
"Tumben kamu jam segini sudah pulang?" Yunan melihat jam yang melingkar di tangannya. Lalu beralih menatap Zafan dengan tatapan curiga.
"Iya, Kak. Malam ini aku mau dinner dengan Laurent. Aku ingin memberi kejutan untuk dia," ucap Zafan biasa, bahkan sedikit pun tak ada rasa bersalah.
"Acara apa?" tanya Yunan menyelidik.
"Hari ulang tahun pernikahanku dan Laurent yang kelima, Kak," jawab Zafan bahagia.
Seharusnya di hari anniversary seperti ini kamu memberikan kejutan yang membahagiakan. Tapi nyatanya kamu memberikan luka untuk adikku.
Yunan berusaha untuk meredam emosinya. Mengurai tangannya yang tadi sudah mengepal sempurna. Sampai saat ini ia masih mencari cara yang tepat untuk membongkar perselingkuhan pria itu tanpa menyakiti hati Laurent.
"Selamat, Aku harap kamu akan selalu membahagiakan adikku." Yunan mengulurkan tangannya ke arah Zafan dan langsung diterima pria itu tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Baiklah, aku ke kamar dulu." Menunjuk pintu kamarnya. Kemudian meninggalkan Zafan yang memang akan turun.
Setibanya di kamar, Yunan berdiri dan bersandar di dinding. Menatap Cassandra yang sedang meringkuk dengan mata terpejam. Bibirnya mengulas senyum ketika melihat wajah teduh sang istri.
"Bagaimana caraku mempermalukan dia tanpa Laurent tahu." Bisa saja Yunan mendatangkan Lioni untuk menjadi saksi, namun ia takut Laurent akan terluka, sedangkan itu yang dihindari. Satu tetes air mata sang adik sangatlah berharga, dan ia takkan mampu menyaksikannya.
"Aku harus bicara empat mata dengan Zafan. Kalau dia masih tidak mau mengakuinya, aku akan melakukan cara yang lebih keji lagi."
Berjalan mengendap-endap. Merangkak naik ke atas ranjang. Memeluk sang istri dan mencium keningnya.
Tentu saja aksinya ini mengusik ketenangan sang istri. Wanita itu terbangun dan ikut tersenyum melihat sang pujaan hati datang.
"Maaf, aku ketiduran," ucap Cassandra dengan suara serak.
"Gak pa-pa. Yang penting kamu baik-baik saja, aku sudah senang banget." Mengusap lembut pipi istrinya dengan lembut.
"Apa tadi kamu datang ke rumah perempuan yang bersama Zafan?" tanya Cassandra memastikan.
Yunan mengangguk tanpa suara. Jika mengingat itu, dadanya kembali meluap-luap dan hampir meledak. Seolah ingin menghantam sesuatu. Sayang sekali ia tidak bisa melakukan itu.
"Lalu?" Cassandra semakin menyelidik.
"Benar, ternyata dia pacarnya Zafan, bahkan perempuan itu membeli apartemen juga uang dari Zafan," ungkap Yunan kesal.
Mungkin jika dengan Laurent atau keluarga yang lain Yunan akan menutupi namun tidak dengan Cassandra, wanita itu harus tahu apa saja yang dihadapinya saat ini, termasuk yang terjadi dengan pernikahan adiknya.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Cassandra ikut iba dengan nasib tragis yang menimpa adik iparnya, pasti sangat kecewa jika tahu tentang kelakuan suaminya.
"Kita pikirkan saja nanti, aku mohon jangan bilang pada siapa siapa tentang ini. Ibu, ayah dan Laurent tidak perlu tahu," pinta Yunan serius.
Cassandra mengangguk setuju. Ia juga tidak ingin masalah ini semakin rumit dan berkepanjangan. Tanpa sengaja, ia melihat luka di jari Yunan. Mengangkat kepala dan mengikat rambutnya dengan asal.
"Kamu kenapa, Kak? Apa kamu habis berantem?" tanya Andara cemas.
"Tadi aku sempat memukul dinding di apartemen," jawab Yunan jujur. Teringat jelas menjadikan dinding sebagai bahan pelampiasan amarahnya.
