting." pongahnya kemudian.


Padahal yang terjadi sebenarnya, boro-boro mau banting. Akal sehatnya bekerja saja tidak. Gimana mau merespon yang seperti itu.


"Dill ...." panggil Amira dengan wajah yang tampak bingung.


"Hmm."


"Jangan bilang kalau tuh Dopen juga yang ambil keper—hmmpp!"


"Keper apa, Mir? Kalau ngomong tuh yang jelas. Jangan bikin rasa penasaran gue gentayangan kayak gini!" protes Alex kesal. Karena dia tidak suka menerima informasi hanya setengah saja.


Sementara Dilla melototkan matanya ke arah Amira. Memberi peringatan kepada temannya itu untuk tidak membuka suara mengenai kejadian beberapa hari yang lalu.


"Nanti kuajak spa di Millane," ujar Dilla dengan suara yang sangat lirih. Berusaha untuk menyuap Amira agar tidak mengatakan dengan jelas kepada siapa dirinya melepas kesuciannya.


Tentu saja, itu tawaran yang sangat menggiurkan bagi Amira. Jelas, wanita itu tidak akan melewatkannya begitu saja.


"Sejuta!" seru Amira begitu mudahnya.


"Setuju," ralat Dilla dengan tatapan malas. Membuat Amira menyengir.


Sedangkan Alex menatap kesal. "Kalian emang nggak sehati sama gue," ujarnya dengan nada kesal. "Udah nggak nganggep gue temen lagi? Hmm?" protesnya karena tidak diberitahu apa sebenarnya yang mereka bahas.


"Tutututu ... Ayang Al Al ... bukannya gitu, Yaang. Tapi ini tuh urusan perempuan. Jadi, bahasnya juga sama perempuan. Kalau sama lo ...." Amira menjeda kalimatnya. Mengamati Alex mulai dari atas hingga ke bawah. Lalu berhenti di bagian tengah tubuh Alex. "Itu belalai atau perahu?" tunjuk Amira dengan tatapannya yang mengarah ke tempat yang dimaksud.


"Cialan, lo!"


Mengabaikan kedua temannya yang tengah berdebat, Dilla merogoh tasnya. Mengambil ponsel yang barusan saja terasa bergetar. Rupanya ada pesan yang masuk. Gegas wanita itu membukanya.


Dopen.


Buruan ke tempat parkir. Aku mau pulang. Panas. Jaketnya bawa ke sini.


Begitulah isi pesan dari pria yang sedang menjadi topik utama dari pembicaraan mereka.


"Ck! Nggak penting banget."


Dilla mengabaikan pesan itu tanpa berniat membalasnya. Hingga di menit selanjutnya ponselnya bergetar lagi. Pesan lain masuk.


Dopen.


Aku yang ke tempatmu atau kamu yang ke sini?


Kali ini, entah mengapa pesan itu terasa horor bagi Dilla.