Hidden CEO

Hidden CEO
Pindah



Angin malam berhembus masuk dari celah-celah tirai jendela, begitu dingin dan menusuk. Namun ada kehangatan luar biasa yang dirasakan Cassandra dan Khalisa. Kini mereka berada dalam dekapan seorang pria yang penuh kasih sayang dan penuh cinta serta ketulusan.


Seolah hidup mereka semakin sempurna dengan kehadiran Yunan di sisinya. Tak disangka, perpisahan yang berulang kali terjadi dengan jangka waktu bertahun-tahun akhirnya mempersatukan dan mengeratkan ikatan tali yang begitu kuat. Tak ada lagi kata-kata yang mampu diucapkan Yunan selain rasa syukur dan terima kasih. Penantiannya telah bertepi. Ia menemukan tambatan hati yang begitu dicintai.


Di atas pembaringan itu, Cassandra dan Yunan saling sibuk dengan ponsel. Mereka mencari tempat liburan yang akan mereka datangi nanti. ''Aku sukanya di Jepang.'' Cassandra melayangkan keinginannya.


"Tapi aku suka di Turki.'' Beralih Yunan.


''Aku suka di taman.'' Khalisa ikut menyahut dan itu sukses membuat kedua orang tuanya tertawa terbahak-bahak.


Kehadiran si kecil membuat kebahagiaan mereka semakin lengkap.


''Oh iya, Kak. Tadi ayah menawarkan kerjaan padaku, katanya ada peluncuran produk pelangsing terbaru, dan dia memintaku untuk menjadi model, tapi aku nggak mau,'' jawab Cassandra seperti yang dikatakan pada Erlan tadi.


''Bagus itu, ngapain kerja lagi kalau sudah banyak uang.'' Membanggakan diri, sungguh setelah ini ia tidak ingin istrinya menerima tawaran pekerjaan. Apa pun itu, dan berapapun bayarannya maka ia sanggup untuk menggantikan apa yang biasa diterima oleh Cassandra.


''Kalau hanya kontraknya setahun sih aku mau, tapi ini 5 tahun. Dan aku nggak sanggup minum pil kontrasepsi, mual.''


Dalam 3 hari ini Cassandra memang sengaja meminum pil kontrasepsi. Berharap Yunan tidak memakai sarung lagi, akan tetapi ia gagal. Setiap kali meminum pil itu, perutnya terasa mual dan muntah. Itu artinya Ia memang tidak cocok mengkonsumsinya.


''Apa malam ini aku harus pakai sarung lagi?'' ucap Yunan pasrah, ia tidak mungkin melanggar apa yang sudah ditetapkan sang ratu


''Harus dong, sebenarnya bisa saja sih Kak, meskipun muntah kemarin aku juga minum pilnya kok. Tapi kata pelayan kemarin harus jangka waktu seminggu, sedangkan aku baru 4 malam ini minumnya, nggak pa-pa kah? Kalau aku masih bisa hamil gimana?''


''Sayang.'' Yunan semakin gemas dengan Cassandra yang selalu menganggap masalah itu sangat serius, padahal seandainya pun disuruh membayar penalti, ia sanggup.


''Sebenarnya berapa sih penalti yang harus kamu bayar?'' tanya Yunan serius.


Sungguh, ia sudah tidak tahan lagi jika harus memakai sarung. Menurutnya ada yang sedikit tertahan ketika hendak menumpahkan lahar panasnya, dan itu membuatnya sedikit tak nyaman. Namun bagaimana lagi, Cassandra menginginkannya dan ia tidak bisa membantah.


"Nggak banyak sih, tapi bagaimana dengan Khalisa, aku takut kasih sayangmu terbagi kalau dia punya adik,'' ucap Cassandra takut.


Takut putri pertamanya itu tidak mendapatkan kasih sayang seperti yang diinginkan karena sudah memiliki saudara. Takut Yunan akan lebih memperhatikan bayi kecilnya daripada kakaknya.


