
Bab. 51
Setelah mengantar Dilla pergi ke kampus, Kendra tidak jadi melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Pria itu justru berputar balik dan menuju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, dia sambut oleh mamanya yang kebetulan tidak sedang mengajar hari ini.
Wanita paruh baya itu menatap heran pada sang putra. Karena tidak biasanya Kendra pulang pagi.
"Nggak ngantor kamu, Kend?" tanya bu Mawar.
Kendra langsung menaruh pantatnya di sofa yang ada di ruang tamu. Menyandarkan punggungnya di sana sembari merentangkan tangannya. Lalu meraup wajahnya dengan sangat kasar. Terlihat seperti seorang pria yang sedang frustasi sangat.
"Kamu kenapa, Kend?" tanya bu Mawar lagi khawatir. Kenapa lagi dengan putra semata wayangnya ini.
Kendra mendesaah berat. Pria itu lalu menatap mamanya dalam keadaan mulut terkunci rapat.
"Ma," panggil Kendra.
"Ya?" sahut bu Mawar cemas.
"Kendra mau kawin, Maaaaa! Mau kawiiiiinnn!" pekik Kendra tiba-tiba membuat bu Mawar langsung memukul kan kemoceng ke arah putranya tersebut setelah berhasil membuatnya cemas dan kaget.
"Amit-amit! Nikah dulu, Kend. Baru kawin," ralat bu Mawar.
"Tapi Kendra mau kawin lagi, Ma. Dia gemesin banget. Kendra nggak bisa nahan lama-lama," ungkap Kendra.
Melihat wajah Dilla dengan ekspresi seperti tadi saat meminta sesuatu kepadanya saja, sudah berhasil membuat milik Kendra tegang. Rasa-rasanya ingin menyusup masuk dan menjenguk calon anaknya di dalam sana.
Akibatnya sekarang Kendra tidak bisa meredakan apa yang memegang di bawah sana. Tidak mungkin dirinya datang ke kantor dengan keadaan seperti ini.
Sementara bu Mawar melihat Kendra seperti itu hanya bisa menggeleng kepala. Bu Mawar tahu sikap Dilla seperti apa. Namun, ia juga tidak bisa ikut campur dalam urusan anak muda selain menasehati jika mereka salah.
"Apa Kendra bikin perusahaan papanya bangkrut aja ya, Ma? Terus Kendra tawarkan kerja sama dengan imbalan aku minta anaknya," usul Kendra yang langsung mendapat timpukan kemoceng lagi dari bu Mawar.
"Kalau bicara itu yang bener. Jangan ngawur!" omel bu Mawar. Tidak suka jika Kendra mempunyai rencana jahat seperti itu. "Apa kamu nggak mikir perasaan Dilla nantinya, Kend? Bisa-bisa Mama nggak bisa ketemu sama cucu Mama. Lagian juga kenapa kamu main nyicil dulu. Kenapa nggak di kontanin kalau memang suka sama mahasiswinya Mama, Kend?" geram bu Mawar.
Sangat menyayangkan perbuatan putranya. Tapi mau di kata apa lagi. Jika semua sudah terlanjur terjadi.
"Bukan Kendra yang memulai, Ma. Tapi memang Dilla duluan. Eh, taunya Ke dra pria pertama bagi Dilla. Ya udah, Kendra kejar aja. Orang Kendra juga lupa nggak pake pengaman pas lakuin—"
"Jangan malah di perjelas, Kendra!" ingat bu Mawar.
"Udah, jangan mikir rencana aneh-aneh. Dekatin dia dan kasih perhatian lebih. Mama yakin, dia bakalan mau sama kamu nanti." saran bu Mawar.
Kendra pun mengangguk setuju. Apalagi beberapa hari terakhir ini Dilla sangat manja kepadanya. Walaupun alasan utamanya karena anak mereka, paling tidak wanita itu sudah mulai terbuka dan terbiasa dengan dirinya.
***
Di kampus.
"Lo kok keliatan gendhutan sih, Dill? Padahal kita baru tiga hari nggak ketemu, kan?" tanya Amira sembari memperhatikan tubuh Dilla.
"Iya, Yaang. Cara berpakaian lo juga berubah. Kasian tuh cowok-cowok pada nggak dapat pemandangan indah dari tu—"
Plak!
Bukan Dilla yang mendaratkan geplakan di wajah Alex. Melainkan Amira yang begitu gemas dengan sikap temannya yang satu ini.
"Dasar, mulut rombengan. Kalo ngomong suka bener aja!" sahut Amira.
Membuat Alex besengut marah. "Terus lo ngapain geplak gue, pe'ak!"
Amira menyengir tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Gemes aja gue ama mulut lemes lo. Jadi pingin gigit. Coba dikit ya?" goda Amira yang yakin kalau Alex belum pernah melakukan sentuhan bibir.
Perkataan Amira barusan sinta membuat Alex menutupi bibirnya sendiri sembari menjauh.
"Hei, biduan kecamatan! Jaga jarak ama gue, ya! Gue nggak napsu sama lo!" tolak Alex dengan wajah merah padam.
Amira dan Dilla kompak sekali tertawa melihat sikap Alex yang lucu di mata mereka. Meskipun wajahnya terbilang tampan jika agak berisi sedikit. Karena tubuh Alex sangat kurus dan tinggi semampai.
"Udah, sana kalau mau berantem. Gue mau makan ini dulu," ujar Dilla.
Kemudian wanita itu mengeluarkan rujak manis yang sempat dia minta pada Kendra tadi dari plastik hitam dan mulai memakannya.
Sementara Dilla tampak begitu menikmati rujaknya di dalam kelas, Amira dan Alex saling tukar pandang. Seolah berbicara dari gerakan mata mereka.
Udah, jangan minta² nambah terus😭 Yuta mau pindah ke kamarnya Mas Gara sama Mas Vampir Tama. Jangan lupa baca mereka juga, ya^^