Cassandra berdecak kesal. Lantas ia mengambil obat dan mengobati tangan suaminya setelah dibersihkan. Takut membengkak dan perih.
Di ruang makan terasa sangat ramai dipenuhi suara Khalisa dan Akram. Mereka berdua saling berebut duduk di pangkuan Zafan. Sementara Laurent menyusun makanan di meja.
"Sayang, nanti malam kita makan di luar, yuk! Aku punya sesuatu untuk kamu," ucap Zafan sambil mengambil piring.
"Tumben banget, apa malam ini kamu gak lembur?"
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Laurent. Wanita itu hanya mengingatkan tentang kebiasaan sang suami. Namun, wajah Zafan mendadak pucat. Sedikit panik dan kebingungan.
"Sudah aku selesaikan tadi siang," jawab Zafan asal.
"Baiklah, malam ini kita dinner," jawab Laurent setuju.
Baru beberapa menit duduk, Yunan dan Cassandra datang. Mereka segera bergabung di tengah keluarganya yang siap untuk makan. Sesekali Yunan menatap Zafan dengan penuh kebencian.
"Oh ya, Yah. Tadi aku berkunjung ke apartemen Keraton." Yunan melirik ke arah Zafan yang tiba-tiba tersedak minuman yang hampir ditelan. Wajahnya pucat pasi dan tak bisa berkutik lagi.
"Kamu gak apa- apa, Mas?" Laurent membersihkan baju suaminya yang terkena tumpahan air.
"Kamu kenapa, Zafan? Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi." Yunan mulai memasang pertempuran.
Mungkin caranya untuk membuka kedok Zafan memang agak berbeda dengan pria di luaran sana. Sebab, ada hati yang harus dijaga sepenuhnya.
"Ti-tidak. Apa kakak punya unit di sana?" tanya Zafan mencoba untuk terlihat tenang. Berharap tidak ada yang curiga dengan perubahannya.
"Hemmm, aku punya tiga unit di sana. Ada di lantai enam, sepuluh, dan… lima."
Jawaban Yunan mampu membuat sekujur tubuh Zafan meremang. Wajah pria itu dipenuhi dengan keringat dingin. Kegugupannya semakin melanda memenuhi dadanya.
"Ini belum seberapa, Zafan. Tunggu saja permainan dariku."
Aku yakin ini cuma kebetulan saja. Tidak mungkin kak Yunan tahu tentang hubunganku dengan Lioni. Mulai sekarang aku harus lebih hati hati lagi.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah Yunan dan Cassandra pulang ke rumahnya, Laurent bersiap untuk segera pergi makan malam berdua dengan suaminya.
Wanita itu tampak cantik dengan gamis abu-abu dengan kerudung yang senada. Mengenakan sepatu hak tinggi seperti yang sering dilakukan ketika bertemu dengan tamu penting. Sedangkan Zafan, pria itu memakai jas hitam dan celana kain sedikit formal.
"Apa kita bisa pergi sekarang?" Memeluk Laurent dari belakang. Menyandarkan dagunya di pundak wanita itu. Keduanya menatap bayangannya dari pantulan cermin..
"Kenapa sih, tumben romantis banget, biasanya juga gak pernah seperti ini." Laurent sedikit malu dengan sikap agresif sang suami.
"Gak pa-pa, aku kangen saja, sudah lama kita tidak berduaan seperti ini."
Entah apa yang ada di pikiran Zafan kali ini, ia merasa takut. Takut Laurent tahu tentang dan menyuruhnya untuk segera pergi dari rumah itu.
"Seandainya aku punya kesalahan yang sangga fatal, apa kamu akan memaafkanku?" Zafan bertanya dengan nada serius.
Laurent mengangguk tanpa suara. Saking cintanya dengan Zafan, ia selalu mengikuti apa saja yang dikatakan pria itu, membuka hatinya lebar-lebar untuk memaafkan segala kesalahannya.
"Apa kita bisa pergi sekarang?'' Menggandeng tangan Laurent dan mengajaknya keluar.
Sebelum pergi, mereka izin kepada Layin dan Erlan. Menitipkan Akram kepada mereka berdua.