
Bab. 36
Dengan segera Dilla mendorong tubuh Kendra di saat pria itu terus menyatukan mereka. Bahkan tanpa memberi dirinya untuk mengambil napas barang sejenak.
"Jangan kurang ajar ya, Bapak!" bentak Dilla yang masih terbilang sopan. Sebab tidak memanggil Kendra dengan sebutan binatang yang biasa wanita itu sematkan jika sedang kesal dengan seseorang.
Sementara Kendra mengusap bibirnya sendiri yang terasa sedikit perih, karena mendapat luka dari gigitan Dilla barusan.
'Memang dasarnya dia ganas banget,' batin Kendra.
Padahal di sini yang salah ialah dirinya sendiri. Tidak tahan melihat Dilla dari dekat, terlena dengan kecantikan wanita itu, tanpa babibu, ia langsung nyosor begitu saja.
"Maaf. Tadi kamu menggoda banget," ujar Kendra yang semakin membuat Dilla bertambah kesal.
"Siapa yang menggoda siapa, Pak? Tolong sopan sedikit!" ketus Dilla seraya menatap tajam ke arah pria itu dengan napas yang masih tersengal.
Ia memang sangat menyukai sentuhan dari pria. Tetapi bukan ciuman yang seperti ini. Justru ini baru pertama Dilla rasakan bersama pria yang kini mengusap darah yang mengalir di bagus bibir bawah pria tersebut. Karena sebelumnya ia tidak pernah melakukan penyatuan bibir dengan siapapun meskipun sering menerima belaian lembut dari para prianya.
"Saya ini mahasiswa Bapak, loh! Kalau Bapak lupa." ingat Dilla lagi perihal status mereka.
"Tapi kamu juga ibu dari calon anakku," sahut Kendra cepat yang tidak mau kalah.
Tidak ada rasa bersalah sedikit pun yang Kendra rasakan. Entah kenapa ia berubah semakin kurang ajar saja jika berada di dekat wanita itu.
"Siapa juga yang mau jadi ibu dari an ...."
Dilla tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba saja ia lupa akan sesuatu.
'Maaf sayang ... maaf. Mami hampir melupakanmu,' ucap Dilla di dalam hati. Menatap ke arah perut, tanpa berani mengusapnya lagi. Bisa-bisa pria itu akan salah paham kepadanya.
Dilla teringat jika di rahimnya ada bibit dari pria yang sekarang ada di hadapannya. Juga melupakan barang sejenak keberadaan bibit tersebut.
Kendra menatap Dilla yang langsung terdiam dan justru menatap ke arah perutnya sendiri.
Pria itu juga penasaran dengan Dilla. Apakah wanita itu hamil atau tidak.
"Bukan urusan anda!" jawab Dilla sinis.
Kemudian Dilla berjongkok dan merapikan lagi lembar jawaban yang berserakan di lantai.
Pun dengan Kendra yang langsung sigap membantu. Merapikan bersama akan lebih cepat selesai.
Namun, Kendra tidak fokus dengan lembar jawaban yang di lantai, melainkan pria itu fokus ke arah Dilla yang tampak begitu santai.
"Nggak takut hamil?" tanya Kendra lagi.
Kali ini dengan intonasi nada suara yang lembut. Menatap intens wanita yang ada di depannya saat ini.
Dilla terdiam. Tidak segera menjawab. Baru setelah lembar jawaban yang tadi dia bawa rapi kembali, wanita itu menatap ke arah Kendra dan segera berdiri.
"Justru itu tujuan saya," balas Dilla. Membuat alis Kendra hampir menyatu.
"Kenapa nggak sama kekasihmu?" cecar Kendra lagi.
Mengikuti langkah kaki Dilla yang mengarah ke meja kerjanya. Menaruh lembar jawaban di atas meja lalu kemudian berbalik badan dan berniat untuk keluar dari ruangannya. Namun, dengan segera Kendra menghalangi. Menuntut jawaban dari Dilla.
Dilla liriknya malas. Akan tetapi menjawab pertanyaan Kendra juga.
"Mereka sering melakukan penyatuan bebas," ujar Dilla jujur. "Aku nggak mau punya anak salah satu dari mereka," lanjutnya lagi.
Semakin membuat Kendra penasaran dan juga bingung. Ada berapa pria yang sedang di kencani oleh Dilla. Kalau memang tahu kekasihnya sering berhubungan dengan wanita lain, kenapa tidak ada raut marah ataupun cemburu sedikit pun.
"Nggak marah?"