Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 59. Nggak Ada Obat



Bab. 59


Berulang kali Dilla mengumpat di dalam hati karena kelakuan pria yang baru saja ia hubungi. Bukannya segera mendapatkan apa yang ia mau, Dilla justru menelan kekesalan yang teramat sangat.


"Kenapa juga aku ketemu sama orang modelan begini!" sesal Dilla.


Wanita itu kemudian beranjak dari sana dan menuju ke depan. Berniat menunggu Kendra di sana. Namun, sebelum sampai depan kampusnya, Dilla melihat sosok pria yang ia tunggu sedari tadi.


Penampilan pria itu sangat berbeda dari yang biasa Dilla lihat. Jika sebelumnya Kendra lebih sering mengenakan kemeja dan celana bahan, atau paling tidak celana kinos panjang. Namun, tidak untuk sekarang ini. Bahkan, damage pria keren dan cool melekat begitu sempurna pada diri Kendra.


Sampai-sampai membuat beberapa mahasiswi yang mungkin baru pertama kali ini mereka melihat Kendra dalam model penampilan seperti sekarang, pun berteriak histeris. Tidak jarang pula mereka mengangkat ponsel untuk mengabadikan makin berjalan tersebut.


Kendra yang mengenakan celana jeans hitam serta kaos senada yang begitu pas pada tubuhnya yang kekar dan tercetak begitu jelas tumpukan bata di bagian depan, serta di lapisi jaket kulit yang semakin menambah kesan pria maco pada diri Kendra. Sungguh, Dilla tidak bisa berkedip untuk sesaat. Wanita itu bahkan tidak percaya jika pria yang begitu sempurna di matanya tersebut datang dan menghampiri dirinya.


"Waaahh ... gila! Pak Dopen ganteng banget, anj*r! Gue mau dong, jadi selingkuhannya!" teriak salah satu mahasiswi yang tidak jauh dari mereka.


"Jadi pembantunya pun hue juga rela. Gratis! Asal bisa liat pemandangan yang turun dari surga kek begini," sahut yang lain.


"Jadi tukang lap sepatunya juga boleh!"


Tidak hanya mereka saja yang berteriak histeris, sebenarnya Dilla pun juga. Hanya saja dia berusaha untuk bersikap tenang dan segera mengatasi rasa keterkejutannya. Karena sesungguhnya, ia paling tidak bisa melihat cowok paket lengkap seperti dopen yang semakin mendekat ke arahnya.


"Hey! Sadar kalian tuh! Liat aja yang di samperin, noh! Adilla Atmadja! Kalian tahu sendiri paras dan body-nya yang nggak ada obat. Gue yang cewek aja juga suka, apalagi si Dopen itu. Udah udah, pada bangun sana!"


Mendengar itu, Kendra sendiri tersenyum geli dalam hatinya. Membenarkan apa yang mereka katakan.


Memang, pesona Dilla tidak ada obat sama sekali. Itulah mengapa ia rela berganti pakaian seperti ini setelah pertemuannya dengan pak Atmadja.


Benar saja. Dilla benar-benar menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya barang sebentar saja.


Hingga Kendra sampai di hadapan Dilla, wanita itu tetap menatapnya tanpa berkedip.


"Hei! Liatin apa sih?" Kendra menjentikkan jarinya di depan wajah Dilla. Membuat wanita itu mengerjap seketika.


Ekspresi Dilla yang baru tersadar dari lamunan dan segala imajinasinya pun terlihat begitu menggemaskan.


"Lagi liatin suaminya yang ganteng banget, ya?" Kendra mendekat, seraya berkata dengan nada lirih. Tidak tahan untuk tidak menggoda Dilla


Dilla yang tersadar pun langsung memalingkan wajahnya. Malu sekali ketahuan mengagumi wajah Kendra yang memang tampan. Bukan hanya wajah saja, tetapi penampilan pria itu uang begitu menggoda, membuat imajinasi Dilla semakin tidak bisa dikontrol lagi.


Beruntung, mereka berada di tempat umum seperti ini. Bayangkan saja kalau tidak, mungkin Dilla sudah mendorong Kendra dan memaksanya untuk memperlihatkan semuanya. Lalu mereka akan ....


"Ah!" Dilla menggeleng kepala, mengusir segala imajinasi sialaan yang mempengaruhi dirinya sekarang ini.


Kendra yang ada di depannya pun sedikit banyak bisa menebak pikiran Dilla, jika mengingat ke belakang tentang apa yang dilakukan oleh wanita absurd ini. Bahkan wanita itu tidak menanggapi sebutan yang baru disematkan oleh Kendra barusan.


Hal itu semakin membuat Kendra maju dan mengikis jarak di antara mereka.


"Kenapa? Pingin ya?" bisik Kendra dengan suara yang begitu menggoda.


Membuat Dilla melebarkan matanya, ingin melayangkan protes, namun suaranya tercekat di saat Kendra melakukan hal yang sangat ekstrim. Bahkan di depan para mahasiswa yang berada di depan kampus. Jelas saja membuat mereka semakin berteriak histeris.