''Sampai kapan pun aku tidak akan menyisihkan Khalisa. Dia putriku, bahkan sampai sekarang pun aku menganggapnya seperti bayi yang baru lahir dari rahim kamu. Dia akan mendapatkan kasih sayang dariku sepenuhnya. Aku janji, seandainya kamu hamil nanti, aku tidak akan membedakan dia dengan anak kita yang lain, dia akan mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dariku, lalu apa yang kamu takutkan?''


''Baiklah, malam ini aku mengizinkan kakak tidak memakai sarung lagi. Tapi aku akan tetap meminum pil itu.'' Yunan menyatukan keningnya dengan kening Cassandra. Kemudian mencium bibir wanita itu dengan lembut dan lama. Menoleh ke arah khalisa yang tampak mulai terlelap.


''Sepertinya sudah aman. Aku pindahin Khalisa dulu ya,'' bisik Yunan pelan, lantas ia turun dari ranjang. Mengangkat tubuh si kecil dan keluar dari kamar. Menghampiri mbak Lila yang tampak menunggunya di depan kamar Khalisa. 


Tidak hanya membaringkan di atas ranjang. Yunan juga mengimpit sang putri dengan bantal. Menyuruh mbak Lila segera tidur di sampingnya. Memastikan bocah itu memang benar-benar terlelap.


Yunan kembali ke kamarnya. Dari belakang pintu, ia sudah mulai melepas piyama yang memablut tubuhnya. Menampakkan dada bidang yang begitu putih bersih. Berjalan pelan menghadiri sang istri yang tampak menyiapkan diri di atas ranjang. Tanpa aba-aba, ia langsung melanjutkan aksinya. 


Pagi ini Yunan dan Cassandra berkemas. Mereka berniat akan pindah ke rumah barunya. Pun dengan Margareth yang akan ikut mengantar. Yunan meminta wanita itu untuk tinggal bersamanya Namun sayang, sang mertua menolak dan tetap ingin tinggal di rumahnya. Rumah peninggalan suami tercinta.


''Tapi untuk beberapa malam ini Ibu nginep di rumah kami ya?'' pinta Yunan serius. Sungguh, ini bukan hanya pura-pura ataupun mencari muka. Ia benar-benar ingin berkumpul dengan seluruh keluarganya di rumah besar itu.


Akan tetapi, sepertinya itu tidak akan mungkin terkabul karena mereka lebih suka berada di rumahnya masing-masing. Meskipun tak sebagus rumah yang ia bangun.


"Nanti kalau ibu kangen, Ibu boleh main ke rumah kamu ya?'' kata Margareth


''Pintu rumah akan selalu terbuka untuk Ibu. Datanglah kapan pun, kami tidak masalah, yang penting jangan tengah malam. Takut dikira hantu.'' Candaan Yunan membuat semua orang terkekeh.


Beberapa koper sudah dibawa ke depan. Kebanyakan itu hanya milik Cassandra dan juga Khalisa. Sedangkan tidak ada satu pun milik Yunan, karena ia meninggalkan semua bajunya di tempat itu untuk persediaan saat menginap. Mereka masuk memasukkan barang-barang ke mobil yang lain, sedangkan Yunan kemudian mengambil mobil yang lainnya untuk semua keluarga. 


Di tengah perjalanan hanya ada tawa yang menghiasi sudut bibir Margareth. Ia ikut bahagia melihat anak dan cucunya bahagia. Sesekali menata punggung Yunan yang sibuk dengan setirnya.


''Sekarang ibu tebak, seberapa besar rumah Kak Yunan yang akan kami tempati?'' tanya Cassandra penuh teka-teki. Menoleh ke arah Margareth yang duduk di bagian belakang bersama Khalisa.


''Memangnya sebesar apa, pasti lebih bagus rumah kita,'' ucap Margareth asal. 


Cassandra hanya tersenyum kecil. Yakin ibunya akan terkejut setelah nanti melihat rumah Yunan yang jauh lebih besar dari rumahnya. Bahkan lebih besar lagi dari rumah Erlan.


''Maaf, Bu. Aku cuma bisa memberikan rumah kecil untuk Cassandra dan Khalisa, yang penting tepatnya nyaman dan mereka betah.''


Yunan mengedipkan satu matanya. Memberi kode kepada Cassandra untuk tetap diam dan tidak membeberkan sebesar apa rumah yang akan mereka tempati.