
Bab. 44
Sementara itu, di dalam sebuah taxi yang sedang melaju di jalanan ibu kota, tampak seorang wanita yang duduk lemas di bagian kursi belakang taxi tersebut. Membuat sopir yang melihatnya dari kaca depan pun sedikit takut sekaligus khawatir. Takut jika disangka berbuat yang tidak-tidak. Padahal sedari penumpangnya ini masuk, memang sudah seperti ini keadaannya.
"Non, apa Nona baik-baik saja?" tanya pak sopir itu sedikit cemas.
Dilla yang mendengar dan masih sadar pun menggeleng.
"Nggak tau ini Pak. Kok rasanya pusing banget kepala saya," jawab Dilla jujur.
Pasrah sudah apa yang akan terjadi kepada dirinya kalau sampai sopir ini berbuat yang iya iya kepada dirinya. Seperti apa yang dulu pernah Dilla alami ketika sembarangan naik ojek dan malah kembali bertemu dengan Kendra. Hingga terjadilah kejadian yang masih benar-benar membekas hingga sekarang.
Mendengar jawaban seperti itu, membuat pak sopir semakin takut.
"Kalau begitu saya antar ke klinik depan dulu saja ya, Non?" tawar pak sopir. "Karena kalau ke rumah sakit masih jauh. Rumah yang Nona sebutkan juga masih sangat jauh. Gimana?" jelas pak sopir.
Bukan karena apa. Dia mencari rejeki yang berkah. Serta juga mempunyai anak perempuan. Niatnya hanya ingin menolong, dengan balasan agar nanti anaknya jika menemui kesulitan ada juga orang yang mau menolongnya. Sesimpel itu pikiran sopir taxi tersebut.
Dilla yang merasa kepalanya semakin pusing dan pandangannya seolah berputar pun menurut saja. Dilla mengabaikan dering yang ada di ponselnya. Pasti papa yang menelponnya dan menyuruh untuk segera cepat-cepat datang ke kantor.
"Iya deh, Pak. Tapi nanti ditungguin kan? Soalnya orang rumah jam segini masih sibuk," ujar Dilla.
"Beres mah kalau itu, Non," sahut pak sopir. Yang terpenting penumpangnya ini tidak kenapa-napa dan dirinya bisa terbebas dari perasaan tidak nyaman.
Kemudian sopir tersebut melakukan mobilnya menuju klinik yang tampak sedikit. Tidak butuh waktu banyak, taxi yang ditumpangi oleh Dilla pun berhenti dan terparkir sempurna di depan klinik tersebut.
Dilla mengangguk. "Iya, Sus. Tiba-tiba tubuh saya terasa aneh. Tadi habis muntah-muntah terus sekarang kepala saya pusing banget. Padahal pagi tadi baik-baik saja loh," ungkap Dilla.
Seorang wanita berjilbab yang ada di depannya pun mengangguk paham.
"Kalau begitu, ini nomor antrian anda, Nona. Silahkan menunggu di sana. Kemungkinan masih kurang dua orang lagi, baru giliran anda," ujar wanita berjilbab tersebut dengan tersenyum ramah.
Dilla pun menerima nomor antrian itu. Lalu berpindah duduk di tempat dan bergabung dengan beberapa orang yang sedang menunggu antrian di sana.
Tidak berapa lama Dilla duduk di sana. Ponselnya kembali berdering. Kali ini entah mengapa Dilla ingin tahu siapa sebenarnya yang sedari tadi menghubungi dirinya.
Namun sayangnya dering ponsel itu berhenti ketika sudah ada di tangan Dilla. Kening wanita itu mengernyit di kala mendapati nama Kendra di sana.
Ada lima belas panggilan tak terjawab dengan nama yang sama, juga ada sepuluh pesan masuk dengan orang yang sama juga.
"Buset, ini orang kenapa tiba-tiba aja neror kayak gini?" gumam Dilla sedikit terkejut.
Pasalnya selama satu minggu ini mereka tidak ada kontak komunikasi dalam bentuk apapun. Membuat Dilla heran.
Kebanyakan isi pesan yang Kendra kirim ialah menanyakan keberadaan dirinya saat ini dan bagaiman kondisinya.
"Kesambet kali ni orang," gumam Dilla lagi setelah membaca pesan dari Kendra.
Tidak ada niat untuk menghubungi balik atau membalas pesan dari pria itu. Dilla mengabaikannya.