Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 74. Tangan Nakal



Bab. 74


Kendra menjambak rambutnya sendiri. Seolah tengah merasa frustasi dengan aoa yang baru ia tahu. Bisa-bisanya mamanya itu memberitahu Dilla lebih dulu mengenai dirinya.


Oke, kalau begini alurnya, aku nggak perlu pura-pura lagi. Batin Kendra.


Kendra menarik napas panjang, lalu menghembuskan nya dengan sangat kasar. Menatap tajam ke arah pintu kamar Dilla.


"Pa, boleh Kendra rusak pintunya?" tanya Kendra menoleh ke arah papanya. Di mana pria itu langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Jangan ngawur kamu, Kend!" sentak bu Mawar tidak setuju dengan apa yang akan Kendra lakukan.


"Ya terus gimana caranya Kendra masuk, Ma? Sedangkan istri Kendra di dalam sedang marah," rengek Kendra dengan wajah kasihan.


Papa Atmadja menahan tawa melihat pria muda yang sangat tangkas di dunia bisnis, namun bisa bersikap seperti ini hanya karena masalah perempuan. Benar-benar putrinya tidak salah mendapatkan pria kali ini.


"Papa ada kunci cadangan," ucap papa Atmadja.


Kemudian papa Atmadja menyuruh asistennya untuk mengambil kunci tersebut. Lalu memberikannya kepada sang menantu.


"Makasih, Pa," ucap Kendra setelah menerima kunci tersebut.


"Jangan keras-keras. Masih banyak orang di sini," ingat bu Mawar pada putranya. Kendra menyengir mengenai pesan mamanya barusan.


"Kendra nggak bisa janji, Ma," balas Kendra.


Kemudian dua orang paruh baya tersebut meninggalkan sang pengantin baru yang tengah menggebu. Tidak mengganggu lagi.


Sedangkan Kendra sendiri langsung membuka pintu kamar sang istri. Ia tidak mau di hari pertama mereka menikah, ia tidur di luar dengan kondisi yang begitu memalukan.


"Sayang," panggil Kendra seraya masuk ke dalam sambil menyeret koper yang berisi beberapa pakaiannya.


Tidak ada sahutan dari Dilla. Lalu Kendra melangkah lebih masuk lagi. Ia melihat istrinya itu tengah berbaring di atas ranjang.


Dilla sudah tahu semua. Untuk apa dirinya berpura-pura lagi. Ia akan menjadi dirinya sendiri mulai sekarang. Toh, mereka sudah sah dan Kendra bebas mau melakukan apa saja.


Kakinya melangkah ke arah ranjang tanpa bersuara lagi. Sedangkan tangannya menarik tali yang ada di pinggang jubah mandi yang ia kenakan. Lalu melepas dan melemparnya secara asal. Hingga kini tubuh Kendra tampak polos.


Pria itu naik ke atas ranjang, dan membaringkan tubuhnya di belakang Dilla. Karena posisi Dilla tengah membelakangi pintu.


"Sayang ... kamu tidur?" tanya Kendra seraya menyentuh lengan Dilla dari bawah lalu mengarah ke atas.


Namun, Kendra tidak mendapat balasan apapun dari Dilla. Pria itu menghembuskan napasnya. Wanita ini begitu cepat terlalap. Padahal dirinya di luar menahan malu yang teramat sangat.


"Kamu beneran tidur? Hmm?" Kendra mencoba untuk membangunkan Dilla lagi dengan cara mencium leher wanita itu yang bebas.


Tetap saja, ia tidak mendapat respon dari Dilla. Hingga membuat Kendra begitu gemas.


"Oke, kalah kamu nggak mau bangun, aku yang akan membangunkanmu dengan caraku," ucap Kendra.


Di detik selanjutnya pria itu mengecupi bahu Dilla yang terekspos lalu juga menarik talian yang ada di atas bahu dan menurunkan kain yang menghalangi matanya untuk melihat keindahan tubuh sang istri.


Sementara bibirnya yang terus memberi kecupan demi hisapan di bagian leher dan bahu, tangannya pun mulai merambah ke depan.


Kendra tersenyum saat tangannya masih sangat hapal sekali tempat di mana yang menjadi kesukaannya.


"Makin besar dan lebih kencang," komentarnya begitu frontal di saat meremas bagian yang ia sukai. Tidak hanya tangannya saja, tetapi mulutnya juga sangat suka di tempat itu. Lebih lagi ujungnya yang mulai mengeras.


Ah! Rasa-rasanya ia ingin cepat-cepat melakukan penyatuan jiwa dan raga. Namun, jika keadaan sang istri masih terlelap, apakah itu bisa disebut dengan pemerkosa*an?


"Bodo amat. Ini semua sudah jadi milikku. Bayaran yang sangat setimpal dengan apa yang aku punya," elak Kendra yang membenarkan pemikiran laknatnya tersebut.


Hayoo ... di sapu dulu sana otaknya. Biar nggak kotor. Wkwkwk. Selamat malam nifsu sa'ban, Ayang Ayang Yuta. Banyakin baca surah Yasin ya, nanti. Biar setimpal. Eh^^