
Bab. 67
Pagi harinya, Dilla menggeliat di kala matanya terasa silau. Perasaan, kamar nya tidak beradu arah dengan sinar matahari. Namun, kenapa sekarang rasanya sangat menyilaukan sekali.
"Honey ... bangun, udah siang."
Terdengar.sebuah suara yang sangat familiar di telinganya. Membuat Dilla perlahan membuka mata dan memunggungi arah cahaya yang membuat matanya kurang nyaman.
"Jam berapa memangnya?" tanya Dilla sembari membuka mata. Mengedarkan pandangannya, seolah ingin mengenali ruangan yang Dilla tahi bukan ruangannya.
"Sudah jam tujuh dan kita harus segera bersiap-siap," jawab suara seorang pria. Sontak mampu membuat Dilla tersadar sepenuhnya.
"Aku masih ada di rumahmu?" tanya Dilla panik. Ia lupa bahwa tidak sempat untuk memberi kabar pada papanya jika tidak pulang semalam.
Meskipun sering kali terjadi cekcok di antara mereka. Namun, Dilla tidak pernah tidak pulang selama ini. Selain kejadian beberapa bulan yang lalu dan malam ini.
Sangat kentara sekali raut wajah wanita itu sedang panik. Membuat Kendra menjelaskan lebih dulu.
"Aku sudah hubungi papamu semalam. Bilang kalau kamu nggak pulang dan nginep di rumahku," ucap Kendra. Sedikit melegakan perasaan Dilla.
Akan tetapi, tunggu tunggu. Ada yang tidak beres di sini. Lantas Dilla yang ingin bangun dari tempatnya pun kini menatap ke arah Kendra dengan tatapan menelisik.
"Sejak kapan kamu kenal sama papa?"
Itulah pertanyaan ketiga yang keluar dari mulut Dilla.
Kendra gelagapan. Kenapa bisa mengatakan hal seperti itu tanpa persiapan terlebih dulu.
"Ah, aku ... ya! Lihat di ponselmu dan aku menelpon beliau semalam agar nggak panik aja kalau kamu nggak pulang," jawab Kendra dengan tepat.
Dilla masih memicing curiga, namun dengan segera Kendra alihkan.
"Udah yuk, mandi dulu. Udah ditungguin Mama di bawah," ajak Kendra sembari menarik tangan Dilla agar segera bangun dari tempatnya.
Dilla menurut. Dia pun berjalan menuju ke kamar mandi. Namun, belum sampai di pintu kamar mandi, wanita itu berbalik dan menatap ke arah Kendra.
"Kok ada yang aneh, ya?" tanyanya membuat Kendra mengurungkan niatnya keluar dari kamar.
"Kamu semalam tidur di sini? Sama aku?" tanya Dilla dengan tatapan begitu tajam.
Susah payah Kendra mengangguk. Takut jika wanita itu akan mencubit dan mencakar dirinya lagi.
"I-iya," jawab Kendra. Berhadapan dengan Dilla, tidak hanya kesabarannya yang setipis tisu. Pun begitu dengan nyalinya.
"Kok aku nggak mual pagi ini?" tanya Dilla lagi dengan raut bingung.
Tentu saja hal itu membawa angin segar bagi Kendra. Apalagi jika bukan modus pria itu.
Dengan senyuman yang begitu lebar, Kendra pun berjalan ke arah Dilla.
"Itu artinya anak kita mau tidur di samping papinya terus, Honey," ucap Kendra sembari memainkan alisnya.
Tangannya yang mencoba menyentuh perut Dilla pun segera ditepis oleh wanita itu.
"Modus!" sinis Dilla yang kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dia ingin segera membersihkan diri secepat mungkin. Tidak enak dengan hu Mawar yang sudah menunggu dirinya. Tetapi mau bagaimana lagi, rasa kantuk tidak bisa Dilla hilangkan begitu saja. Lebih lagi sekarang tidak ada kelas. Biasanya memang ia akan bangun lebih siang dan bermalas-malasan di kamar.
***
"KiTa mau ke mana sih?" tanya Dilla pada Kendra yang duduk di sampingnya. "Ada acara pesta memangnya? Kok aku makai gaun gini?" cecar Dilla. Kemudian wanita itu menatap ke arah bu Mawar yang duduk di kursi bagian belakang. "Mama Mawar juga makai kebaya. Ada apa sebenarnya ini, Ma?" tanya Dilla kepada calon mama mertuanya tersebut.
Sedangkan bu Mawar hanya tersenyum saja. Ingin menjawab, takut disalahkan. Biarkan semua diurus oleh Kendra.
"Semalam kamu minta bukti kan sama aku?" timpal Kendra. "Ya udah, ini aku buktiin sekarang," lanjutnya lagi yang semakin membuat Dilla bingung.
"Apa-an sih, Mas? Tinggal bilang aja apa susahnya sih! Nggak boleh loh, bikin ibu hamil emosi!" ingat Dilla yang mulai kesal.
Sementara Kendra tampak begitu santai dengan senyuman menawannya.
"Nanti kalau sampai rumah kamu bakalan tahu, Honey," ujar Kendra yang dengan berani memanggil Dilla dengan sebutan sayang.