Hidden CEO

Hidden CEO
Ch. 73. Di Usir



Bab. 73


"Mmm ... ka-kamu memangnya mau minta apa dariku, Honey. Aku cuma punya tabungan yang tak seberapa, sama motor yang aku pakai biasanya itu. Sedangkan rumah, milik Mama. Terus mobil yang aku pakai pun juga bukan milikku. Kamu mau ambil semua yang nominalnya nggak seberapa dibanding dengan punyamu?" tanya Kendra yang masih memberi alasan.


Sedangkan Dilla menutup mulutnya, menatap intens pria yang sedang berbohong kepada dirinya saat ini. Dilla berpikir, jika Kendra memaksa dirinya agar segera menikah itu karena mengincar anaknya.


Buktinya, sampai sekarang pria itu tetap tidak mau jujur kepadanya. Padahal apa susahnya langsung berkata yang sebenarnya. Siapa dia sesungguhnya. Tidak harus dirinya yang curiga dan malah mengetahui faktanya dari orang lain. Bukan dari mulut Kendra sendiri. Membuat Dilla meragukan kesungguhan Kendra.


"Keluar," ucap Dilla dengan nada lirih. Ia cukup lelah untuk marah-marah lagi.


Sementara Kendra menatap bingung dengan maksud Dilla barusan.


"Maksudnya, Honey? Mas disuruh keluar untuk ambilin makanan? Dengan memakai jubah ini aja?" tanya Kendra memastikan ulang.


Dilla yang sudah sangat lelah, turun dari ranjang lalu menarik tangan Kendra agar turun juga dari ranjang.


Meskipun bingung, namun Kendra tetap menurut. Hingga mereka sampai di dekat pintu kamar, Kendra berusaha untuk memastikan ulang lagi.


"Ini beneran aku disuruh keluar dengan penampilan seperti ini, Honey?" tanya Kendra sembari menatap penampilannya sendiri. "Nggak lucu dong. Nanti kalau mereka pada mau sama aku gimana? Kamu rela memangnya?" cecar pria itu sedikit panik ketika melihat raut muka Dilla yang menyeramkan.


"Terserah kamu!" balas Dilla dengan tatapan begitu kesal.


Lalu menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Sampai-sampai membuat beberapa sanak saudara yang berada di dekat kamarnya pun tersentak kaget. Dan lebih kaget lagi ketika melihat penampilan sang pengantin laki-laki yang hanya mengenakan jubah mandi pun menjadi sorotan seketika.


Kendra benar-benar malu diperhatikan dengan penampilan seperti itu. Ingin turun, tetapi itu pilihan yang sangat tidak mungkin Kendra pilih. Sebab, masih banyak orang di bawah sana yang tengah membereskan sisa acara tadi.


Beruntung, Kendra melihat mama nya yang menaiki anakan tangga bersama besannya, papa Atmadja.


Mereka tersentak kaget ketika melihat Kendra berada di depan kamar Dilla dengan penampilan itu.


Kendra mengangkat kedua bahunya. "Seperti yang Mama lihat. Ulah menantumu," Adu Kendra pada sang mama.


"Dilla yang mengusirmu?" tanya papa Atmadja sedikit sangsi.


"Iya, Pa. Nggak tau kenapa tiba-tiba dia ngusir Kendra karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Katanya. Padahal Kendra sendiri nggak tau inti permasalahannya apa," ungkap Kendra lagi.


"Apa kau pernah mengatakan sesuatu kepadanya? Terus nggak kau tepati?" tanya papa Atmadja membuat Kendra menelan Salivanya susah. "Karena setahu Papa, Dilla nggak akan bertindak seperti itu jika nggak ada pemicunya." imbuh papa Atmadja.


Kendra meringis, membenarkan ucapan papa mertuanya yang lebih bahan mengenai sifat putrinya. Sementara bu Mawar merasa bersalah. Karena dirinya Dilla menjadi mengetahui siapa sebenarnya Kendra. Dan kemungkinan menantunya itu merasa kecewa karen dibohongi.


"Maafkan Mama, Kend," cicit bu Mawar membuat Kendra dan pak Atmadja menatap heran. Ke apa juga bu Mawar tiba-tiba meminta maaf.


"Mama kenapa memangnya?" tanya Kendra penasaran.


Sedangkan bu Mawar terdiam sejenak. Tidak langsung memberi jawaban.


"Dilla sudah tahu semuanya," ucap bu Mawar dengan suara lirih.


"Maksudnya?" desak Kendra.


"Tahu kalau kamu seorang CEO di Red Bird Company."


Jedar!


Bak disambar petir di siang bolong seperti ini dan di hari pernikahannya pula. Membuat Kendra lemas seketika.